Gelombang panas bukan sekadar membuat tubuh gerah. Dalam kondisi tertentu, cuaca sangat panas dan lembap bisa memaksa jantung bekerja jauh lebih keras untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Bagi penderita penyakit jantung, risiko ini menjadi perhatian utama. American Heart Association memperingatkan bahwa detak jantung meningkat dan pembuluh darah melebar saat tubuh berusaha mendinginkan diri, sehingga beban tambahan itu dapat berbahaya bahkan bagi orang yang sehat.
Panas Meningkatkan Tekanan Pada Sistem Kardiovaskular
Panas merupakan penyebab utama kematian akibat cuaca, dan para ahli memperkirakan kondisinya menyebabkan ribuan kematian setiap tahun. Penelitian dari Yale School of Public Health juga menunjukkan jumlah kematian akibat panas naik lebih dari 50% dalam dua dekade terakhir.
Risiko itu diperkirakan terus bertambah seiring perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Gelombang panas kini muncul lebih sering, berlangsung lebih lama, dan mencapai intensitas yang lebih tinggi dari tahun ke tahun.
Pada 2023, American Heart Association memperkirakan kematian akibat penyakit jantung yang berkaitan dengan panas bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa dekade mendatang. Saat ini, sekitar 2.000 kematian per tahun dan sekitar 100.000 kunjungan ke unit gawat darurat diperkirakan terkait gangguan akibat panas.
Mengapa Jantung Tertekan Saat Cuaca Sangat Panas
Suhu tinggi membuat tubuh mengalirkan lebih banyak darah ke pembuluh di bawah kulit agar panas dapat dilepaskan. Pembuluh darah melebar, tetapi pada penderita penyakit jantung yang mengalami penyumbatan, mekanisme ini tidak selalu berjalan optimal.
Lauren Siewny, Direktur Medis Departemen Gawat Darurat Duke University Hospital, menjelaskan bahwa kondisi itu menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan kerja jantung dan kemampuan tubuh memasok darah. Tekanan tambahan tersebut dapat meningkatkan risiko serangan jantung, aritmia, hingga gagal jantung.
Bagaimana Panas Memengaruhi Tubuh
Tubuh membuang panas lewat dua mekanisme utama, yaitu radiasi dan evaporasi. Radiasi terjadi ketika tubuh melepaskan panas ke udara yang lebih dingin, sedangkan evaporasi bergantung pada penguapan keringat.
Saat udara kering, keringat lebih cepat menguap dan membantu menurunkan suhu tubuh. Namun ketika panas disertai kelembapan tinggi, keringat sulit menguap sehingga suhu tubuh terus meningkat.
Dalam kondisi panas dan lembap, jantung bisa mengedarkan darah dua hingga empat kali lebih banyak per menit dibandingkan saat cuaca sejuk. Itulah sebabnya tubuh lebih cepat lelah dan risiko gangguan kesehatan ikut naik.
| Kondisi Cuaca | Dampak Utama | Risiko |
|---|---|---|
| Panas dan lembap | Keringat sulit menguap, jantung memompa lebih cepat | Tekanan lebih besar pada jantung |
| Panas dengan penyakit jantung | Pembuluh darah tidak selalu bekerja optimal | Serangan jantung, aritmia, gagal jantung |
| Panas berkepanjangan | Beban tubuh meningkat dari waktu ke waktu | Risiko gangguan kesehatan lebih tinggi |
Obat Jantung Juga Bisa Menambah Risiko
Sejumlah obat yang digunakan untuk menangani penyakit jantung dapat memperbesar risiko saat cuaca panas. Beta blocker memperlambat denyut jantung sehingga kemampuan tubuh mengalirkan darah untuk melepas panas ikut berkurang.
Diuretik juga perlu diwaspadai karena meningkatkan pengeluaran cairan tubuh dan membuat risiko dehidrasi lebih besar. Karena itu, penderita penyakit jantung yang mengonsumsi obat-obatan tersebut perlu lebih berhati-hati saat gelombang panas melanda.
Cara Melindungi Diri Saat Gelombang Panas
Langkah pencegahan untuk penderita penyakit jantung maupun orang sehat pada dasarnya sama. Kuncinya adalah membatasi paparan panas, menjaga cairan tubuh, dan mengenali tanda bahaya sejak awal.
- Tetap berada di tempat yang sejuk dan batasi aktivitas luar ruangan, terutama pada siang hingga sore hari.
- Gunakan pendingin udara atau kipas angin di dalam ruangan ketika suhu masih berada di bawah 90 derajat fahrenheit.
- Pantau prakiraan cuaca dan tetap di dalam rumah saat ada peringatan gelombang panas.
- Jika rumah tidak memiliki pendingin yang memadai, cari pusat pendinginan yang disediakan pemerintah daerah.
- Jika harus keluar, pilih pagi atau malam hari ketika suhu udara cenderung lebih rendah.
Pastikan Tubuh Tetap Terhidrasi
Asupan cairan perlu dijaga karena tubuh kehilangan banyak air lewat keringat. Harvard Health menyarankan minum sekitar 8 ons atau sekitar 240 mililiter air setiap 20 menit saat berada di luar ruangan.
Jangan menunggu haus untuk mulai minum. Bagi penderita gagal jantung, jumlah cairan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter karena kelebihan cairan bisa menyebabkan pembengkakan.
Pasien yang mengonsumsi diuretik juga perlu membicarakan kebutuhan cairan selama cuaca panas. Selain itu, hindari alkohol dan batasi minuman berkafein, soda, serta jus buah karena dapat mempercepat dehidrasi atau memperlambat penyerapan air.
Lindungi Kulit dan Kenali Gejala Bahaya
Paparan sinar matahari langsung juga perlu dihindari karena kulit yang terbakar mengurangi kemampuan tubuh membuang panas dan meningkatkan risiko dehidrasi. Gunakan topi bertepi lebar, kacamata pelindung UV, pakaian longgar berwarna terang, serta tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30.
Tabir surya sebaiknya dioleskan sekitar 30 menit sebelum keluar rumah dan diulang setiap satu jam bila masih berada di bawah sinar matahari. Selain pencegahan, masyarakat juga perlu mengenali tanda gangguan akibat panas sedini mungkin.
Gejala yang harus diwaspadai meliputi sakit kepala, kulit dingin dan lembap atau tampak pucat, denyut nadi cepat tetapi lemah, pusing, tubuh lemas, kram otot, mual, hingga muntah. Jika gejala muncul, segera hentikan aktivitas fisik, pindah ke tempat yang lebih sejuk, dinginkan tubuh dengan air dingin, dan minum air untuk mengganti cairan yang hilang.
Bila kondisi tidak membaik atau gejala semakin berat, segera cari pertolongan medis. Gangguan akibat cuaca ekstrem dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, terutama pada penderita penyakit jantung.
Source: www.beritasatu.com






