Pengisian nirkabel memang menawarkan kenyamanan, tetapi di banyak situasi justru membuat listrik lebih cepat terbuang. Saat efisiensi, kecepatan, dan biaya ikut dihitung, kabel USB sering terlihat sebagai pilihan yang lebih cerdas untuk pemakaian harian.
Masalahnya bukan hanya soal praktis atau tidak. Proses induksi pada wireless charging membuat energi melewati lebih banyak tahap, sehingga sebagian daya berubah menjadi panas sebelum benar-benar masuk ke baterai.
Kenapa daya lebih banyak hilang di charger nirkabel
Pengisian nirkabel bekerja lewat kumparan yang menciptakan medan magnet, lalu energi ditangkap kembali oleh perangkat dan diubah menjadi arus searah. Setiap tahap itu membuka peluang kehilangan energi, dari konversi AC ke DC hingga perpindahan lewat fluks magnetik.
Kondisi itu makin terasa pada frekuensi tinggi sekitar 140KHz. Pada titik ini, Skin Effect mengurangi area konduksi efektif pada kabel tembaga kumparan dan ikut membuang sebagian energi menjadi panas.
Itulah sebabnya ponsel sering terasa hangat saat dicas tanpa kabel. Panas tersebut menjadi tanda bahwa tidak semua listrik masuk ke baterai, karena sebagian sudah hilang di jalur pengisian.
Efisiensi juga sangat bergantung pada posisi perangkat di atas pad. Jika ponsel tidak diletakkan pas, kecepatan bisa turun dan pemborosan energi justru meningkat.
Selisih dengan kabel masih cukup jauh
Format seperti MagSafe dan Qi2 membantu menyelaraskan posisi lewat magnet, tetapi tetap belum ideal jika ada penghalang. Casing tipis pun bisa menambah hambatan dan mengurangi efisiensi.
Bahkan saat tidak dipakai, charger nirkabel tetap menarik daya. iFixit mencatat konsumsi siaga rata-rata sekitar 0,2W, sementara banyak charger berkabel bisa benar-benar mati saat tidak digunakan.
Dalam skenario ideal, Qi2 dan pad setara MagSafe masih kehilangan sekitar 12 hingga 20 persen energi. Pada pengisian Qi biasa, kehilangan itu naik menjadi 25 hingga 40 persen.
Sebagai pembanding, pengisian USB-C berkabel yang umum hanya kehilangan sekitar 5 hingga 10 persen energi. Artinya, untuk tugas yang sama, kabel umumnya jauh lebih hemat listrik.
| Metode Pengisian | Kehilangan Energi | Catatan |
|---|---|---|
| Qi2 / setara MagSafe | 12–20% | Dalam skenario ideal |
| Qi biasa | 25–40% | Lebih boros dibanding Qi2 |
| USB-C berkabel | 5–10% | Umumnya paling efisien |
Selisih itu mungkin tidak terasa besar dalam satu kali isi daya. Namun, jika dipakai berulang dan di banyak perangkat, pemborosan akan menumpuk dan ikut membebani konsumsi listrik rumah.
iFixit menyebut charger 15W MagSafe atau Qi2 memakai listrik setara menyalakan lampu LED 10W selama 24 hari penuh. Karena itu, kabel lebih masuk akal bila tujuan utamanya memang menekan biaya listrik dan mengurangi energi terbuang.
Kapan kabel jelas lebih unggul
Wireless charging juga kalah cepat dalam banyak kondisi. Qi2 dan MagSafe terbaru berada di puncak 25W, sementara kecepatan hingga 100W biasanya butuh charger khusus pabrikan dengan pendinginan agresif yang cenderung berisik.
Di sisi lain, pengisian berkabel lebih mudah ditemukan dalam kelas daya tinggi. Google Pixel 10 Pro mendukung hingga 30W dengan adaptor yang kompatibel, Samsung Galaxy S26 Ultra mendukung 60W, dan OnePlus 15 bisa mencapai 80W hingga 100W dengan charger yang sangat proprietary.
Perbedaan itu terasa jelas saat baterai hampir habis dan waktu terbatas. Galaxy S26 Ultra bisa mencapai 50 persen dalam 15 menit pada 60W, sedangkan pad Qi2 memerlukan sekitar 33 menit.
Jika semalam lupa mengisi daya, selisih waktu seperti itu bisa menentukan apakah ponsel cukup bertahan sampai pulang kerja. Dalam situasi semacam ini, kabel jauh lebih aman dipilih daripada berharap pada pad nirkabel yang lebih lambat.
Wireless charging tetap punya tempat
Meski boros, wireless charging tidak otomatis salah untuk semua orang. Di mobil, charger nirkabel bisa menghemat waktu saat sedang terburu-buru dan membebaskan satu port USB untuk penumpang.
Untuk perangkat yang dipakai bersamaan, charger nirkabel multi-device juga berguna saat ruang kabel terbatas. Selain itu, sebagian orang lebih nyaman tanpa kabel yang mudah tersangkut dan membuat ponsel tertarik jatuh.
Namun untuk penggunaan harian yang mengejar efisiensi, kabel masih unggul. Jika waktu singkat, konsumsi listrik lebih rendah, dan pengisian lebih cepat jadi prioritas, mencolokkan kabel beberapa detik sering kali lebih masuk akal.







