Demam AI Mengguncang KOSPI, ETF Leverage Membuat Saham Makin Jauh dari Fundamental

Author: Cung Media

Pasar saham Korea Selatan menghadapi gejolak yang kian tajam ketika minat terhadap teknologi AI mendorong dana spekulatif masuk ke saham semikonduktor. Pergerakan KOSPI kini dinilai tidak lagi mudah dijelaskan hanya melalui indikator ekonomi dan kinerja bisnis emiten.

Risiko itu semakin besar karena investor ritel dan global banyak memakai produk ETF leverage saham tunggal untuk mengejar kenaikan harga. Instrumen ini dapat melipatgandakan potensi imbal hasil, tetapi juga mempercepat kerugian ketika harga saham berbalik turun.

Regulator Menahan Laju Produk Leverage

Pemerintah Korea Selatan telah menghentikan sementara peluncuran ETF leverage saham tunggal baru untuk meredam spekulasi di pasar domestik. Langkah tersebut diambil saat produk berbasis saham semikonduktor menjadi salah satu penggerak utama volatilitas pasar.

Mulai 5 Agustus, saldo kas minimum untuk memperdagangkan ETF leverage saham tunggal, termasuk produk yang tercatat di luar negeri, akan dinaikkan tiga kali lipat. Investor harus memiliki dana minimum 30 juta won atau sekitar 20.300 dollar AS untuk mengakses perdagangan produk tersebut.

Mike Sell, Kepala Global Emerging Market Equities Alquity, menilai pembatasan itu berpotensi mengembalikan perhatian investor pada kondisi perusahaan. Menurutnya, pasar yang lebih rasional akan menjadi perkembangan positif bagi investor jangka panjang.

Saham Semikonduktor Menjadi Pusat Tarikan Dana

Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi sasaran utama arus dana karena keduanya diuntungkan oleh naiknya kebutuhan teknologi AI. Dua produsen chip itu kini menyumbang lebih dari separuh kapitalisasi pasar KOSPI.

Alexander Redman, Kepala Strategi Ekuitas CLSA, mengatakan pola lama pasar Korea telah berubah secara besar. “Indeks kini telah terlepas dari seluruh faktor pendorong historis pasar Korea,” ujarnya.

Menurut Redman, pasar Korea sebelumnya cenderung memiliki hubungan kuat dengan sejumlah indikator ekonomi yang memudahkan analisis investor. Kini, aliran dana menuju instrumen leverage berbasis satu saham dinilai lebih dominan daripada fundamental perusahaan.

Indikator Nilai Konteks
Pinjaman margin investor ritel 34,37 triliun won Tercatat pada pekan ini
Rekor pinjaman margin 38,6 triliun won Terjadi pada Juni
Aset ETF leverage SK Hynix di Hong Kong 7,78 miliar dollar AS Naik lebih dari 20 kali lipat sejak awal tahun

Volatilitas KOSPI Meningkat

Kapitalisasi pasar KOSPI sempat berlipat ganda dalam enam bulan sebelum indeks tersebut terkoreksi sekitar 20 persen sepanjang bulan ini. Perubahan cepat itu memperlihatkan tingginya sensitivitas pasar terhadap aksi beli dan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Lebih dari separuh kejadian circuit breaker dalam sejarah KOSPI disebut terjadi hanya dalam enam bulan terakhir. Mekanisme ini menghentikan perdagangan sementara ketika indeks turun lebih dari 8 persen selama sedikitnya satu menit.

Redman menggambarkan pergeseran skala risiko yang kini harus diperhitungkan oleh investor institusi. “Kalau dulu pasar Korea turun 7 persen dalam sehari, saya mungkin tidak akan sedang berbicara dengan Anda. Sekarang itu menjadi hal yang normal,” katanya.

Menurut laporan Reuters yang dikutip Kompas, valuasi Samsung Electronics dan SK Hynix berada pada rasio harga terhadap laba atau PER di bawah lima kali. Level itu dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prospek pertumbuhan laba kedua perusahaan.

ETF SK Hynix Menunjukkan Besarnya Spekulasi

ETF leverage dua kali berbasis SK Hynix yang terdaftar di Bursa Hong Kong menjadi contoh paling menonjol dari derasnya dana spekulatif. Produk dengan aset kelolaan 7,78 miliar dollar AS itu disebut sebagai ETF leverage saham tunggal terbesar di dunia.

Florian Neto, Kepala Investasi Asia Amundi, mengatakan volume transaksi beberapa ETF leverage saham tunggal telah mencapai empat kali rata-rata volume perdagangan saham acuannya. Ia menilai pertumbuhan dana kelolaan tersebut mulai memperlihatkan batas penggunaan leverage pada satu saham.

Saldo pinjaman margin investor ritel memang turun dari rekor 38,6 triliun won pada Juni, tetapi masih berada di angka 34,37 triliun won. Nilai tersebut menunjukkan besarnya dana pinjaman yang tetap digunakan untuk membeli saham di tengah pasar yang bergerak cepat.

Peluang AI Tetap Besar, Risiko Gelembung Mengintai

Di tengah tekanan pasar, kebutuhan teknologi AI tetap membuka peluang pendanaan besar bagi perusahaan chip Korea Selatan. SK Hynix pekan lalu menghimpun 26,5 miliar dollar AS di pasar modal Amerika Serikat, yang disebut sebagai penggalangan modal terbesar perusahaan asing di pasar AS.

Namun, survei manajer investasi Bank of America menunjukkan mayoritas investor masih menempatkan potensi gelembung AI sebagai salah satu risiko terbesar bagi pasar global. Damien Boey dari Wilson Asset Management mengingatkan bahwa keberhasilan strategi leverage tetap bergantung pada keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.

Source: money.kompas.com
Terbaru