Laporan TRM Labs menunjukkan pola yang tidak biasa dalam kerugian kripto melalui April. Kelompok peretas yang dikaitkan dengan Korea Utara menyumbang 76% dari seluruh nilai aset yang hilang, meski porsi serangannya tidak mendominasi secara jumlah.
Faktor utamanya ada pada dua insiden besar yang nilainya sekitar US$577 juta. Dua peristiwa itu adalah pelanggaran di Drift Protocol dan eksploitasi jembatan KelpDAO, yang terjadi pada bulan yang sama dan mengubah peta kerugian kripto secara drastis.
Dua serangan yang menyedot sebagian besar kerugian
Drift Protocol mengalami serangan pada 1 April dengan kerugian sekitar US$285 juta. Dalam laporan lanjutan, tim Drift menyebut operasi itu sebagai hasil pengintaian selama enam bulan yang dikaitkan dengan aktor Korea Utara.
Dampaknya meluas ke ekosistem di sekitarnya. Carrot, platform hasil imbal hasil berbasis Solana, kemudian mengumumkan penutupan pada 30 April setelah tekanan lanjutan dari insiden tersebut.
Carrot juga menetapkan 14 Mei sebagai batas terakhir bagi pengguna untuk menarik sisa saldo dari posisi Boost, Turbo, dan CRT. Setelah tenggat itu, proses forced deleveraging akan dimulai.
Serangan besar lain terjadi di KelpDAO pada 18 April. Penyerang menguras 116.500 rsETH dengan nilai sekitar US$292 juta dari jembatan cross-chain milik proyek itu.
Kasus tersebut menjadi peretasan DeFi terbesar sejauh ini dalam periode laporan tersebut. Investigasi awal menyebut TraderTraitor, kelompok yang terkait dengan Lazarus Group, sebagai pelaku yang paling mungkin berada di balik insiden itu.
Nilai kerugian naik, bukan jumlah serangan
TRM Labs menekankan bahwa dominasi Korea Utara tidak berarti jumlah serangannya ikut melonjak tajam. Kelompok-kelompok utama yang terkait dengan Pyongyang tetap cenderung melakukan sedikit operasi setiap tahun, tetapi memilih target yang sangat bernilai.
Pola itu terlihat jelas dari dua serangan besar tadi, yang bersama-sama hanya mewakili 3% dari total jumlah insiden peretasan tahun ini. Meski begitu, keduanya menyerap sebagian besar nilai aset yang hilang, sehingga memperbesar porsi kerugian secara keseluruhan.
Situasi ini memperlihatkan pergeseran penting dalam lanskap ancaman kripto. Ukuran dampak kini lebih ditentukan oleh presisi dan skala target, bukan semata-mata frekuensi serangan.
Dominasi yang terus naik dari tahun ke tahun
TRM Labs mencatat bahwa porsi Korea Utara terhadap kerugian peretasan kripto terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Angkanya berada di bawah 10% pada 2020 dan 2021, lalu naik menjadi 22% pada 2022 sebelum bergerak ke 37%, 39%, dan 64% pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 2025, kelompok peretas Korea Utara dilaporkan menguras sedikitnya US$2,02 miliar dalam aset digital. Lonjakan ke 76% melalui April 2026 menjadi level tertinggi yang tercatat sejauh ini.
TRM juga menilai para pelaku kemungkinan mulai memanfaatkan alat AI untuk tahap pengintaian dan social engineering. Dengan pendekatan yang makin terarah, serangan dapat dirancang lebih presisi dan memberi dampak lebih besar terhadap protokol yang menjadi sasaran.
Ancaman bergeser ke serangan yang lebih terencana
Kasus Drift menunjukkan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibanding pola lama yang sering bertumpu pada pencurian private key secara sederhana. Serangan itu disebut membutuhkan manipulasi mekanisme blockchain selama berminggu-minggu, sehingga memperlihatkan kesiapan teknis dan perencanaan yang matang.
Kondisi ini membuat industri kripto menghadapi tantangan baru dalam mitigasi risiko. Fokus pertahanan kini tidak cukup hanya pada pengawasan volume serangan, tetapi juga pada kemampuan mendeteksi operasi yang sedikit jumlahnya namun sangat terarah dan bernilai tinggi.
Dengan dua serangan besar yang menguasai sebagian besar kerugian, laporan TRM Labs menempatkan Korea Utara sebagai aktor paling dominan dalam pencurian aset digital sejauh ini. Tekanan terbesar kini ada pada protokol kripto untuk menghadapi ancaman yang makin presisi, lebih sulit dideteksi, dan berpotensi menimbulkan kerugian jumbo hanya dari satu atau dua operasi terencana.
