Garis cahaya hijau yang muncul sesaat saat hujan meteor Perseid menyimpan kisah yang jauh lebih panjang daripada durasi kilatannya. Sebutir debu kosmik dapat mengembara ratusan hingga ribuan tahun sebelum akhirnya bertemu atmosfer Bumi dan lenyap dalam sepersekian detik.
Partikel yang terlihat sebagai meteor itu bisa hanya sebesar butiran pasir. Meski sangat kecil, kecepatannya ketika memasuki lapisan gas Bumi cukup untuk menghasilkan jejak cahaya terang di langit malam.
Perjalanan Berawal dari Komet Raksasa
Debu Perseid berasal dari komet 109P/Swift-Tuttle, sebuah komet berukuran sekitar 26 kilometer. Objek ini bergerak pada orbit elips sangat panjang yang membawanya bolak-balik antara wilayah luar dan dalam tata surya.
Saat komet mendekati Matahari, panas membuat es di dekat permukaannya berubah langsung menjadi gas. Proses itu melepaskan gas beserta jutaan partikel kecil dari inti komet ke ruang antarplanet.
Partikel-partikel tersebut kemudian membentuk aliran puing besar yang secara kasar mengikuti lintasan orbit komet induknya. Aliran ini melintasi tata surya bagian dalam, memotong orbit Bumi, membentang jauh di bawah bidang tata surya, dan melampaui orbit Pluto.
Setiap mikrometeoroid tidak bergerak dengan jalur yang persis sama. Tenaga saat terlontar dari komet, tekanan radiasi Matahari, serta tarikan gravitasi planet dapat mengubah arah perjalanan masing-masing partikel.
Karena pengaruh tersebut, usia perjalanan satu debu Perseid sulit dipastikan. Tidak diketahui apakah sebuah partikel telah melayang selama ratusan atau ribuan tahun, termasuk berapa kali ia mengitari Matahari sebelum mendekati Bumi.
Akhir Cepat di Atmosfer Bumi
Perjalanan sunyi itu berakhir cepat saat Bumi memasuki bagian aliran puing yang ditinggalkan Swift-Tuttle. Serpihan komet bertabrakan dengan atmosfer, menguap, lalu menciptakan jejak cahaya yang dapat diamati dari permukaan.
Kompas.com yang mengutip Space.com menyebut partikel Perseid dapat memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 212.433 kilometer per jam. Interaksi berkecepatan tinggi dengan lapisan gas Bumi membuat debu kecil itu tampak sebagai meteor bercahaya.
Bagian aliran puing yang lebih padat dapat meningkatkan jumlah meteor yang terlihat. Dalam kondisi langit yang mendukung, periode puncak Perseid berpotensi menghadirkan ratusan meteor setiap jam.
| Peristiwa | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Periode aktif Perseid | Hingga 24 Agustus | Bumi melintasi aliran puing Swift-Tuttle |
| Waktu pengamatan terbaik | Dini hari 13 Agustus | Titik radian berada paling tinggi pada malam puncak |
| Bulan baru | 12 Agustus | Langit diperkirakan lebih gelap untuk pengamatan |
Waktu ketika Langit Lebih Mendukung
Jendela pengamatan terbaik diperkirakan berlangsung pada dini hari 13 Agustus. Pada waktu itu, titik radian atau arah tampak asal meteor Perseid berada pada posisi tertinggi di langit saat malam puncak.
Kondisi langit tahun ini diperkirakan sangat gelap karena puncak Perseid berdekatan dengan bulan baru pada 12 Agustus. Cahaya Bulan yang minim membantu meteor yang lebih redup terlihat lebih jelas oleh pengamat.
Bulan baru tersebut juga bertepatan dengan gerhana matahari total yang dapat diamati dari sebagian wilayah Spanyol, Islandia, dan Greenland. Pengamat di jalur totalitas dengan kondisi yang memungkinkan berpeluang melihat bola api Perseid menerangi langit senja semu ketika Bulan menutupi Matahari.
Fenomena Perseid memperlihatkan perbedaan skala waktu yang tajam di alam semesta. Debu dari komet 109P/Swift-Tuttle dapat menghabiskan ribuan tahun di ruang gelap dan dingin, sebelum menjadi cahaya singkat saat mencapai Bumi.







