Dari Aksi Buruh Ke Istana, Said Iqbal Kini Punya Jalur Langsung Ke Presiden

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal kini masuk ke lingkaran Istana setelah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan. Jabatan itu memiliki kedudukan setingkat menteri, sehingga posisi Said Iqbal bukan sekadar simbol politik, tetapi juga kanal yang lebih dekat dengan proses pengambilan kebijakan.

Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). Sebelum acara itu, Said Iqbal tiba di Kompleks Istana Kepresidenan sekitar pukul 15.45 WIB dengan songkok hitam, jas lengkap, dan dasi biru muda.

Dari gerakan buruh ke ruang kebijakan

Nama Said Iqbal lama melekat di dunia perburuhan Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh yang membangun karier dari bawah, lalu tumbuh menjadi salah satu figur buruh paling berpengaruh di tingkat nasional dan internasional.

Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Ia tercatat sebagai juara umum saat lulus dari SMAN 51 Jakarta pada 1987 sebelum melanjutkan pendidikan ke Politeknik Teknik Mesin Universitas Indonesia.

Ia kemudian meraih gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Jaya Baya. Pendidikan lanjutannya berakhir dengan gelar magister ekonomi dari Universitas Indonesia.

Perjalanan organisasinya mulai terlihat pada 1992, ketika ia bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan elektronika di Kabupaten Bekasi. Dari lingkungan kerja itu, ia masuk ke gerakan buruh dan mulai berhadapan langsung dengan persoalan pekerja.

Bersama sejumlah tokoh buruh, ia ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia atau FSPMI. Di organisasi itu, Said Iqbal meniti karier dari sekretaris jenderal hingga dipercaya menjadi presiden FSPMI.

Tokoh di balik banyak aksi buruh

Pengaruh Said Iqbal menguat saat ia memimpin KSPI, salah satu organisasi buruh terbesar di Indonesia. Dari posisi itu, ia tampil sebagai wajah gerakan pekerja yang kerap menyuarakan isu upah, kontrak kerja, dan perlindungan buruh.

Di tingkat internasional, kiprahnya juga luas. Berdasarkan laman resmi Partai Buruh, ia pernah aktif di PC SP LEM SPSI, PC FSPMI, sekretaris DPP FSPMI, central committee Serikat Buruh Metal Sedunia atau IMF, wakil presiden Serikat Pekerja ASEAN atau ATUC, general council Konfederasi Serikat Buruh Sedunia atau ITUC, serta presiden DPP FSPMI.

Pengakuan internasional datang pada 2013 saat ia menerima penghargaan Tokoh Buruh Terbaik Dunia atau The Febe Elisabeth Velasquez Award dari serikat pekerja Belanda, FNV. Penghargaan itu ia raih setelah menyisihkan sekitar 200 kandidat dari berbagai negara.

Penghargaan tersebut diberikan atas perjuangannya membela hak-hak buruh dan kebebasan berserikat di Indonesia. Jejak itu membuat namanya dikenal sebagai aktivis yang konsisten mendorong perbaikan posisi pekerja.

Dalam gerakan buruh, Said Iqbal dikenal dengan pendekatan KLA, singkatan dari konsep, lobi, dan aksi. Pola itu membuatnya tidak hanya identik dengan demonstrasi, tetapi juga dengan negosiasi dan penyampaian argumentasi berbasis data.

Salah satu gerakan paling dikenal adalah Hostum, singkatan dari hapus outsourcing dan tolak upah murah. Gerakan ini memicu mogok nasional besar pada periode 2012 hingga 2013 dan menjadi salah satu gelombang aksi buruh terbesar di Indonesia saat itu.

Ia juga terlibat dalam Komite Aksi Jaminan Sosial atau KAJS. Lewat jalur itu, Said Iqbal ikut mendorong lahirnya sistem jaminan sosial yang lebih luas bagi pekerja.

Perjuangan itu berkontribusi pada hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan dan program Jaminan Pensiun bagi buruh. Isu perlindungan sosial tetap menjadi garis perjuangan yang ia bawa dalam banyak aktivitas organisasi.

Masuk politik tanpa meninggalkan isu buruh

Selain memimpin serikat pekerja, Said Iqbal memegang peran penting dalam kebangkitan Partai Buruh. Partai itu pertama kali berdiri pada 1998, lalu vakum cukup lama sebelum diaktifkan kembali pada 2021.

Dalam proses reaktivasi itu, ia menghimpun dukungan dari KSBSI, FSPMI, KSPSI, dan KSPI. Pada kongres 2021, Said Iqbal menjadi calon ketua umum tunggal dan terpilih memimpin partai tersebut.

Sejak itu, Partai Buruh tampil lebih aktif menyuarakan isu ketenagakerjaan di ruang politik nasional. Partai itu juga dikenal keras mengkritisi Undang-Undang Cipta Kerja atau UU Nomor 11 Tahun 2020.

Said Iqbal kerap memimpin aksi unjuk rasa untuk menuntut pembatalan sejumlah pasal. Partai Buruh juga menggugat undang-undang tersebut ke Mahkamah Konstitusi pada 2024.

Sebelum aktif melalui Partai Buruh, ia sempat mencoba masuk ke parlemen lewat Pemilu Legislatif 2009 sebagai calon anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera. Upaya itu tidak berbuah kursi legislatif, tetapi tidak menghentikan perannya di gerakan buruh.

Dalam peta politik nasional, Said Iqbal dikenal sebagai salah satu pendukung Prabowo Subianto. Ia menyatakan dukungan kepada Prabowo pada Pilpres 2019 dan mempertahankan posisi itu pada Pilpres 2024.

Partai Buruh yang dipimpinnya juga menjadi mitra Partai Gerindra dalam sejumlah kontestasi pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah. Di beberapa daerah, partai itu mendukung pasangan calon yang diusung Gerindra, meski pada wilayah lain konfigurasi politiknya berbeda.

Kehadiran Said Iqbal di lingkaran Istana menempatkan tokoh buruh ini pada jalur yang lebih dekat dengan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan. Pada peringatan May Day 2026, Partai Buruh juga masih aktif menyuarakan tuntutan ketenagakerjaan sambil merayakan Hari Buruh Sedunia bersama Presiden Prabowo di Monas.

Source: www.beritasatu.com

Terkait