
Prediksi musim kemarau 2026 dan kemunculan El Nino pada Juli hingga September kembali menempatkan kebakaran hutan dan lahan sebagai ancaman serius di banyak daerah rawan. Situasi itu menjadi perhatian utama di Sumatra Selatan, wilayah yang bersiap menghadapi musim kering lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan kemarau 2026 berlangsung bertahap sejak April dan mencapai puncak pada Agustus. Pada periode yang sama, El Nino diperkirakan berkembang pada Juli hingga September, sehingga kekeringan berpotensi makin parah dan titik api lebih mudah muncul.
Tekanan Ganda di Musim Kering
Kondisi kemarau yang memuncak bersamaan dengan El Nino membuat lahan yang sudah mengering berada dalam tekanan tambahan. Jika pengawasan melemah, potensi kebakaran bisa meningkat cepat dan menyebar lebih luas.
Karena itu, pencegahan dini kembali menjadi fokus pemerintah dan para pemangku kepentingan di lapangan. Langkah ini dinilai penting untuk menahan lonjakan karhutla sejak fase awal musim kering.
Sumatra Selatan Perkuat Kesiapsiagaan
Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan menggelar Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Nasional 2026 di Griya Agung, Palembang. Apel itu menjadi salah satu langkah antisipasi menghadapi musim kering yang diperkirakan lebih panjang dari pola normal.
Sekitar 1.600 personel gabungan ikut dalam apel tersebut. Mereka berasal dari TNI, Polri, BPBD, instansi pemerintah, dunia usaha, dan kelompok masyarakat peduli api.
Koordinasi Nasional Diperketat
Apel siaga dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago. Ia menekankan bahwa pengendalian karhutla harus dilakukan lebih dini, lebih cepat, lebih terpadu, dan lebih tegas.
Pemerintah juga mereaktivasi Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Nasional 2026. Langkah itu ditujukan untuk memperkuat koordinasi, pemantauan, penegakan hukum, dan komunikasi publik secara nasional.
Daerah Rawan Tetap Waspada
Sumatra Selatan tetap disebut sebagai wilayah strategis sekaligus rawan karhutla karena memiliki lahan gambut, lahan mineral kering, dan riwayat kebakaran berulang. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla di provinsi itu turun dari sekitar 15.422 hektare pada 2024 menjadi sekitar 5.939 hektare pada 2025.
Hingga April 2026, luas karhutla tercatat sekitar 79,95 hektare. Meski angka itu menurun, pemerintah meminta semua pihak tetap waspada karena kemarau lebih awal dan lebih kering masih bisa memicu kebakaran baru.
Patroli, Deteksi Dini, dan Penegakan Hukum
Pemerintah meminta kepala daerah, Forkopimda, TNI-Polri, BPBD, dunia usaha, dan masyarakat memperkuat patroli terpadu serta deteksi dini hotspot. Kesiapan personel, peralatan, edukasi masyarakat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan juga masuk dalam daftar prioritas.
Pemegang konsesi kehutanan, perkebunan, dan pertambangan ikut diminta mengambil peran di wilayah operasional masing-masing. Keterlibatan mereka dianggap penting agar pencegahan tidak hanya bergantung pada aparat dan pemerintah daerah.
Kesiapan Lapangan di Sumatra Selatan
APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumatra Selatan menampilkan kesiapan sumber daya manusia, teknologi, dan peralatan pemadaman. Kesiapan itu meliputi Regu Penanggulangan Kebakaran, Tim Reaksi Cepat, perangkat pemadam, drone pemantau titik api, Automatic Weather Station, kendaraan patroli, dan sistem komunikasi terintegrasi.
Helikopter APP Group juga melakukan patroli udara di sekitar lokasi apel sebagai bagian dari simulasi kesiapsiagaan. Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, menyebut pendekatan Integrated Fire Management dijalankan lewat empat pilar utama: pencegahan, persiapan, deteksi dini, dan respons cepat.
Pengawasan Berlapis di Wilayah Operasional
Di wilayah operasional mitra APP Group di Sumatra Selatan, terutama OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, pencegahan dijalankan melalui program Desa Makmur Peduli Alam di 31 desa. Program itu melibatkan TNI/Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui kelompok Masyarakat Peduli Api yang berjumlah 633 orang.
Dukungan lapangan juga diperkuat dengan 907 personel RPK dan 48 personel Tim Reaksi Cepat. Mereka didukung 3 helikopter untuk patroli, 2 heli untuk water bombing, 2 unit airboat, 84 speedboat untuk lahan basah, 22 mobil patroli, 27 truk pemadam, dan 155 motor patroli darat.
Sistem deteksi dini berjalan lewat 40 menara api, 81 menara mini portable, 87 pos pantau, drone, dan CCTV. Semua pemantauan itu terhubung dalam 31 situation room yang beroperasi 24 jam dan berbasis data satelit secara real-time.
Dengan kemarau yang diperkirakan mencapai puncak pada Agustus dan El Nino yang diprediksi hadir pada Juli hingga September, kewaspadaan di lapangan menjadi kunci. Pemerintah dan pihak swasta sama-sama berharap rangkaian kesiapsiagaan itu bisa menekan potensi karhutla sejak awal.
Source: www.medcom.id




