Pasar PHEV Indonesia sedang menunjukkan dua wajah sekaligus. Penjualan bulan lalu turun 10 persen dibanding bulan sebelumnya, tetapi secara tahunan masih melesat lebih dari 400 persen.
Kontras ini menandakan segmen plug-in hybrid electric vehicle masih bertumbuh kuat, meski ritmenya belum stabil dari satu bulan ke bulan lain. Di tengah kondisi itu, merek-merek asal China justru makin menonjol dan mulai mengubah peta persaingan.
Pasar yang dulu kecil kini jauh lebih ramai
Beberapa waktu lalu, pilihan PHEV di Indonesia masih sangat terbatas. Jumlah model yang dijual jauh lebih sedikit, bahkan kalah ramai dibanding mobil listrik saat trennya mulai naik.
Harga juga pernah menjadi penghalang besar karena tidak sedikit model PHEV dipasarkan di atas Rp 1 miliar. Kini situasinya berubah karena semakin banyak model masuk, sehingga kompetisi di segmen ini terasa lebih padat.
Penjualan turun bulanan, tetapi tetap melonjak tahunan
Total penjualan PHEV pada bulan lalu tercatat 512 unit. Angka itu turun dari 569 unit pada bulan sebelumnya, atau terkoreksi 10 persen.
Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, hasilnya jauh lebih kuat. Penjualan PHEV tumbuh 416,1 persen dan menegaskan bahwa pasar ini masih berada dalam fase ekspansi.
Secara akumulatif, Januari-Mei 2025 juga menjadi capaian baru. Sepanjang periode itu, penjualan PHEV mencapai 2.601 unit, jauh melampaui 504 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Chery Group memimpin daftar penjualan
Di pasar yang semakin padat, Chery Group tampil paling dominan. Empat model milik grup ini masuk daftar 10 besar penjualan PHEV bulan lalu.
Chery Tiggo 8 CSH menjadi model terlaris dengan 234 unit. Di belakangnya ada Tiggo 9 CSH dengan 77 unit, yang tetap memperlihatkan kuatnya posisi Chery di segmen PHEV.
Tiga model lain dari grup yang sama juga mencatat penjualan. Jaecoo J8 SHS terjual 50 unit, sedangkan Jaecoo J7 SHS membukukan 3 unit.
Merek lain ikut mengisi persaingan
Di luar Chery Group, Wuling Eksion PHEV mencatat 65 unit dan menjadi salah satu model yang menonjol. Hasil itu juga berada di atas Darion PHEV yang meraih 41 unit.
Geely Starray EM-i turut masuk daftar dengan 23 unit. Model ini masih berada di bawah beberapa mobil listrik Geely, termasuk EX2, yang disebut cukup laris karena harganya lebih terjangkau.
Dari segmen premium, Mazda CX-80 PHEV membukukan 10 unit. Lexus RX 450+ menyusul dengan 9 unit, angka yang masih dianggap wajar untuk kelas premium.
Merek Jepang masih hadir, tetapi porsinya kecil
Kehadiran Mazda dan Lexus menunjukkan bahwa pasar PHEV belum sepenuhnya dikuasai satu negara asal. Meski begitu, volume keduanya masih sangat kecil dibanding Chery atau Wuling.
Komposisi pasar bulan lalu memperlihatkan bahwa merek China masih memegang kendali utama. Chery Group, Wuling, dan Geely menjadi nama yang paling menonjol, sementara merek Jepang mengisi bagian yang jauh lebih kecil.
SUV masih menjadi bentuk favorit
Sebagian besar model PHEV yang dijual di Indonesia masih berbentuk SUV. Jenis ini tampaknya paling diminati konsumen di segmen tersebut, meski pilihannya kini semakin beragam.
Ada pula pergeseran menarik dari pabrikan yang mulai membuka opsi lain. Wuling hingga BYD mulai membawa MPV PHEV ke pasar Indonesia, sehingga konsumen tidak lagi hanya disodori SUV.
Dengan pasar yang makin ramai, penjualan PHEV memang sempat melemah dalam jangka pendek. Tetapi data bulan lalu tetap menunjukkan segmen ini masih punya daya tarik kuat dan terus berkembang di Indonesia.
