Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah gencatan senjata sementara berakhir. Di tengah eskalasi tersebut, Departemen Pertahanan AS mengidentifikasi dua prajurit yang tewas dalam serangan Iran di Yordania.
Kedua korban adalah Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Hawaii, dan Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Texas. Pentagon belum merinci kondisi yang secara persis menyebabkan kematian keduanya.
Pengumuman identitas ini muncul setelah Komando Pusat AS atau Centcom mengonfirmasi penemuan jasad manusia di lokasi serangan. Tim medis dan pejabat terkait masih memeriksa temuan tersebut untuk memastikan kaitannya dengan personel AS yang sebelumnya dilaporkan hilang.
Identitas Dua Prajurit yang Gugur
Gonzales dilaporkan meninggal pada Jumat, 17 Juli 2026, sementara Feehan meninggal sehari setelahnya, Sabtu, 18 Juli 2026. Keduanya memiliki penugasan berbeda sebelum insiden terjadi.
| Nama | Usia dan Asal | Tanggal Meninggal | Penugasan |
|---|---|---|---|
| Tyler James Feehan | 25 tahun, Hawaii | 18 Juli 2026 | Komando Pertahanan Rudal Angkatan Darat, Fort Bragg, Carolina Utara |
| Isabella Gonzales | 19 tahun, Texas | 17 Juli 2026 | Komando Pertahanan, Ansbach, Jerman |
Feehan bertugas di Komando Pertahanan Rudal Angkatan Darat yang berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara. Sementara itu, Gonzales ditempatkan pada komando pertahanan di Ansbach, Jerman.
NBC, seperti dikutip Beritasatu.com, melaporkan pemeriksaan terhadap jasad yang ditemukan masih berlangsung. Proses itu ditujukan untuk memastikan apakah temuan tersebut adalah prajurit AS yang hilang ketika serangan drone dan rudal Iran berlangsung.
“Saat ini, tim medis dan pejabat terkait tengah melakukan pemeriksaan intensif untuk memastikan apakah jasad tersebut merupakan prajurit AS yang sebelumnya dilaporkan hilang saat serangan drone dan rudal Iran berlangsung,” tulis NBC. Keterangan itu menunjukkan penelusuran dampak serangan di Yordania belum sepenuhnya selesai.
Risiko Berlanjut hingga Irak Utara
Korban di pihak AS juga bertambah melalui insiden terpisah di Irak utara. Seorang prajurit dilaporkan tewas saat menjalankan peledakan terkontrol terhadap sisa amunisi dari drone serang Iran yang telah dijatuhkan.
Seorang prajurit lain mengalami luka ringan dalam insiden tersebut. Peristiwa ini menyoroti risiko yang tetap dihadapi personel militer, bahkan ketika mereka menangani sisa ancaman setelah sebuah serangan berhasil digagalkan.
Sejak operasi militer dimulai, sedikitnya 15 prajurit AS dilaporkan gugur dalam pertempuran. Ratusan personel lainnya disebut mengalami luka-luka, sedangkan media pemerintah Iran melaporkan ribuan korban jiwa di pihak mereka akibat serangan balasan.
Balasan Militer dan Pintu Diplomasi
Presiden Donald Trump menyatakan militer AS telah diperintahkan untuk memberikan balasan yang jauh lebih berat kepada Iran. Gedung Putih juga mengonfirmasi Trump akan menghadiri prosesi penghormatan dan penerimaan jenazah prajurit di Pangkalan Angkatan Udara Dover.
Berakhirnya gencatan senjata sementara diikuti saling tuding pelanggaran kesepakatan antara kedua pihak. AS terus menggempur sasaran militer Iran, sedangkan Teheran membalas dengan tembakan rudal ke wilayah strategis.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pintu diplomasi masih terbuka. Namun, ia menilai tindakan agresif Iran membuat AS terus melancarkan aksi balasan untuk melumpuhkan jaringan komunikasi serta situs peluncuran rudal musuh.
