Tragedi di Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, bukan hanya menewaskan Aipda Yudhi Perdana Putra, tetapi juga membuka pertanyaan besar tentang mengapa warga ikut melindungi pihak yang diduga bandar narkoba. Insiden itu berujung pada bentrokan brutal setelah penggerebekan sabu yang awalnya berjalan sesuai rencana.
Dalam kejadian tersebut, dua anggota lain dari Satresnarkoba Polres Katingan masih belum ditemukan. Aparat kini bukan hanya memburu pelaku penyerangan, tetapi juga berupaya memastikan seluruh personel yang terlibat dalam operasi bisa ditemukan dan dievakuasi dengan aman.
Penggerebekan yang berubah jadi serangan massal
Operasi dimulai dari laporan warga soal maraknya peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Sasaran penggerebekan adalah dua residivis kasus narkoba berinisial BIO dan BUSU yang diduga kembali menjalankan bisnis haram di wilayah itu.
Tim gabungan yang dipimpin Kasatresnarkoba Polres Katingan bergerak pada malam hari dan tiba di lokasi sasaran beberapa jam kemudian. Sebanyak 12 personel dibagi menjadi dua kelompok untuk penyergapan dan pengamanan di sekitar sekolah.
Pada awalnya polisi berhasil mengamankan satu pelaku. Situasi lalu berubah ketika seorang pria diduga anggota keluarga korban keluar dari arah dapur sambil mengayunkan parang ke arah petugas.
Dua pria lain ikut menyerang Kasatresnarkoba dengan parang. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan, tetapi serangan tidak berhenti sehingga tindakan tegas terukur diambil dan mengenai Teriyo, warga setempat berusia 40 tahun.
Massa datang membawa senjata
Kematian Teriyo memicu kemarahan warga di lokasi. Ratusan orang kemudian datang, sebagian membawa parang, balok kayu, hingga senjata api rakitan.
Jumlah massa yang jauh lebih besar membuat aparat terdesak. Tim polisi mundur sambil meminta bantuan tambahan dari Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah.
Sejumlah anggota melarikan diri ke sungai dan menyeberang ke pulau kecil di tengah aliran air untuk mencari perlindungan. Namun tekanan massa terus berlanjut dan membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Pencarian personel dan temuan jenazah
Dalam upaya menyelamatkan diri dengan berenang, tiga anggota disebut kelelahan. Menurut laporan, mereka sempat mengatakan, “saya menyerah,” sebelum kembali ke tepian sungai yang sudah dipenuhi warga.
Setelah kondisi mulai bisa dikendalikan, aparat melakukan penyisiran untuk mencari personel yang belum ditemukan. Hingga evakuasi selesai, sembilan anggota berhasil diselamatkan.
Aipda Yudhi Perdana Putra ditemukan di atas sebuah lanting di tepi sungai dengan luka parah di bagian kepala yang diduga akibat serangan senjata tajam. Jenazahnya dibawa ke RS Bhayangkara Palangka Raya untuk autopsi dan kepentingan penyidikan.
Dua anggota lain, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, masih dicari karena belum diketahui keberadaannya. Basarnas Palangka Raya juga menurunkan 10 personel untuk membantu pencarian di sepanjang aliran sungai Desa Tumbang Kalemei.
| Nama | Status | Keterangan |
|---|---|---|
| Aipda Yudhi Perdana Putra | Gugur | Ditemukan di lanting dengan luka parah di kepala |
| Aiptu Sumariyanto | Masih dicari | Keberadaannya belum diketahui |
| Bripda Nopandri Ramadhana | Masih dicari | Keberadaannya belum diketahui |
Mengapa warga membela bandar narkoba
Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Trisno Raharjo, menilai perlawanan seperti ini tidak selalu muncul secara spontan. Menurut dia, pelaku narkoba kerap berbaur dengan masyarakat sehingga sulit dipisahkan dari lingkungan sosial di sekitarnya.
Trisno juga menyoroti kemungkinan adanya hubungan timbal balik, misalnya ketika warga merasa terbantu oleh keberadaan bandar. Ia menegaskan pembinaan warga menjadi penting agar mereka tidak memberi perlindungan kepada jaringan peredaran narkoba.
Dari sisi penegakan hukum, kondisi itu menjadi tantangan besar karena penindakan tidak akan efektif jika lingkungan sekitar masih menutup-nutupi atau bahkan membela pelaku.
Risiko operasi dan pengerahan Brimob
Trisno menilai penggerebekan di kawasan yang diduga menjadi sarang narkoba harus didahului perhitungan risiko yang matang. Ia juga meminta prosedur operasi atau SOP dievaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Pakar Hukum Pidana UGM, Sigid Riyanto, menambahkan bahwa penyerangan terhadap aparat hingga menimbulkan korban meninggal dapat dijerat dengan ketentuan pidana yang lebih berat. Menurut dia, pemberatan perlu dilihat dalam tindak pidana terhadap aparat penegak hukum dan ketertiban umum.
Untuk mengamankan lokasi, Polda Kalimantan Tengah mengerahkan 50 personel Brimob ke Desa Tumbang Kalemei. Pasukan itu ditugaskan mencegah bentrokan susulan, memburu pelaku pembacokan, dan membantu mengungkap jaringan narkoba yang menjadi target operasi.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono menyebut situasi sudah kondusif dan keluarga pelaku telah meninggalkan lokasi. Namun fokus aparat tetap pada pencarian dua anggota yang hilang dan pengusutan tuntas kasus penggerebekan yang berakhir maut.
Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Aipda Yudhi Perdana Putra. Ia mendesak agar para pelaku penyerangan dan jaringan bandar narkoba yang terlibat diproses hukum tanpa ada ruang perlindungan apa pun.
Kasus Katingan memperlihatkan bahwa perang melawan narkoba bisa berubah menjadi ancaman langsung bagi aparat ketika pelaku memiliki dukungan sosial di sekitar lokasi. Karena itu, pengungkapan jaringan, pencarian personel yang hilang, dan pemulihan keamanan di desa tersebut kini berjalan beriringan.
Source: www.suara.com






