Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, dodol rumput laut bukan sekadar jajanan oleh-oleh. Produk yang diberi nama Dorula itu menjadi cara warga pesisir mengolah bahan lokal menjadi barang bernilai jual.
Di balik usaha tersebut, ada Mahdiah atau Nina, perempuan 56 tahun yang terus menjaga agar olahan rumput laut tetap punya tempat di pasar. Baginya, Dorula adalah contoh kecil bagaimana komoditas yang tersedia di lingkungan sendiri bisa berubah menjadi sumber cuan.
Berawal dari pembinaan UMKM
Perjalanan Dorula dimulai dari program pemberdayaan UMKM melalui Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat atau PKUR dari Yayasan Baitul Maal BRILiaN. Nina terhubung dengan pendamping UMKM saat mengikuti bazar di Balai Kota Jakarta.
Dari pertemuan itu, tim BRI datang ke Pulau Panggang untuk membentuk kelompok usaha berbasis komoditas lokal. Kelompok yang dipimpin Nina sempat mendapat pembinaan selama setahun, mulai dari pelatihan pembukuan, pengelolaan usaha, hingga bantuan modal.
Diproduksi oleh 10 perempuan dengan modal lebih dari Rp 40 juta
Kelompok tersebut beranggotakan 10 perempuan. Mereka menerima bantuan modal lebih dari Rp 40 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi seperti kompor, wajan, serta alat memasak lain.
Modal dan pelatihan itu membantu usaha kecil di pulau berjalan lebih rapi, meski skalanya tetap terbatas. Dorula lalu dijajakan di kios-kios kecil sebagai oleh-oleh untuk wisatawan yang datang ke pulau.
| Informasi Utama | Detail |
|---|---|
| Nama produk | Dorula, singkatan dari dodol rumput laut |
| Penggerak usaha | Mahdiah atau Nina, 56 tahun |
| Anggota kelompok | 10 perempuan |
| Bantuan modal | Lebih dari Rp 40 juta |
| Fokus penjualan | Oleh-oleh wisatawan di kios-kios kecil |
Produksi masih bergantung pada cuaca
Hingga kini, proses pembuatan Dorula masih dilakukan secara tradisional. Pengeringan mengandalkan panas matahari, sehingga kondisi cuaca sangat menentukan kualitas dan kecepatan produksi.
Saat cuaca cerah, proses pengeringan bisa selesai sekitar tiga hari. Jika mendung atau hujan, waktunya bisa molor hingga satu minggu dan Nina mengaku kebutuhan mesin pengering terasa semakin mendesak.
Pasar belum selalu ramah untuk dodol rumput laut
Tantangan Dorula tidak berhenti di dapur produksi. Nina mengatakan sebagian calon pembeli menilai dodol rumput laut terlalu manis, sementara selera konsumen kini cenderung lebih berhati-hati terhadap gula.
Kondisi itu membuat Dorula harus bersaing dengan berbagai camilan lain yang lebih dulu akrab di pasar. Nina juga menyebut keluhan serupa sudah muncul sejak ia berjualan di Balai Kota Jakarta.
Mulai menambah produk lain dari rumput laut
Untuk menjawab perubahan selera pembeli, Nina mencoba mengembangkan produk lain berbahan rumput laut. Salah satunya adalah kerupuk rumput laut yang diharapkan bisa menjangkau konsumen lebih luas.
Langkah ini sekaligus membuka pilihan di luar dodol, tanpa meninggalkan bahan baku utama yang selama ini menjadi andalan usaha mereka.
Rumput laut makin terbatas, tapi usaha tetap jalan
Ketersediaan bahan baku juga ikut tertekan. Nina menyebut produksi rumput laut di Kepulauan Seribu tidak lagi sebanyak beberapa tahun lalu karena serangan hama dan cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil panen pembudidaya.
Situasi itu membatasi ruang produksi Dorula, meski usaha tetap berjalan. Kelompok yang dulu dibentuk dalam program pendampingan kini sudah berakhir, dan para anggotanya melanjutkan usaha masing-masing dengan bekal pengetahuan yang sudah diperoleh.
Lebih dari sekadar oleh-oleh pulau
Bagi Nina, Dorula punya makna yang lebih besar daripada camilan untuk wisatawan. Produk ini menjadi simbol upaya masyarakat kepulauan mengolah sumber daya yang ada agar punya nilai ekonomi lebih tinggi.
Di tengah kendala cuaca, pemasaran, dan bahan baku, Dorula tetap dipertahankan selama masih ada yang membeli. Nina melihat hal itu sebagai bentuk optimisme bahwa produk lokal dari pulau masih punya pasar.
Dukungan juga datang dari layanan keuangan yang menjangkau wilayah kepulauan, termasuk Kapal Bahtera Seva I. Nina mengaku bersyukur karena layanan BRI bisa hadir di pulau-pulau seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung, hingga Pulau Untung Jawa.
Kapal Bahtera Seva melayani pembukaan rekening, setor dan tarik tunai, pergantian kartu ATM, pencairan bantuan sosial, hingga pengajuan Kredit Usaha Rakyat. Layanan itu membantu perputaran uang di wilayah kepulauan dan memberi ruang bagi usaha kecil seperti Dorula untuk tetap bertahan.
Source: www.beritasatu.com






