Forum Kesetaraan dan Keadilan Gender (FKKG) Jawa Tengah mendorong keterlibatan laki-laki dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dorongan itu muncul karena angka korban di wilayah tersebut masih tinggi, sementara pencegahan selama ini dinilai lebih banyak menyasar perempuan.
Data yang disampaikan FKKG menunjukkan, pada Januari sampai November 2025 tercatat 2.633 korban kekerasan di Jawa Tengah. Dari jumlah itu, 1.075 merupakan perempuan dan 1.558 adalah anak.
Ketua FKKG Jawa Tengah, Tsaniyatus Solihah, menyebut angka kekerasan di Jawa Tengah masih masuk lima besar nasional. Ia menyampaikan hal itu saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (21/4/2026).
Laki-laki dianggap belum cukup tersentuh edukasi
Selama ini, sejumlah upaya pencegahan dan penanganan kekerasan banyak melibatkan perempuan, termasuk lewat kelompok seperti PKK. Namun, FKKG menilai pendekatan itu belum memadai jika laki-laki belum mendapat edukasi yang sama kuatnya.
Tsaniyatus menilai laki-laki perlu dilibatkan lebih aktif agar pencegahan berjalan efektif. Menurut dia, masih banyak laki-laki yang belum paham bahwa tindakan tertentu sudah masuk kategori kekerasan.
Ia memberi contoh sikap membentak yang sering dianggap biasa dalam relasi rumah tangga. Padahal, perilaku seperti itu bisa membentuk hubungan yang tidak sehat dan berdampak pada perempuan maupun anak.
Pencegahan tidak cukup berhenti di program
FKKG Jawa Tengah melihat edukasi pencegahan kekerasan perlu dibuat lebih luas dan menyasar laki-laki secara langsung. Perubahan perilaku, menurut FKKG, tidak akan cukup bila kampanye hanya berhenti pada kegiatan seremonial.
Tsaniyatus menekankan bahwa pencegahan harus menyentuh kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang kekerasan verbal dan emosional perlu diperjelas agar masyarakat tidak meremehkannya.
Ia juga menyebut kekerasan dalam rumah tangga masih tinggi meski sejumlah langkah pencegahan sudah dijalankan di daerah. Kondisi itu menunjukkan bahwa kerja pencegahan perlu terus diperkuat dari sisi edukasi dan pelibatan warga.
Garpu Perak sudah digerakkan, tetapi pelaksanaan dinilai belum kuat
DP3AP2KB melalui FKKG Jateng telah menginisiasi gerakan pria peduli perempuan dan anak atau Garpu Perak pada 2022. Gerakan ini kemudian diperkuat dengan surat edaran dari Pemprov Jateng agar kabupaten dan kota membentuk Garpu Perak di daerah masing-masing.
Tsaniyatus menyebut Kota Semarang sudah membentuk gerakan itu pada 2023. Sejumlah daerah lain, termasuk Kabupaten Pati, juga disebut telah mengikuti langkah serupa.
Garpu Perak mendorong laki-laki untuk ikut mencegah kekerasan, berpartisipasi dalam kontrasepsi, dan mengambil peran dalam pengasuhan anak. Melalui pendekatan tersebut, laki-laki diharapkan tidak hanya menjadi sasaran imbauan, tetapi juga bagian dari solusi.
Meski begitu, FKKG menilai pelaksanaannya di lapangan belum berjalan kuat. Tsaniyatus mengatakan gerakan itu masih lebih sering dipahami sebagai program, bukan kesadaran yang benar-benar melekat di kalangan OPD maupun masyarakat.
Kesadaran publik jadi tantangan utama
FKKG Jawa Tengah menilai tantangan terbesar bukan hanya membentuk program, tetapi memastikan pesan perlindungan perempuan dan anak benar-benar dipahami masyarakat. Tanpa perubahan cara pandang, pencegahan kekerasan berisiko berhenti pada kegiatan formal tanpa dampak yang luas.
Karena itu, FKKG mendorong edukasi kepada laki-laki dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Fokusnya adalah membangun pemahaman bahwa pencegahan kekerasan bukan hanya urusan perempuan, melainkan tanggung jawab bersama dalam keluarga dan lingkungan sosial.
Upaya ini dinilai penting agar laki-laki lebih peka terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang kerap luput dari perhatian. Dengan pemahaman yang lebih luas, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah diharapkan bisa berjalan lebih kuat dan lebih menyentuh kehidupan sehari-hari.
Source: regional.kompas.com






