Tokopedia Digarap Lagi, Jejak PHK Beruntun Setelah Akuisisi TikTok Terungkap

Author: Cung Media

Tokopedia kembali berada di tengah sorotan setelah gelombang perampingan besar disebut memangkas hingga 90% karyawan. Langkah itu menandai babak baru restrukturisasi yang terus berlanjut sejak mayoritas saham platform e-commerce tersebut diakuisisi ByteDance, induk TikTok.

Dalam dua tahun terakhir, Tokopedia tercatat mengalami sedikitnya tiga gelombang perampingan. Polanya menunjukkan bahwa integrasi bisnis, efisiensi biaya, dan penataan ulang organisasi masih menjadi agenda utama di balik perubahan besar tersebut.

Restrukturisasi yang berjalan bertahap

Manajemen TikTok menyebut penyesuaian terbaru sebagai bagian dari penyelarasan divisi riset dan pengembangan atau R&D. Tujuannya adalah mengejar efisiensi jangka panjang tanpa melepas fokus pada ekosistem kreator, merchant, dan pelaku usaha lokal di Indonesia.

Gelombang ini memperlihatkan bahwa integrasi Tokopedia ke dalam struktur ByteDance belum selesai. Perubahan besar masih terus terjadi saat perusahaan menata ulang fungsi yang dianggap tak lagi sejalan dengan strategi baru.

PHK pertama muncul tak lama setelah akuisisi

Gelombang pemangkasan pertama terjadi pada Juni 2024, tidak lama setelah transaksi Tokopedia rampung. Sekitar 450 karyawan terdampak, atau setara 9% dari total tenaga kerja gabungan saat integrasi berjalan.

PHK itu dikaitkan dengan penghapusan fungsi ganda yang muncul setelah TikTok Shop dan Tokopedia digabung. ByteDance disebut memangkas staf lintas tim, termasuk di divisi periklanan dan operasi, untuk menekan pekerjaan yang saling tumpang tindih.

Isu itu sempat dikaitkan dengan masuknya tenaga kerja Cina ke Indonesia. Namun Kementerian Ketenagakerjaan dan manajemen menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan konsekuensi dari konsolidasi bisnis dan duplikasi jabatan pasca-merger senilai 1,5 miliar dolar AS.

Gelombang Waktu Dampak Fokus Pemangkasan
Pertama Juni 2024 Sekitar 450 karyawan Divisi periklanan dan operasi, fungsi ganda
Kedua Juli hingga Agustus 2025 Sekitar 420 karyawan Teknologi Informasi, Customer Care, Fulfillment
Terbaru Tidak disebutkan rinci Disebut bisa mencapai 90% karyawan Penyesuaian divisi R&D

Gelombang kedua menyasar tim teknis dan operasional

Pada Juli hingga Agustus 2025, ByteDance kembali melakukan PHK bertahap terhadap sekitar 420 karyawan Tokopedia. Berbeda dari gelombang pertama, pemangkasan ini lebih menyasar tim Teknologi Informasi, Customer Care, dan Fulfillment.

Dampaknya terasa pada layanan gudang titip barang atau fulfillment by Tokopedia. Perubahan itu menunjukkan adanya pergeseran fokus logistik dan operasional setelah integrasi semakin dalam dijalankan.

Manajemen TikTok kala itu menyatakan bahwa penyesuaian organisasi dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi kebutuhan bisnis, memperkuat organisasi, dan menyelaraskan tim demi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Di area customer care dan gudang, restrukturisasi juga dikaitkan dengan dorongan otomatisasi melalui sistem global ByteDance berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Tekanan efisiensi di pasar e-commerce

Langkah efisiensi itu terjadi di tengah persaingan e-commerce Indonesia yang makin ketat. Berdasarkan laporan E-Commerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works, Shopee memimpin pasar Indonesia pada 2025 dengan pangsa 54%.

Gabungan TikTok Shop dan Tokopedia berada di posisi kedua dengan pangsa 38%. Dua pemain tersebut menguasai sekitar 92% nilai transaksi kotor atau gross merchandise value e-commerce Indonesia.

Total GMV nasional pada 2025 tercatat mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun, naik dari US$56,5 miliar atau sekitar Rp978,6 triliun pada 2024. Sementara itu, pemain lain justru melemah di tengah kompetisi yang semakin padat.

Lazada menguasai 6% pasar pada 2025, turun dari 7% pada tahun sebelumnya. Blibli berada di angka 3% dari sebelumnya 4%, sedangkan Bukalapak yang sempat menyumbang 10% GMV pada 2024 tidak lagi masuk daftar pemain utama pada 2025.

Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia, Budi Primawan, menilai data tersebut menunjukkan dinamika persaingan yang sangat kompetitif. Ia menyebut live commerce, video commerce, program afiliasi, integrasi konten dan transaksi, serta promosi sebagai penggerak penting pertumbuhan industri.

Arah baru Tokopedia di bawah ByteDance

Rangkaian PHK beruntun ini mencerminkan pergeseran besar di industri digital, ketika pertumbuhan agresif mulai digantikan oleh efisiensi dan profitabilitas. Sejumlah pengamat menilai fase “growth at all costs” telah berakhir, sehingga platform besar kini lebih fokus pada keberlanjutan bisnis dan penataan struktur organisasi.

Dalam konteks itu, integrasi sistem global ByteDance menjadi faktor yang penting. Perusahaan terlihat ingin menyamakan standar efisiensi di berbagai wilayah dengan satu komando teknologi, termasuk di Indonesia yang menjadi pasar utama e-commerce.

Di tengah perubahan yang terus berjalan, manajemen TikTok menyatakan tetap akan berinvestasi agar Tokopedia menjadi platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual. Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk terus memberdayakan pelaku usaha lokal meski restrukturisasi belum berhenti.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru