Fenomena El Nino kuat diperkirakan kembali memengaruhi Indonesia dan bukan hanya lewat cuaca yang lebih panas atau kemarau yang lebih panjang. Dampaknya juga bisa terasa pada kesehatan masyarakat, terutama melalui peningkatan risiko ISPA, demam berdarah dengue, serta penyakit yang muncul akibat air tercemar.
Istilah El Nino Godzilla bukan istilah ilmiah resmi, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berpengaruh luas. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini dapat menurunkan curah hujan, memperpanjang musim kering, dan menaikkan suhu udara sehingga memperbesar peluang munculnya berbagai penyakit.
Mengapa kondisi ini perlu diwaspadai
Data dalam artikel referensi menyebut peluang terjadinya El Nino pada paruh kedua periode yang dibahas berada di kisaran 50 persen hingga 80 persen dengan intensitas lemah sampai moderat. Meski peluang kategori sangat kuat masih di bawah 20 persen, para pakar tetap menilai situasi ini perlu diantisipasi sejak dini.
World Health Organization atau WHO juga mengingatkan bahwa El Nino dapat memicu dampak berlapis terhadap kesehatan. Dampak itu mencakup peningkatan penyakit menular, malnutrisi, tekanan pada layanan kesehatan, dan memburuknya penyakit kronis yang sudah ada.
Risiko kesehatan yang ikut naik
Cuaca yang makin kering bisa memperburuk kualitas udara karena polutan lebih lama bertahan di atmosfer. Jika kebakaran hutan dan lahan terjadi, asap dapat menyebar lebih jauh dan membuat keluhan pernapasan meningkat.
Paparan udara kering dan polusi dapat memicu asma, bronkitis, sinusitis, mimisan, serta dehidrasi. WHO juga menjelaskan bahwa panas ekstrem bisa memperparah gangguan kardiovaskular, masalah pernapasan, diabetes, dan meningkatkan risiko cedera ginjal akut.
- ISPA dan gangguan pernapasan akibat udara kering dan asap.
- DBD karena suhu lebih tinggi mempercepat perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
- Malaria di wilayah dengan kondisi lingkungan yang mendukung.
- Diare, tifoid, dan kolera dari air yang tercemar.
- Leptospirosis dari air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan pengerat.
DBD lebih mudah menyebar saat suhu meningkat
Suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa. Kondisi ini membuat risiko penularan demam berdarah meningkat, terutama di wilayah padat penduduk dengan pengelolaan lingkungan yang buruk.
Perubahan iklim juga membuat pola penyebaran penyakit berbasis vektor makin sulit diprediksi. Saat suhu, kelembapan, dan ketersediaan air berubah, wilayah yang sebelumnya aman bisa ikut terdampak jika pengendalian nyamuk tidak dilakukan secara konsisten.
Air bersih makin langka, penyakit pencernaan ikut mengintai
Kemarau panjang tidak hanya mengurangi pasokan air, tetapi juga bisa menurunkan kualitasnya. Saat sumber air terbatas, masyarakat berisiko memakai air yang tidak layak, sehingga peluang penularan penyakit meningkat.
Diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Geneva Solutions, mengutip peringatan WHO, menyebut risiko penyakit berbasis air seperti kolera dapat meningkat tajam, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Kelompok rentan yang perlu diperhatikan
Anak-anak termasuk kelompok paling rentan saat El Nino ekstrem terjadi. Tubuh mereka lebih cepat lelah saat terpapar panas, sementara daya tahan tubuh yang belum sekuat orang dewasa membuat mereka lebih mudah terserang infeksi.
Kekeringan juga dapat mengganggu hasil pertanian dan pasokan pangan, sehingga risiko malnutrisi ikut meningkat. Kondisi ini membuat dampak El Nino tidak berhenti pada cuaca, tetapi juga menyentuh ketahanan pangan dan kesehatan keluarga.
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan
- Pantau kualitas udara, terutama saat ada kebakaran hutan dan lahan.
- Kurangi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi atau cuaca sangat panas.
- Gunakan masker saat udara tercemar asap atau debu.
- Pastikan air minum berasal dari sumber yang aman dan bersih.
- Jaga kebersihan lingkungan agar tidak ada genangan air.
- Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk cuci tangan.
- Periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul demam tinggi, sesak napas, diare, atau tanda dehidrasi.
WHO mendorong negara-negara memperkuat surveilans penyakit dan sistem peringatan dini cuaca ekstrem agar respons bisa dilakukan lebih cepat. Di Indonesia, kesiapsiagaan menjadi penting karena ancaman El Nino bukan hanya soal suhu panas, tetapi juga soal kesehatan publik, ketersediaan air bersih, dan kemampuan mencegah lonjakan penyakit di tengah musim kering yang berkepanjangan.
Source: www.beritasatu.com






