Daihatsu masih menunjukkan taringnya di pasar mobil murah Indonesia, meski segmen low cost green car atau LCGC sedang tidak bergerak serempak. Hingga April 2026, PT Astra Daihatsu Motor mencatat penjualan retail 46.953 unit dengan pangsa pasar 16,3 persen, cukup untuk menjaga posisinya sebagai merek otomotif nomor dua di penjualan ritel nasional.
Yang membuat capaian ini menarik, kekuatan Daihatsu justru datang dari strategi lama yang masih efektif: menyasar pembeli mobil pertama. Di tengah perlambatan daya beli dan perubahan dinamika pasar, pendekatan ke segmen entry level masih menjadi penopang utama performa perusahaan.
LCGC tak semerata dulu, tetapi Daihatsu tetap bertahan
Pasar LCGC pada tahun ini terlihat melemah, terutama di lini hatchback. Sri Agung Handayani, Marketing Director and Corporate Communication PT ADM, menjelaskan kontribusi LCGC MPV masih berada di kisaran rata-rata 5.500-5.600 unit per bulan, sama seperti tahun lalu, sedangkan LCGC hatchback turun dari sekitar 5.500 unit menjadi sekitar 4.500 unit per bulan.
Di tengah penurunan itu, Ayla dan model saudara kembarnya masih mampu mencatat penjualan sekitar 2.000-2.200 unit per bulan. Kondisi ini menunjukkan Daihatsu masih punya ruang kuat di kategori yang paling dekat dengan konsumen mobil pertama.
Pembeli mobil pertama masih jadi mesin utama
Sekitar 65 persen penjualan Daihatsu masih berasal dari first car buyer. Komposisi itu memperlihatkan bahwa merek ini belum bergeser jauh dari basis konsumen yang mencari mobil pertama dengan harga terjangkau dan biaya kepemilikan yang terkendali.
Segmen ini sangat sensitif terhadap harga, efisiensi bahan bakar, dan biaya penggunaan harian. Daihatsu menempatkan tiga faktor itu sebagai inti strategi produknya, sehingga model-modelnya tetap relevan bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan keluarga sekaligus kendaraan harian.
Kuat di segmen harga bawah Rp300 juta
Kinerja Daihatsu juga solid di kendaraan dengan harga hingga Rp300 juta. Di segmen ini, pangsa pasarnya mencapai 32 persen, menandakan daya saing yang tidak hanya bergantung pada satu model andalan.
Pada kendaraan bermesin ICE dengan rentang harga yang sama, pangsa pasar Daihatsu bahkan mencapai 38 persen. Angka itu memperlihatkan bahwa produk konvensional Daihatsu masih punya tempat kuat di pasar yang luas dan kompetitif.
Wilayah penjualan yang luas ikut menopang posisi
Kekuatan Daihatsu tidak hanya bertumpu pada kota-kota besar. Penjualan di area rural dan remote mencapai 46 persen, jauh di atas total pasar yang berada di angka 33 persen, sementara kontribusi penjualan di luar Jabodetabek mencapai 81 persen dibanding rata-rata pasar nasional 67 persen.
Sebaran penjualan itu membantu Daihatsu mempertahankan posisi nomor dua di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia Bagian Timur. Jangkauan yang luas membuat merek ini tetap dekat dengan konsumen di banyak daerah, termasuk mereka yang membutuhkan kendaraan untuk mobilitas sehari-hari dan aktivitas usaha.
Layanan purnajual ikut memperkuat daya tahan merek
Daihatsu juga menopang penjualannya lewat jaringan layanan purnajual yang luas. Jaringan itu meliputi lebih dari 260 outlet, 170 bengkel resmi, 320 armada DMS, dan 3.320 part shop yang tersebar di lebih dari 500 kota dan kabupaten di Indonesia.
Sri Agung Handayani menyebut pencapaian ini menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus menghadirkan kendaraan yang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Kombinasi harga terjangkau, efisiensi bahan bakar, biaya kepemilikan ekonomis, dan dukungan layanan yang tersebar luas masih menjadi formula utama Daihatsu untuk bertahan kuat di segmen mobil murah.
Source: www.liputan6.com






