Fosil Rahang 9 Milimeter Ini Mengubah Cara Ilmuwan Membaca Evolusi Reptil Purba

Author: Cung Media

Sebuah fosil rahang yang panjangnya bahkan tak sampai 9 milimeter membuka petunjuk baru tentang evolusi awal reptil purba dari garis lepidosaur. Temuan kecil ini memberi data yang jauh lebih lengkap untuk memahami Cargninia enigmatica, spesies yang sebelumnya hanya dikenal dari satu fragmen rahang bawah.

Selama bertahun-tahun, posisi evolusi reptil ini sulit diuji secara meyakinkan karena bahan yang tersedia terlalu terbatas. Kini, tambahan satu rahang bawah kiri dari situs yang sama di Brasil membuat para peneliti bisa melihat anatomi yang sebelumnya tersembunyi.

Fosil kedua yang jauh lebih informatif

Cargninia enigmatica pertama kali dideskripsikan pada 2010 dari fragmen tulang dentari kiri. Spesimen awal itu cukup kecil, tetapi belum memberi gambaran utuh tentang bentuk rahang dan hubungan evolusinya.

Fosil baru ditemukan di Linha São Luiz, Faxinal do Soturno, Negara Bagian Rio Grande do Sul, Brasil. Rahang bawah kiri itu menyimpan 12 gigi, dan para peneliti memperkirakan dentari lengkapnya mungkin memiliki hingga 18 gigi.

Fakta Fosil Rincian
Spesimen Rahang bawah kiri Cargninia enigmatica
Panjang fosil Kurang dari 9 milimeter
Jumlah gigi yang terlihat 12 gigi
Perkiraan jumlah gigi dentari lengkap Hingga 18 gigi
Lokasi temuan Linha São Luiz, Faxinal do Soturno, Rio Grande do Sul, Brasil

Para peneliti menyebut Cargninia enigmatica masih menjadi satu-satunya perwakilan yang diketahui dari garis keturunan ini di lapisan batuan Brasil. Karena itu, setiap detail baru dari fosil ini langsung penting untuk memetakan posisinya di pohon evolusi.

Mikro CT mengungkap jalur saraf yang tersembunyi

Untuk memeriksa spesimen tanpa merusaknya, tim menggunakan pemindaian mikro CT. Teknik ini memperlihatkan struktur internal rahang yang tidak bisa diamati secara langsung pada fosil sekecil itu.

Hasilnya menunjukkan jalur saraf trigeminal, saraf yang berperan dalam sensasi wajah dan pergerakan rahang. Menurut laporan di The Anatomical Record, pola percabangan saraf tersebut sangat mirip dengan lepidosaur yang masih hidup hingga sekarang.

Temuan itu memberi petunjuk bahwa reptil purba ini mungkin memproses informasi sensorik trigeminal dengan cara yang mendekati kerabat modernnya. Informasi anatomi seperti ini sebelumnya tidak dapat diperoleh dari fragmen pertama yang ditemukan pada 2010.

Posisinya kini makin jelas di pohon evolusi

Saat spesies ini pertama kali dideskripsikan, ukuran giginya yang sangat kecil, sekitar 0,4 hingga 0,5 milimeter dari depan ke belakang, serta pola implantasi subakrodon membuatnya diidentifikasi sebagai lepidosaur non rinkosefalia. Peneliti juga mencatat kemiripan pola implantasi gigi Cargninia dengan Icarosaurus, reptil kuehneosaurid dari Formasi Lockatong pada Trias Akhir di Amerika Serikat.

Untuk pertama kalinya, spesies ini kemudian dimasukkan ke dalam analisis filogenetik berskala besar. Hasilnya, Cargninia enigmatica secara konsisten muncul sebagai lepidosauromorf non lepidosaur, sehingga memperkuat dugaan sebelumnya tentang posisinya dalam evolusi reptil.

Studi ini juga menegaskan bahwa sejarah awal Lepidosauromorpha masih menyimpan banyak pertanyaan. Lepidosauromorpha dan Archosauromorpha berpisah menjelang akhir periode Permian, tetapi sejumlah anggota awal garis keturunan lepidosauromorf masih belum punya posisi yang benar-benar jelas di pohon evolusi.

Cargninia enigmatica hidup pada awal masa Norian di periode Trias Akhir. Saat itu, ia berbagi habitat dengan dinosaurus awal, kerabat mamalia, reptil primitif kerabat buaya, dan beberapa kerabat awal tuatara.

Terbaru