Dolar AS Menguat, Harga Obat Di Surabaya Ikut Naik Hingga 10 Persen

Penguatan dolar AS mulai terasa langsung di rak obat apotek Surabaya. Sejumlah apotek mencatat harga obat bebas dan obat bebas terbatas naik sekitar 5 hingga 10 persen sejak Juni 2026.

Kenaikan itu paling mudah dilihat pada obat yang sering dibeli masyarakat setiap hari, seperti obat sakit kepala dan obat maag. Tekanan utama datang dari biaya produksi yang ikut terdorong naik ketika rupiah melemah hingga menyentuh Rp 17.964 per dolar AS.

Dampak paling nyata di obat OTC

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Surabaya menyebut kenaikan harga tidak terjadi seragam pada semua produk. Dampak yang paling jelas muncul pada obat OTC, sedangkan obat generik lebih banyak terkena efek berkurangnya diskon dari prinsipal atau industri.

Ketua IAI Surabaya apt Rizal Umar Rahmadani mengatakan diskon obat generik yang sebelumnya 30 persen turun menjadi 25 persen. Ia menjelaskan bahwa obat generik juga ikut terimbas penguatan dolar, tetapi tekanannya lebih sering muncul lewat penurunan diskon, bukan lonjakan harga setajam obat OTC.

Tidak semua obat naik bersamaan

Rizal menegaskan besaran kenaikan bergantung pada merek, jenis obat, dan bahan baku yang dipakai dalam produksi. Karena itu, sebagian produk masih dijual dengan harga normal.

Menurut dia, kondisi itu terjadi karena stok lama masih tersedia atau bahan bakunya tidak sepenuhnya berasal dari impor. Artinya, kenaikan harga belum merata di seluruh lini penjualan apotek.

Kenaikan yang muncul pada Juni 2026 juga disebut berasal dari prinsipal atau pihak industri obat. Tekanan harga masih bergerak dari sisi hulu sebelum sepenuhnya dirasakan konsumen di tingkat ritel.

Impor bahan baku ikut menambah beban

Industri farmasi saat ini masih banyak bergantung pada bahan baku impor. Saat dolar AS menguat, biaya pembelian bahan baku dan komponen produksi ikut membesar dan berpotensi menaikkan harga jual.

IAI Surabaya menilai situasi ini belum sepenuhnya merata ke semua produk, tetapi tetap perlu diwaspadai. Jika rupiah terus melemah, harga obat berpeluang naik lagi dan menambah tekanan pada konsumen maupun pelaku usaha farmasi.

Kondisi tersebut juga berpengaruh pada ketersediaan pasokan. Stabilitas rupiah dinilai penting agar lonjakan biaya tidak semakin menekan harga obat di pasaran.

Konsumen mulai merasakan efeknya

Bagi masyarakat, dampaknya paling cepat terlihat pada obat-obat yang dibeli rutin untuk keluhan umum. Kenaikan 5 hingga 10 persen pada obat bebas dan obat bebas terbatas membuat biaya belanja kesehatan harian ikut naik.

Di sisi lain, apotek dan industri masih harus menyesuaikan harga secara bertahap karena tidak semua produk terdampak dengan cara yang sama. Selama biaya produksi tetap tinggi dan bahan baku impor masih dominan, tekanan harga di sektor farmasi berpotensi bertahan lebih lama.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button