
PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berhasil mencatat lonjakan penjualan bersih 34,1 persen dalam tahun buku 2025. Perusahaan membukukan pendapatan Rp 6,49 triliun, naik dari Rp 4,84 triliun pada periode sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa strategi ERAL untuk keluar dari bayang-bayang bisnis smartphone mulai menunjukkan hasil. Laporan keuangan audited yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia memperlihatkan bahwa ekspansi ke lini usaha lain ikut mendorong pertumbuhan yang lebih seimbang.
Diversifikasi mulai membuahkan hasil
Selama ini, bisnis Erajaya Group kerap dikaitkan erat dengan perangkat komunikasi. Namun, perkembangan terbaru ERAL menunjukkan pergeseran yang lebih luas, dengan portofolio yang kini tidak hanya bertumpu pada smartphone.
Analis pasar saham sekaligus Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai langkah diversifikasi yang ditempuh manajemen terbilang efektif. Ia menyebut bisnis Erajaya kini makin jauh dari ketergantungan pada satu segmen utama.
Menurut Wawan, penambahan merek di berbagai kategori memberi perusahaan peluang lebih besar untuk menangkap perubahan minat belanja masyarakat. “Dengan portofolio brand yang lebih beragam, perusahaan memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan konsumsi di segmen lifestyle yang sedang berkembang,” ujarnya.
Perubahan selera pasar ikut membantu
Kinerja ERAL juga didorong oleh perubahan preferensi konsumen yang semakin terbuka terhadap merek-merek asal Asia. Tren tersebut memperluas ruang gerak perusahaan untuk menjangkau pembeli di segmen yang lebih beragam.
Dari sisi pasar, merek-merek regional kini semakin dekat dengan konsumen urban di Indonesia. Hal itu mencerminkan pola konsumsi yang lebih menerima produk dari Asia Timur maupun kawasan Asia lainnya.
Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menjelaskan bahwa kedekatan itu juga terbentuk dari hubungan dagang Indonesia dengan sejumlah negara Asia. Ia menyebut China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan memiliki posisi penting dalam perdagangan dan teknologi yang membuat brand dari kawasan tersebut makin akrab di mata konsumen.
“China merupakan mitra dagang utama Indonesia, disusul Jepang, dan kini teknologi dari Singapura serta Korea Selatan juga semakin kuat,” kata Nailul Huda. Ia menambahkan bahwa masyarakat jadi semakin mengenal brand-brand dari kawasan tersebut.
Ekspansi merambah lifestyle dan kuliner
Langkah ERAL tidak berhenti pada penjualan perangkat komunikasi. Perusahaan juga memperluas bisnis ke sektor gaya hidup melalui merek seperti ASICS dan Gentlewoman, sekaligus masuk ke kuliner lewat Paris Baguette dan CHAGEE di bawah Erajaya Food & Nourishment.
Perluasan ini membuat pendapatan perusahaan datang dari lebih banyak sumber. Dengan begitu, ERAL tidak bergantung penuh pada satu lini usaha yang sama seperti sebelumnya.
Strategi tersebut juga memperlihatkan arah bisnis yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar. Perusahaan berupaya menangkap belanja konsumen di kategori yang lebih luas, dari produk lifestyle hingga makanan dan minuman.
Tantangan berikutnya ada di efisiensi
Meski penjualan tumbuh kuat, pasar biasanya tidak hanya menilai angka pendapatan. Setelah ekspansi berjalan, perhatian investor cenderung bergeser ke kemampuan perusahaan menjaga efisiensi dan memperbaiki margin keuntungan.
Wawan Hendrayana menilai fase pertumbuhan ini bisa menjadi katalis positif dalam jangka pendek. Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan kinerja akan sangat bergantung pada seberapa rapi perusahaan mengelola biaya operasional di tengah perluasan usaha.
Kombinasi antara kenaikan penjualan, perubahan selera konsumen, dan ekspansi portofolio brand membuat posisi ERAL makin menarik untuk dicermati. Ke depan, pasar akan melihat apakah perusahaan mampu mempertahankan momentum sambil menjaga kualitas profitabilitas di tengah bisnis yang semakin beragam.





