
Pasar perak global diperkirakan kembali mencatat defisit pasokan tahunan untuk keenam kalinya secara beruntun pada April 2026. Namun, kondisi itu belum otomatis membuat harga perak melonjak ke rekor sebelumnya, karena tekanan pasar masih dinilai cukup kuat untuk menahan laju kenaikan.
Pandangan ini datang dari Mike McGlone, Ahli Strategi Pasar Senior di Bloomberg Intelligence, yang melihat fundamental pasokan memang ketat tetapi belum cukup untuk mengubah arah pasar secara besar. Dalam pandangannya, defisit yang berulang lebih berfungsi sebagai penopang harga daripada pemicu reli tajam.
Pasokan menyusut, harga belum tentu menembus rekor
McGlone menilai kekurangan pasokan selama enam tahun berturut-turut menunjukkan pasar perak tetap berada dalam kondisi ketat. Meski begitu, ia menegaskan bahwa situasi tersebut tidak dengan sendirinya mendorong harga kembali ke level tertinggi Januari 2026.
“Meskipun pasar perak diperkirakan akan mengalami defisit pasokan tahunan keenam berturut-turut, hal itu diperkirakan tidak cukup untuk mendorong harga kembali ke level tertinggi Januari 2026,” kata McGlone.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pasar komoditas tidak selalu bereaksi lurus terhadap data fundamental. Ketika sentimen kehati-hatian masih dominan, defisit pasokan bisa gagal mengubah arah perdagangan secara drastis.
Rentang harga yang dinilai membatasi pergerakan
Bloomberg Intelligence juga melihat kemungkinan harga perak bergerak dalam kisaran yang relatif terbatas selama periode yang panjang. McGlone menyebut ada batas psikologis yang dapat membuat harga sulit naik terlalu jauh dari area tertentu.
“Harga perak dapat terhenti di antara US$50 dan US$100 selama bertahun-tahun,” ujar McGlone.
Pandangan itu menunjukkan bahwa perak masih memiliki daya tarik sebagai aset komoditas, tetapi ruang kenaikannya belum tentu terbuka lebar. Dalam skenario seperti ini, pasar lebih mungkin bergerak sideways daripada membentuk tren naik yang agresif.
Defisit pasokan tidak selalu berujung reli
Secara umum, defisit pasokan berarti kebutuhan pasar lebih besar daripada ketersediaan logam yang diproduksi. Kondisi tersebut biasanya memberi dukungan bagi harga, tetapi dampaknya bisa terbatas jika pelaku pasar belum melihat sinyal kuat untuk kenaikan lanjutan.
Pada perak, defisit yang terjadi berulang memang menandakan struktur pasar yang ketat. Namun, Bloomberg Intelligence menilai ketatnya pasokan itu belum cukup kuat untuk membawa harga melewati area yang dianggap sebagai hambatan penting.
Situasi ini membuat investor perlu membaca pasar perak secara lebih hati-hati. Defisit bukan lagi satu-satunya faktor penentu, karena pasar juga menimbang apakah tekanan beli benar-benar mampu menembus batas harga yang selama ini menahan pergerakan.
Sikap hati-hati masih mewarnai pasar komoditas
Laporan Bisnis.com menegaskan bahwa proyeksi tersebut mencerminkan sikap hati-hati terhadap pasar komoditas global. Meski defisit pasokan biasanya mendukung harga, kondisi saat ini dinilai belum cukup untuk mengubah sentimen secara luas.
Bagi investor, keadaan ini berarti peluang di perak tetap ada, tetapi risiko harga tertahan masih perlu diperhitungkan. Defisit pasokan memberi fondasi, namun fondasi itu belum tentu cukup untuk memaksa pasar keluar dari pola pergerakan yang sempit.
Apa yang perlu dicermati pelaku pasar
Pasar kini memusatkan perhatian pada apakah tekanan beli bisa benar-benar melampaui hambatan yang ada. Jika itu belum terjadi, perak berpotensi terus bergerak dalam kisaran yang sama meski stok global terus menipis.
Dengan defisit yang kemungkinan masih berlanjut hingga April 2026, perak tetap berada dalam radar investor yang mencari peluang di logam mulia. Tetapi selama hambatan harga belum hilang, pasar ini masih berisiko mempertahankan pergerakan yang tertahan di bawah puncak sebelumnya.





