Dibebaskan Dari Tahanan Israel, Aktivis Flotilla Gaza Ungkap Dugaan Penyiksaan Seksual

Ratusan aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang baru dideportasi Israel melaporkan dugaan penganiayaan berat selama dalam tahanan. Kesaksian itu memunculkan tuduhan kekerasan seksual, penyiksaan fisik, dan perlakuan yang dinilai merendahkan martabat, lalu memicu kecaman dari pemerintah dan kelompok hak asasi manusia.

Mereka adalah bagian dari misi pengiriman bantuan ke Gaza yang dicegat pasukan komando Israel di perairan internasional. Sebanyak 422 orang dari 41 negara dideportasi pada Kamis (23/5) setelah penahanan yang kini menjadi sorotan luas karena munculnya berbagai cerita soal kekerasan.

Dugaan kekerasan yang dialami tahanan

Penyelenggara flotilla menyebut sedikitnya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan. Mereka juga mengatakan puluhan aktivis mengalami patah tulang setelah dipukuli selama masa penahanan.

Sejumlah aktivis yang dipulangkan kemudian menguatkan klaim itu lewat kesaksian langsung. Meriem Hadjal, aktivis asal Prancis, mengatakan dirinya menjadi sasaran kekerasan seksual dan perabaan paksa.

“Saya dipukul, ditampar, disentuh, dilutut di bagian tulang rusuk, dan rambut saya ditarik. Saya trauma selama berjam-jam,” ujarnya setibanya di Paris.

Kesaksian dari berbagai negara

Jurnalis Italia Alessandro Mantovani menggambarkan fasilitas penahanan Israel sebagai “tempat teror”. Ia menilai situasi yang dialami para tahanan menunjukkan pola intimidasi yang serius selama mereka berada dalam pengawasan otoritas Israel.

Aktivis Inggris Richard Johan Anderson juga menyampaikan kesaksian serupa. Ia menyebut para aktivis “disiksa dan didehumanisasi secara sistematis” selama penahanan.

“Kami telah dipukuli, disiksa, didehumanisasi secara sistematis, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina setiap hari,” kata Anderson.

Respons internasional dan bantahan Israel

Pemerintah Kanada menjadi salah satu pihak yang bereaksi keras setelah menerima laporan dugaan pelecehan terhadap warganya. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menegaskan bahwa perlakuan itu tidak bisa dibenarkan dan harus dipertanggungjawabkan.

“Kanada mengutuk keras perlakuan buruk terhadap warga Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas pelecehan mengerikan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Anand, dikutip BBC.

Di sisi lain, pihak Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Layanan penjara Israel menyebut klaim para aktivis sebagai tuduhan palsu dan tanpa dasar faktual, serta menegaskan semua tahanan diperlakukan sesuai hukum.

Militer Israel atau IDF juga menyatakan prosedur mereka mewajibkan perlakuan hormat terhadap peserta flotilla. Bantahan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional atas cara penanganan para aktivis yang ikut misi bantuan tersebut.

Sorotan atas sikap pejabat Israel

Ketegangan ikut meningkat setelah beredar video Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, yang tampak mengejek para aktivis saat mereka berlutut dengan tangan terikat. Rekaman itu memicu kritik, termasuk dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyebut tindakan tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel.

Laporan tambahan dari kelompok hak asasi manusia Adalah menyebut adanya cedera luas dan parah di antara para aktivis. Kelompok itu mengatakan sedikitnya tiga orang harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif akibat kekerasan ekstrem yang diduga dilakukan otoritas keamanan Israel.

Kasus ini menambah sorotan terhadap penanganan para peserta Global Sumud Flotilla setelah pencegatan di laut dan deportasi massal ke sejumlah negara. Di saat para aktivis mulai pulang, perhatian dunia justru beralih pada dugaan kekerasan yang mereka klaim terjadi selama masa penahanan.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button