Camar-kejar pomarin punya reputasi sebagai perompak laut. Burung ini tidak hanya terbang jauh dari wilayah Arktik, tetapi juga dikenal agresif saat merebut makanan dari burung laut lain.
Di lautan Indonesia, spesies ini termasuk yang paling sering terlihat saat bermigrasi. Penampilannya memang menyerupai camar, tetapi perilakunya jauh lebih garang dan sangat khas.
Burung laut terbesar di kelompok jaeger
Camar-kejar pomarin memiliki nama ilmiah Stercorarius pomarinus. Di Amerika, burung ini disebut pomarine jaeger, dan termasuk kelompok jaeger yang juga mencakup camar-kejar kecil serta camar-kejar arktika.
Di antara kelompok itu, camar-kejar pomarin merupakan yang terbesar. Menurut Birds of the World, panjang tubuhnya mencapai 46—51 sentimeter dengan rentang sayap 1,25—1,38 meter.
| Jenis | Panjang Tubuh | Rentang Sayap | Ciri Umum |
|---|---|---|---|
| Camar-kejar Pomarin | 46—51 cm | 1,25—1,38 m | Jaeger terbesar |
| Camar-kejar Kecil | Tidak disebutkan | Tidak disebutkan | Termasuk kelompok jaeger |
| Camar-kejar Arktika | Tidak disebutkan | Tidak disebutkan | Termasuk kelompok jaeger |
Betinanya juga lebih berat, dengan bobot sekitar 750 gram. Jantannya rata-rata sekitar 650 gram, sehingga perbedaan ukuran antarkelamin cukup jelas.
Mirip camar, tapi punya rumbai ekor yang unik
Secara visual, camar-kejar pomarin mudah disangka burung camar biasa. Tubuhnya lebih kekar, paruhnya lebih tebal, dan bulu-bulunya cenderung kecokelatan.
Spesies ini memiliki dua bentuk warna, yakni bentuk terang dengan kepala hitam dan dada putih krem, serta bentuk gelap yang cokelat muram seragam. Keduanya sama-sama memiliki bercak putih di sayap yang sering membantu pengamat burung mengenalinya di lapangan.
Ciri paling khasnya ada pada dua bulu ekor panjang di bagian tengah yang melengkung 90 derajat dan berujung tumpul seperti sendok. BioDB menyebut tidak ada burung lain yang memiliki bentuk bulu ekor seperti itu.
Hidup di laut lepas, lalu muncul di Indonesia
Camar-kejar pomarin adalah burung laut pelagis, artinya lebih banyak hidup di laut lepas saat musim dingin. Saat itu, burung ini jarang berada jauh di daratan dan menyebar di perairan dekat berbagai benua.
Wilayah berbiaknya berada di tundra Rusia bagian utara, Alaska bagian utara, dan Kanada bagian utara. Saat musim dingin, burung ini dapat menyebar di laut dan dekat pantai di antara Garis Balik Utara dan khatulistiwa, termasuk di sekitar Australia.
Indonesia juga termasuk jalur yang kerap dilalui spesies ini. Karena itu, camar-kejar pomarin menjadi jenis camar-kejar yang paling sering terlihat di lautan Indonesia saat bermigrasi.
Perilaku berburu yang membuatnya dijuluki perompak
Strategi makan burung ini berbeda dari kebanyakan burung laut. Alih-alih mencari ikan sendiri, camar-kejar pomarin lebih sering mencuri hasil tangkapan burung laut lain.
Sasaran utamanya antara lain burung camar tiga jari dari marga Rissa dan burung dara-laut. Ia mengejar, menukik dari ketinggian, lalu berbelok tajam untuk membuat korban panik dan menjatuhkan makanannya.
Saat mangsa terlepas, burung ini langsung menangkapnya di udara. Cara berburu itu terlihat brutal, tetapi membutuhkan tenaga besar dan keterampilan terbang yang sangat tinggi.
Pola makan berubah total saat musim kawin
Saat musim dingin, camar-kejar pomarin bebas mencuri ikan dari burung lain. Namun, ketika kembali ke tempat berbiak, pola makannya berubah drastis.
Di musim kawin, burung ini hampir hanya memakan leming atau tikus-kutub. Hewan pengerat kecil itu mengisi sekitar 90 persen makanannya, sementara sisanya kadang berupa telur burung.
Keberhasilan reproduksinya sangat bergantung pada populasi leming. Kondisi bersarang yang ideal terjadi di tundra basah dataran rendah dekat pantai Arktik, terutama saat populasi leming meledak.
Karena itu, burung ini hanya berhasil berkembang biak sekitar sekali dalam tiga atau empat tahun. Jika leming langka, camar-kejar pomarin memilih tidak kawin dan kembali ke laut.
