Pasar energi global memasuki fase yang lebih rentan karena stok minyak yang selama ini dipakai sebagai penahan krisis sudah banyak terkuras. Ketika gangguan pasokan baru muncul, ruang untuk meredam gejolak harga dan kelangkaan minyak tidak lagi sebesar pada fase awal ketegangan sebelumnya.
Kerentanan ini menjadi perhatian di tengah konflik di Timur Tengah yang terus membayangi jalur distribusi energi utama. Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif karena gangguan operasional di kawasan tersebut dapat langsung menghambat arus minyak mentah global.
International Monetary Fund (IMF) mencatat defisit pasokan mencapai 4 juta barel per hari sepanjang Maret hingga Mei. Kekurangan itu dapat ditutup dengan menguras persediaan yang tersedia, tetapi langkah tersebut juga mengurangi bantalan dunia untuk menghadapi tekanan berikutnya.
IMF menilai pasar pada awalnya masih memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap guncangan. “Yang meredam dampak awal kali ini adalah pasar energi memiliki ruang untuk bermanuver dan menyerapnya,” tulis IMF dalam pernyataannya yang dikutip CNN Internasional.
Namun, kemampuan itu tidak bersifat permanen karena cadangan yang telah digunakan perlu diisi kembali. IMF memperingatkan, “Kecuali persediaan diisi kembali, dunia akan memulai dari posisi yang lebih lemah ketika guncangan berikutnya datang.”
Penahan Krisis yang Mulai Menyusut
Sejumlah langkah darurat sebelumnya membantu pasar menahan dampak awal ketegangan Iran. Pelepasan cadangan dan penggunaan stok internal memang menutup celah pasokan, tetapi sekaligus membuat cadangan minyak dunia semakin terbatas.
| Langkah Penahan Krisis | Volume atau Kondisi | Dampak Utama |
|---|---|---|
| International Energy Agency melepas cadangan darurat | 400 juta barel | Membantu mencegah kehancuran pasar pada fase awal ketegangan Iran |
| Pasar menutup defisit pasokan | 4 juta barel per hari, Maret hingga Mei | Defisit diserap melalui pengurangan stok yang tersedia |
| China menahan aktivitas kilang domestik | Volume tidak disebutkan | Mengandalkan stok internal dan tidak membeli agresif di pasar internasional |
Pelepasan 400 juta barel cadangan darurat oleh International Energy Agency menjadi salah satu instrumen utama untuk menenangkan pasar pada tahap awal. Sementara itu, China memilih menahan aktivitas kilang domestiknya dan menggunakan stok internal ketimbang meningkatkan pembelian secara agresif di pasar internasional.
Strategi tersebut membantu membatasi tekanan ketika pasokan terganggu, tetapi tidak menghilangkan risiko struktural yang tersisa. Pengisian kembali cadangan strategis membutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga stok yang telah dipakai tidak dapat segera dipulihkan ketika pasar kembali bergejolak.
China Berpotensi Menambah Persaingan Pasokan
Goldman Sachs memperkirakan China akan kembali membeli minyak mentah dalam volume besar di pasar internasional. Beijing disebut perlu mengisi ulang tangki penyimpanannya setelah harga minyak turun dari level tertinggi.
Jika pembelian besar itu terjadi, persaingan untuk mendapatkan pasokan dapat meningkat pada saat stok darurat dunia menipis. Tekanan tidak hanya datang dari gangguan jalur distribusi, melainkan juga dari permintaan pengisian cadangan oleh konsumen besar seperti China.
Posisi Selat Hormuz menjadi sangat menentukan dalam kondisi tersebut karena jalur ini merupakan urat nadi logistik minyak mentah dunia. Gangguan di kawasan itu berpotensi mengurangi kelancaran distribusi dan memperbesar dampak defisit pasokan terhadap pasar energi global.
Pasar minyak kini menghadapi situasi ketika pelindung utama yang pernah dipakai untuk menahan krisis mulai berkurang. Jika konflik di Timur Tengah kembali meningkat, dunia akan menanggung guncangan dengan cadangan yang lebih tipis dan kemampuan respons yang lebih terbatas.
