Cikeas Bogor Bangun Desa Wisata, BUMDes Ayam Petelur Mulai Jadi Mesin Uang Warga

Desa Cikeas di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, sedang mendorong wajah baru sebagai desa wisata berbasis kekuatan ekonomi warganya. Di balik arah itu, BUMDes ayam petelur mulai muncul sebagai penggerak baru yang menghubungkan UMKM, digitalisasi, dan perputaran uang di tingkat desa.

Langkah ini menarik karena desa tidak hanya membangun citra wisata, tetapi juga menata ekosistem ekonomi yang lebih mandiri. Pemerintah desa melihat digitalisasi sebagai cara agar produk warga lebih mudah ditemukan, lebih mudah dijual, dan tidak berhenti di pasar lokal.

UMKM Cikeas masuk ke jalur digital

Arah pengembangan desa menguat setelah ada kunjungan pihak BRI yang melihat potensi digitalisasi pelaku usaha di Cikeas. Pemerintah desa lalu bergerak melengkapi persyaratan administrasi, termasuk memfasilitasi pembukaan rekening perbankan atas nama BUMDes.

Aparatur desa kemudian mengikuti pelatihan intensif selama kurang lebih dua minggu. Materinya mencakup produk perbankan, manajemen BUMDes, dan strategi pengembangan untuk pelaku UMKM.

Hasan Sadili, Kaur Perencanaan Desa Cikeas, mengatakan tahapan itu dilakukan bertahap dari administrasi hingga pelatihan harian. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi diarahkan supaya nama usaha lokal masuk ke ekosistem pencarian Google dan lebih mudah ditemukan pengguna internet.

Pendampingan juga menyentuh sisi pemasaran yang praktis. Pemerintah desa membantu pembuatan akun Instagram, pendaftaran pada aplikasi pengantaran makanan, dan penggunaan platform e-commerce untuk usaha non-kuliner agar pasar bisa meluas ke luar desa.

20 UMKM dipilih untuk pembekalan khusus

Dari total 200 pelaku usaha yang masuk database desa, pemerintah desa menyaring 20 UMKM terpilih untuk mendapat pembekalan tambahan. Mereka mengikuti program yang disebut Pasar Raya UMKM Desa Cikeas dengan fokus pada penjenamaan dan teknik pengemasan produk.

Mayoritas usaha warga Cikeas bergerak di sektor kuliner, terutama makanan olahan berbasis tepung. Intervensi teknologi dan pendampingan usaha itu membantu warga memahami digitalisasi sekaligus memperluas jangkauan distribusi produk.

Dari sisi pengembangan desa, pola ini membuat promosi wisata dan penguatan usaha lokal berjalan beriringan. Desa tidak berdiri hanya sebagai lokasi kunjungan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas.

BUMDes ayam petelur jadi mesin uang baru

Dampak pembinaan terasa pada unit usaha BUMDes yang diarahkan ke peternakan ayam petelur. Hasan menyebut BUMDes mulai berjalan sejak Oktober 2025 setelah desa mengikuti Desa BRILiaN pada Juli-Agustus.

Operasional peternakan ini dijalankan oleh 10 orang yang terdiri dari pengurus dan karyawan. Sejak Februari 2026, produktivitas unit usaha itu menunjukkan tren kenaikan yang positif.

Peternakan tersebut mencatat omzet sekitar Rp 1 juta per hari dengan keuntungan bersih mencapai Rp 10 juta per bulan. Dari keuntungan itu, 25 persen disetorkan sebagai sumbangan untuk Pendapatan Asli Desa atau PADes.

Kapasitas produksi telur harian berada di kisaran 40 hingga 70 kilogram. Hasil panen itu langsung diserap oleh pelaku UMKM kuliner di Desa Cikeas, sehingga terbentuk ekosistem ekonomi lokal yang saling menguatkan.

Hasan menyebut stok telur bahkan kerap habis dan tidak selalu dapat memenuhi permintaan dari luar. Kondisi itu menunjukkan produk BUMDes sudah punya pasar yang hidup di lingkungan desa dan menjadi penggerak baru bagi perputaran usaha warga.

Perbankan ikut menopang aktivitas ekonomi desa

Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI menjadi instrumen permodalan yang paling banyak diakses warga sekitar. Kehadiran AgenBRILink di area pemukiman juga mempermudah transaksi harian, termasuk menabung tanpa harus datang ke kantor cabang bank.

Mantri BRI Unit Cimahpar, Win Zikra, menjelaskan bahwa layanan perbankan di Desa Cikeas mencakup permodalan dan edukasi finansial. BRI juga terus mendorong penggunaan aplikasi BRImo untuk efisiensi transaksi.

Win menilai ada lonjakan adaptasi digital perbankan oleh warga sejak desa mengikuti program pembinaan terpadu. Ia berharap kerja sama desa dan perbankan ke depan makin kuat, baik dalam sektor permodalan maupun edukasi digital untuk UMKM.

Di sisi lain, pemerintah desa menargetkan pengelolaan ekosistem wisata Cikeas bisa lebih terarah mulai tahun 2026. Harapannya, desa mampu menarik wisatawan dari luar dan membuat manfaat ekonomi program ini semakin terasa bagi warga.

Baca Juga

Back to top button