Iran menyatakan telah melancarkan serangan rudal terhadap sasaran yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat di Bahrain dan Yordania. Langkah ini menandai perluasan konflik di Timur Tengah ketika operasi udara AS terhadap sejumlah target di Iran masih berlangsung.
Korps Pengawal Revolusi Islam Iran atau IRGC menyebut pusat data Amazon di Bahrain serta kompleks militer di Al-Rukban, Yordania timur laut, menjadi sasaran serangan. Pemerintah AS, Bahrain, dan Yordania belum memberikan konfirmasi resmi mengenai dampak serangan tersebut.
Sasaran yang Disebut IRGC
Menurut pernyataan IRGC yang dikutip Tasnim, pasukan dirgantara Iran meluncurkan sejumlah rudal jelajah ke infrastruktur pusat data Amazon di Bahrain. Teheran memandang fasilitas itu sebagai bagian dari kepentingan strategis AS di kawasan Teluk yang dapat mendukung operasi militernya.
| Lokasi | Sasaran yang Disebut Iran | Dampak Menurut IRGC |
|---|---|---|
| Bahrain | Infrastruktur pusat data Amazon | Dinyatakan hancur |
| Al-Rukban, Yordania | Kompleks militer yang menampung pasukan AS | Radar dan sejumlah jet F-15 disebut terkena |
IRGC menyebut operasi di Yordania sebagai gelombang ke-24 Operasi Nasr 2. Iran menyatakan serangan tersebut diarahkan untuk melemahkan kemampuan pengawasan radar AS dan membuka ruang bagi serangan lanjutan dengan rudal maupun pesawat nirawak.
Laporan IRNA yang mengutip Anadolu Agency menyebut Iran mengklaim sejumlah personel AS tewas dalam serangan di Al-Rukban. Stasiun radar pertahanan udara juga disebut lumpuh, sementara sejumlah jet tempur F-15 di hanggar dilaporkan hancur.
Serangan Balasan Meluas ke Sejumlah Pangkalan
Selain sasaran di Bahrain dan Yordania, Iran juga menyatakan telah menyerang Pangkalan Udara Muwaffaq Salti dan Bandara Aqaba di Yordania. Teheran turut menyebut pusat komando AS di pangkalan Al-Tanf, Suriah, sebagai target operasi balasan.
AS belum merinci secara terbuka sejauh mana serangan-serangan tersebut memengaruhi pertahanan udaranya di kawasan. Klaim dari kedua pihak masih sulit diverifikasi secara independen karena operasi militer terus berlangsung.
Data militer AS menyebut sedikitnya 17 personel Amerika tewas dan 427 lainnya terluka sejak perang kembali pecah pada 28 Februari. Pentagon juga mendapat sorotan setelah muncul laporan yang menyebut jumlah korban lebih besar daripada informasi yang sebelumnya dipublikasikan.
New York Times, mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan puluhan personel militer Amerika terluka dalam tiga serangan rudal dan drone Iran di Yordania pada pekan lalu. Sejumlah helikopter militer AS juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat rangkaian serangan itu.
Insiden tersebut terjadi beberapa hari sebelum serangan lain yang menewaskan dua tentara AS dan membuat seorang personel dinyatakan hilang. Dua prajurit yang tewas diidentifikasi sebagai Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Hawaii, dan Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Texas.
Seorang personel AS lainnya dilaporkan meninggal di Irak utara saat melakukan peledakan terkendali terhadap sisa persenjataan dari drone Iran yang dijatuhkan. Juru bicara Pentagon Sean Parnell membantah tudingan bahwa militer AS menyembunyikan atau mengurangi jumlah korban perang.
Jalur Damai Makin Tertekan
Eskalasi militer terbaru terjadi setelah Washington dan Teheran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni. Kesepakatan itu ditujukan untuk menghentikan perang serta membuka jalan bagi perjanjian damai permanen.
Pakistan dan Qatar mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, serta penghentian sanksi atas ekspor minyak Iran. Namun, operasi udara AS dan serangan balasan Iran membuat peluang keberhasilan mediasi tersebut semakin menyempit.
Para menteri luar negeri ASEAN dalam pertemuan ke-59 di Manila, Filipina, menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya keamanan di Timur Tengah. ASEAN meminta seluruh pihak menahan diri, mengutamakan dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.
