Pementasan The Addams Family di Jakarta bukan sekadar pertunjukan musim panas biasa. Produksi Camp Broadway Indonesia (CBI) ini memperlihatkan bagaimana anak dan remaja bisa menghidupkan musikal besar hanya dengan persiapan satu pekan.
Yang membuat pementasan ini menarik adalah perpaduan antara energi pemain muda, arahan musikal yang rapi, dan pendampingan dua pemain dewasa yang memperkuat alur cerita. Di Beacon Academy Theatre, Jakarta, pertunjukan berbahasa Inggris itu menjadi penutup program Summer Camp sekaligus bagian dari Mainstage Jakarta Summer Camp.
Cerita yang mudah diikuti sejak awal
Fokus cerita ada pada Wednesday Addams, putri sulung keluarga yang tumbuh dengan selera hidup gelap dan mistis. Ia jatuh cinta pada Lucas Beineke, pria dari keluarga yang jauh lebih normal, lalu hubungan keduanya berkembang ke pertunangan.
Dari titik itu, konflik keluarga langsung terbuka ketika Wednesday memberitahu Gomez Addams dan meminta kabar tersebut disimpan dari Morticia. Alur seperti ini membuat penonton yang belum akrab dengan The Addams Family tetap bisa menangkap arah cerita sejak adegan pembuka.
Latihan singkat, hasil panggung tetap meyakinkan
CBI memang merancang program ini sebagai pelatihan seni pertunjukan untuk peserta usia 9–17 tahun. Fokusnya ada pada tiga kemampuan utama, yaitu bernyanyi, menari, dan berakting.
Di bawah arahan Kristine Bendul sebagai sutradara sekaligus koreografer, para pemain muda harus menghafal dialog, menyanyikan lagu, dan mengikuti koreografi dalam waktu yang sangat singkat. Tantangan itu cukup besar, tetapi mereka tetap mampu menjaga keseimbangan antara vokal, gerak, dan ekspresi karakter.
| Elemen Produksi | Detail | Keterangan |
|---|---|---|
| Program | Mainstage Jakarta Summer Camp | Bagian dari penutupan Summer Camp CBI |
| Usia Peserta | 9–17 tahun | Fokus pelatihan seni pertunjukan |
| Waktu Persiapan | 1 pekan | Untuk pementasan musikal |
| Lokasi | Beacon Academy Theatre, Jakarta | Pementasan berbahasa Inggris |
Musik terasa hidup berkat tangan lama Walt Disney
Salah satu penopang utama pementasan ini adalah Robby Stamper sebagai Music Director. Ia dikenal pernah lama berkarier di Walt Disney sebagai composer dan vocal director, sehingga kualitas musikal pertunjukan mendapat perhatian tersendiri.
Aransemen yang ia buat tidak menenggelamkan dialog para pemain. Sebaliknya, musik justru menguatkan suasana, baik saat cerita bergerak ke bagian serius maupun ketika berubah menjadi dialog yang lebih ringan dan lucu.
Sentuhan itu membuat ritme panggung terasa tertata tanpa mengorbankan kejelasan cerita. Hasilnya, pertunjukan tampil hidup sekaligus tetap mudah diikuti oleh penonton.
Dua pemeran dewasa membantu menopang pemain muda
Erika Prihadi tampil sebagai Wednesday Addams dan Robertus Darren Radyan sebagai Gomez Addams. Keduanya berperan penting sebagai kolaborator utama yang membantu memandu para pemain lain di atas panggung.
Kehadiran mereka memberi pegangan yang kuat bagi peserta CBI yang masih muda. Dengan kualitas akting dan vokal yang matang, keduanya ikut mengangkat dinamika pementasan secara keseluruhan.
Meski begitu, pemain anak dan remaja tetap menjadi pusat perhatian karena mampu saling melengkapi dalam membangun suasana musikal. Kolaborasi antara pemain muda, seniman pendukung, tim musik, dan arahan sutradara membuat The Addams Family versi CBI tampil solid sampai akhir.
Source: www.suara.com






