Fabregas Ingat Siksaan Fisik Conte, Kini Jadi Senjata Rahasia Como Lawan Napoli

Cesc Fabregas kembali jadi pusat perhatian jelang laga Como melawan Napoli di Stadion Giuseppe Sinigaglia. Bukan hanya karena duel itu mempertemukan dua tim dengan kepentingan besar, tetapi juga karena Fabregas kembali menyinggung metode latihan Antonio Conte yang pernah ia jalani saat masih membela Chelsea.

Cerita itu memberi warna tambahan pada pertemuan ini. Fabregas dan Conte sudah beberapa kali saling berhadapan sejak 2024, dan dari empat duel terakhir, Fabregas memegang keunggulan dengan dua kemenangan, sementara Conte mencatat satu kemenangan dan satu hasil imbang.

Kenangan keras di bawah Conte

Fabregas tidak menutupi bahwa masa bersama Conte meninggalkan jejak kuat dalam kariernya. Ia menggambarkan sang pelatih asal Italia sebagai sosok yang sangat menuntut, terutama dalam aspek fisik dan intensitas latihan.

Pernyataan Fabregas kepada Football-Italia menunjukkan betapa kerasnya standar yang diterapkan Conte. Ia menyebut tidak banyak pelatih yang pernah memberinya beban fisik seberat itu selama karier profesionalnya.

“Akuy belajar banyak dari Antonio,” kata Fabregas kepada Football-Italia. Ia juga mengatakan Conte pernah membuatnya “sangat menderita dalam hal fisik” karena latihan yang selalu menuntut kecepatan penuh dan tempo tinggi.

Pengakuan itu tidak hanya menggambarkan kesan pribadi Fabregas. Pernyataan tersebut juga memperlihatkan bagaimana Conte membentuk pemain lewat disiplin, kerja keras, dan tuntutan fisik yang konsisten.

Bekal yang dibawa ke Como

Pengalaman bersama Conte kini ikut memengaruhi cara Fabregas memimpin Como. Ia tidak meniru metode itu secara mentah, tetapi tetap membawa prinsip kerja keras dan intensitas ke dalam tim yang diasuhnya.

Fabregas menjelaskan bahwa ia menginginkan para pemainnya bekerja keras dalam latihan dan pertandingan. Ia juga mengombinasikan sesi dengan bola dan tanpa bola agar tim tetap punya keseimbangan antara aspek teknis dan fisik.

“Akuy juga menginginkannya dari timku, mungkin dengan cara yang sedikit berbeda, beberapa dengan bola atau tanpa bola,” ujarnya. Dari pernyataan itu terlihat bahwa Fabregas memakai pengalaman lamanya sebagai bahan untuk membangun identitas tim yang lebih sesuai dengan kebutuhan Como.

Pendekatan itu penting karena Fabregas berada di fase awal membangun karier kepelatihan. Ia tampak mengambil pelajaran dari Conte, tetapi tetap menyesuaikannya dengan karakter pemain yang kini ia latih.

Proses adaptasi yang tidak singkat

Fabregas juga mengingat bahwa metode Conte tidak langsung terasa ringan bagi tubuhnya. Ia menilai perlu waktu beberapa bulan sebelum benar-benar terbiasa dengan tuntutan latihan yang begitu keras.

Menurut Fabregas, fase itu justru membentuk kondisinya menjadi lebih kuat. Setelah beradaptasi, ia merasa tubuhnya jauh lebih siap dan performanya meningkat, terutama setelah melewati periode sekitar empat atau lima bulan.

“Memang benar bahwa setelah empat atau lima bulan beradaptasi dengan metode dia, pada Desember aku sangat cepat. Aku secara fisik merasa luar biasa,” kata Fabregas. Ia menambahkan bahwa setelah memahami cara kerja Conte, ia semakin percaya pada pendekatan yang digunakan pelatih tersebut.

Keterangan itu menunjukkan bahwa pengaruh Conte tidak berhenti pada aspek fisik semata. Fabregas juga menyerap mentalitas kerja yang membuatnya yakin terhadap proses latihan dan tuntutan tinggi di level tertinggi.

Duel yang sarat cerita

Menjelang Como kontra Napoli, kisah Fabregas soal Conte membuat laga ini memiliki konteks yang lebih dalam. Pertemuan dua pelatih tersebut tidak hanya soal taktik dan hasil di lapangan, tetapi juga soal warisan metode kerja yang pernah dibentuk dari ruang latihan.

Conte tetap dikenal dengan intensitas tinggi, sementara Fabregas kini membawa sebagian pelajaran itu ke Como dengan versi yang lebih ia sesuaikan. Di tengah persiapan menjelang laga, pengalaman lama Fabregas bersama Conte menjadi salah satu cerita paling menarik yang ikut menyertai duel ini.

Baca Juga

Back to top button