Ekspor RI Tak Runtuh Merata, Tekanan Justru Terkunci di Segelintir Komoditas

Pelemahan ekspor non-migas Indonesia pada Mei 2026 ternyata tidak terjadi merata. Tekanan terbesar justru terkonsentrasi pada beberapa komoditas utama, sementara kinerja ekspor secara kumulatif masih tetap menunjukkan pertumbuhan.

Gambaran ini penting karena penurunan bulanan yang terlihat tajam tidak otomatis berarti seluruh mesin ekspor sedang melambat. Di saat sejumlah komoditas tertekan, data juga masih memperlihatkan bahwa fondasi ekspor Indonesia belum sepenuhnya goyah.

Tekanan terbesar datang dari komoditas tertentu

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan ekspor non-migas pada Mei 2026 lebih banyak dipicu oleh koreksi tajam di kelompok barang tertentu. Menurut dia, tekanan itu tidak menyebar luas ke banyak komoditas.

Yang paling besar adalah ekspor logam mulia serta perhiasan dan permata, yang turun 59,35 persen. Penurunan itu memberi andil negatif sekitar 2,93 persen terhadap kinerja ekspor non-migas.

KomoditasPerubahanDampak
Logam mulia serta perhiasan dan permata-59,35 persen-2,93 persen terhadap ekspor non-migas
Bijih logam, terak, dan abu-99,25 persenTekanan terbesar pada kelompok bahan mentah
Besi dan baja-14,68 persenTertekan oleh permintaan yang belum pulih

Selain itu, ekspor bijih logam, terak, dan abu anjlok 99,25 persen. Ekspor besi dan baja juga turun 14,68 persen pada periode yang sama.

Bijih logam turun tajam, hilirisasi ikut berperan

Yusuf menilai merosotnya ekspor bijih logam lebih berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Larangan ekspor bahan mentah disebut menjadi bagian dari dorongan hilirisasi yang sedang dijalankan.

“Jadi ini lebih merupakan konsekuensi kebijakan daripada sinyal melemahnya daya saing ekspor,” ujar Yusuf. Dengan kata lain, sebagian tekanan ekspor datang dari perubahan struktur kebijakan, bukan semata dari pelemahan permintaan global.

Perhiasan, emas, dan besi baja ikut tertekan

Untuk logam mulia serta perhiasan dan permata, Yusuf melihat koreksinya dipengaruhi normalisasi harga emas. Tahun lalu, reli harga emas sempat sangat tinggi sehingga basis perbandingan menjadi kurang menguntungkan.

Sementara itu, pada besi dan baja, tekanan masih datang dari belum pulihnya permintaan China. Sektor properti dan konstruksi di negara tersebut disebut masih lemah dan ikut menahan ekspor Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa tekanan pada Mei 2026 muncul setelah ekspor non-migas sempat tumbuh kuat pada April 2026. Pada bulan itu, nilai ekspor RI tercatat mencapai US$25,30 miliar atau tumbuh 21,98 persen.

Tarif AS mulai memberi tekanan tambahan

Yusuf turut menyoroti tarif resiprokal Amerika Serikat sebesar 19 persen yang mulai memberi tekanan tambahan terhadap ekspor Indonesia. Namun, dampaknya sejauh ini lebih terasa pada industri tekstil, alas kaki, dan elektronik.

Karena itu, tarif tersebut belum dianggap sebagai penyebab utama pelemahan ekspor non-migas pada Mei 2026. Tekanan yang paling nyata masih berasal dari komoditas tertentu yang memang sedang terkoreksi.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$23,2 miliar, turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor non-migas mencapai US$22,45 miliar dan terkoreksi 4,5 persen secara tahunan.

Di tengah pelemahan bulanan itu, Yusuf menilai fondasi ekspor Indonesia masih terjaga. Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor non-migas masih tumbuh 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar, sehingga gambaran besarnya belum menunjukkan pelemahan yang meluas.

Source: www.viva.co.id

Terkait