Dua arus besar teknologi bertemu dalam satu obrolan yang sama: perangkat kesehatan tanpa layar dan peringatan keras soal kecerdasan buatan. Fitbit Air yang baru dari Google dan ensiklik pertama Paus Leo sama-sama menyorot pertanyaan yang makin penting, yaitu teknologi seperti apa yang ingin dipakai manusia ke depan.
Di satu sisi, pasar wearable bergerak menjauh dari layar penuh notifikasi dan menuju perangkat yang lebih pasif. Di sisi lain, perdebatan tentang AI bergeser dari urusan produk dan model ke persoalan etika, martabat manusia, dan kekuatan raksasa teknologi.
Fitbit Air menantang arah baru wearable
Dalam pembahasan Engadget Podcast, Fitbit Air diposisikan sebagai wearable tanpa layar yang disiapkan Google untuk bersaing dengan Whoop. Perangkat ini dibaca sebagai alat kesehatan untuk era AI, bukan sekadar aksesori gaya hidup.
Pendekatan itu menunjukkan perubahan besar di pasar wearable. Fokusnya kini bukan hanya pada jam pintar yang sibuk menampilkan notifikasi, tetapi pada perangkat ringkas yang bekerja di latar belakang untuk memantau kebugaran dan pemulihan tubuh.
Persaingan dengan Whoop juga menegaskan arah yang diambil Google lewat Fitbit. Fitbit Air dibuat untuk pengguna yang ingin fungsi inti kesehatan tanpa gangguan layar, sekaligus memperkuat posisi Fitbit di segmen perangkat kesehatan yang makin spesifik.
AI memicu kritik dari Vatikan
Di saat yang sama, podcast itu menyorot ensiklik pertama Paus Leo yang secara tegas menempatkan AI dan kekuatan Big Tech dalam sorotan. Dokumen tersebut menekankan perlunya menahan dominasi teknologi dan memusatkan perhatian kembali pada manusia.
Judul ensiklik, Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence, sudah memberi arah yang sangat jelas. Isinya tidak berhenti pada peringatan, tetapi menjadikan perlindungan martabat manusia sebagai prinsip utama dalam menghadapi perkembangan AI.
Yang membuat kritik ini menonjol adalah sumbernya. Suara keras terhadap AI datang dari Vatikan, sehingga isu tersebut tidak hanya dibaca sebagai persoalan industri, tetapi juga sebagai pertanyaan etika dan nilai kemanusiaan.
Jembatan antara gereja dan dunia teknologi
Engadget juga mengundang Fr. Robert Ballecer, atau “Padre” the Digital Jesuit, untuk membahas ensiklik itu. Sebagai imam Jesuit yang akrab dengan teknologi, ia memberi konteks tentang bagaimana gagasan serupa sudah lama berkembang di lingkungan Vatikan.
Kehadirannya membantu menjembatani dua dunia yang sering dianggap berjauhan. Di satu sisi ada gereja dan etika, sementara di sisi lain ada budaya teknologi yang bergerak cepat dan sering menonjolkan skala serta efisiensi.
Percakapan tersebut memperkuat kesan bahwa kekhawatiran terhadap AI kini semakin luas. Yang dipersoalkan bukan hanya kemampuan model atau kecepatan produk baru, tetapi juga soal siapa yang diuntungkan dan siapa yang perlu dilindungi.
Isu teknologi lain ikut mengisi percakapan
Selain Fitbit Air dan kritik Paus Leo, episode itu juga menyinggung beberapa kabar teknologi lain yang ramai dibahas. Di antaranya kenaikan harga Steam Deck untuk model 1TB sebesar $300 atau hampir 50%, serta peluncuran ponsel Trump Mobile yang langsung disusul kebocoran data pelanggan.
Ada juga pembahasan soal skema berbayar Meta untuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Segmen “Around Engadget” dan “Pop culture picks” kemudian menutup episode dengan pembaruan internal dan rekomendasi ringan.
Episode ini dipandu oleh Devindra Hardawar dan Cherlynn Low, dengan Fr. Robert Ballecer sebagai tamu. Produksinya ditangani Ben Ellman, sementara musiknya digarap Dale North dan Terrence O’Brien.
Kombinasi ulasan Fitbit Air dan kritik Paus Leo membuat episode ini terasa relevan bagi pembaca yang mengikuti wearable kesehatan sekaligus debat etika AI. Di tengah pasar yang makin dipenuhi produk berbasis kecerdasan buatan, pertanyaan tentang manfaat, kendali, dan kemanusiaan justru semakin sulit diabaikan.







