Cindy Gulla menepis tudingan bahwa dirinya naik ojek atau mendapat bantuan khusus saat mengikuti maraton dan trail run. Mantan anggota JKT48 itu menegaskan penampilannya yang masih terlihat rapi di garis finis berasal dari persiapan pribadi, bukan karena ada tim yang mendampinginya di tengah lintasan.
Penampilan segar Cindy setelah berlari sempat memicu komentar negatif di media sosial. Ada yang meragukan bahwa ia benar-benar menyelesaikan perlombaan dengan berlari karena rambut dan penampilannya tetap tertata saat mencapai finis.
Fokus pada Persiapan Sebelum Berlari
Bagi Cindy, menjaga penampilan saat mengikuti lomba lari memang menjadi perhatian sejak awal. Ia mengaku memberi perhatian khusus pada detail sederhana, terutama poni, agar tetap terlihat rapi ketika selesai berlari.
“Jadinya aku tuh ikut kebawa-bawa. Karena, memang aku setiap lari tuh pasti mementingkan yang pertama poni aku. Ini harus on point supaya aku finish dengan slay, dengan centil, dengan masih on point,” ujar Cindy.
Pernyataan itu disampaikan Cindy saat berada di Studio Rumpi No Secret Trans TV di Mampang, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa kondisi rapi di garis finis tidak bisa langsung diartikan sebagai bukti adanya bantuan kru selama perlombaan berlangsung.
Cindy juga mengakui bahwa praktik curang oleh oknum peserta memang dapat terjadi dalam ajang lari. Namun, ia menolak disamakan dengan peserta yang melakukan pelanggaran tersebut dan menegaskan dirinya tidak pernah memakai cara itu.
Satu Kali Lari, Konten Bisa Berkali-kali Diunggah
Menurut Cindy, kesan bahwa ia selalu membawa rombongan muncul dari banyaknya konten yang dibagikan setelah mengikuti sebuah kegiatan lari. Satu kali perlombaan dapat menghasilkan beberapa unggahan, sehingga orang mengira ada tim besar yang bekerja di belakangnya.
“Makin ke sini makin seru, makin asyik, konten mulu, larinya satu kali upload kontennya berkali-kali. Orang tuh ngira aku bawa tim,” kata Cindy.
Ia membantah anggapan bahwa dirinya datang bersama makeup artist, asisten pribadi, dan sejumlah pendamping. Cindy menyebut justru membawa koper sendiri ketika bepergian untuk mengikuti agenda lari.
“Ada yang bilang ‘ini mah bawa tim, bawa makeup artist, bawa asisten’, padahal astaga guys, aku geret-geret koper sendirian,” lanjutnya. Baginya, frekuensi unggahan konten tidak menggambarkan jumlah orang yang ikut menemani di lokasi perlombaan.
Trail Run Tidak Bisa Diikuti Sembarangan
Cindy menilai tudingan membawa tim ke lintasan trail run juga kurang masuk akal. Setiap orang yang diajak masuk ke rute harus memiliki kemampuan lari yang memadai agar tidak kelelahan atau berhenti di tengah jalan.
Ia mengatakan sejumlah kategori trail run memiliki syarat pendaftaran bagi peserta. Pelari dapat diminta menyertakan sertifikat pernah mengikuti perlombaan dengan jarak minimal 10 kilometer atau 20 kilometer.
“Dan kalaupun aku ajak tim, itu tuh mereka juga harus bisa trail run. Kalau nggak, mereka bisa KO di tengah jalan gitu,” ujar Cindy. Ketentuan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat begitu saja mendampingi peserta di lintasan.
Penjelasan soal kualifikasi menjadi bagian dari bantahan Cindy atas narasi bahwa ia mengandalkan pendamping dalam perlombaan. Ia menekankan bahwa trail run memiliki tantangan tersendiri dan peserta perlu memenuhi syarat tertentu sebelum masuk kategori yang tersedia.
Memilih Menanggapinya dengan Tertawa
Alih-alih terpancing emosi, Cindy mengaku lebih banyak menertawakan komentar yang menuduhnya membawa tim. Ia membayangkan biaya perjalanan untuk membawa banyak pendamping ke ajang lari tentu tidak sedikit.
“Sebenernya sih kalau sebal nggak, tapi lebih ke ngakak aja sih. Kayak, ‘Ya ampun aku seniat itu kah bawa tim?’” katanya. Cindy menyebut dirinya hampir tidak pernah membawa teman karena perjalanan mengikuti perlombaan membutuhkan biaya, sehingga ia biasanya berangkat dan mengurus barang bawaannya sendiri.
Source: hot.detik.com






