Ilmuwan Cemas, Pusat Data Orbit Bisa Mengganggu Teleskop Bumi Secara Serius

Rencana membangun pusat data di orbit memunculkan kekhawatiran baru di kalangan ilmuwan. Mereka menilai proyek semacam itu bisa memperburuk gangguan terhadap teleskop berbasis darat, terutama jika jumlah satelit terus bertambah besar.

Masalahnya bukan hanya soal lalu lintas antariksa yang makin padat. Satelit juga bisa mengubah kualitas langit malam, sehingga pengamatan objek langit yang redup menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Dua jalur gangguan yang paling dikhawatirkan

Peneliti menjelaskan bahwa satelit mengganggu astronomi lewat dua cara utama. Pertama, permukaan satelit memantulkan cahaya Matahari dan membuat langit malam lebih terang.

Kedua, satelit yang melintas di depan bidang pandang teleskop meninggalkan jejak terang atau satellite streaks. Jejak ini bisa merusak citra astronomi dan membuat sebagian data ilmiah tidak lagi akurat, bahkan tidak bisa dipakai.

Jalur GangguanDampak UtamaEfek ke Observasi
Pantulan cahaya satelitLangit malam menjadi lebih terangObjek redup makin sulit terlihat
Jejak satelit di depan teleskopSatellite streaks pada citraData ilmiah bisa rusak atau tak bisa dipakai

Simulasi dari European Southern Observatory menunjukkan langit yang makin terang juga memaksa teleskop memakai waktu pencahayaan atau exposure lebih lama. Dampaknya langsung terasa pada efisiensi observasi, biaya operasional, dan jumlah penelitian yang bisa dilakukan.

Pusat data orbit ikut disorot

Perhatian kini mengarah ke gagasan pusat data di orbit yang akan memakai satelit sebagai infrastruktur komputasi untuk kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan. Desain satelit itu disebut sudah dioptimalkan agar pantulan cahayanya lebih kecil dibanding satelit konvensional.

Meski begitu, para peneliti menilai risiko tetap harus dihitung jika peluncurannya mencapai skala sangat besar. Proposal yang beredar bahkan menyebut kemungkinan hingga jutaan satelit dalam jangka panjang, dan itu dinilai bisa menumpuk dampak cahaya meski tiap satelit dibuat lebih redup.

Lokasi terpencil tidak otomatis aman

Astronom menilai polusi cahaya dari kota masih bisa diakali dengan membangun observatorium di tempat terpencil. Namun, gangguan dari satelit tidak mengenal batas geografis karena objek itu mengorbit seluruh Bumi.

Artinya, teleskop di Gurun Atacama, Antarktika, maupun wilayah jauh dari permukiman tetap bisa terdampak. Para ilmuwan memperingatkan bahwa efek ini dapat mengurangi manfaat teleskop besar yang dibangun dengan investasi sangat mahal dan dirancang untuk pengamatan jangka panjang.

Regulasi diminta lebih ketat

Komunitas astronomi internasional meminta regulator melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyetujui proyek besar di orbit. Mereka menilai ruang angkasa adalah sumber daya bersama yang dampaknya dirasakan secara global.

Selain pusat data orbit, peneliti juga menyoroti proposal konstelasi satelit lain yang bisa memperparah situasi. Salah satunya adalah rencana peluncuran puluhan ribu satelit pemantul cahaya Matahari, yang menurut simulasi ESO berpotensi menimbulkan polusi cahaya jauh lebih besar daripada konstelasi satelit komunikasi biasa.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 14.000 satelit yang mengorbit Bumi. Jumlah itu masih jauh dari ambang yang diperkirakan bisa melumpuhkan astronomi berbasis darat, tetapi ilmuwan menilai langkah mitigasi dan regulasi harus disiapkan sejak awal agar observasi langit tetap berjalan optimal di masa mendatang.

Jika pertumbuhan satelit terus melaju tanpa kendali, observatorium darat bisa menghadapi tantangan yang semakin berat. Bagi astronom, persoalannya bukan lagi sekadar langit yang ramai, melainkan potensi hilangnya kemampuan membaca semesta dari Bumi.

Source: www.medcom.id
Terkait