Persaingan mobil entry level di Indonesia mulai bergeser dari sekadar harga beli ke biaya yang harus dibayar setiap bulan. Di titik ini, BYD Atto 1 dan Honda Brio tampil sebagai dua pilihan yang sama-sama terjangkau, tetapi dengan beban operasional yang sangat berbeda.
Perbedaan itu membuat calon pembeli perlu menghitung ulang total pengeluaran, bukan hanya angka di showroom. Saat mobil dipakai harian di kota besar, selisih biaya listrik dan bahan bakar bisa menjadi faktor yang paling terasa.
BYD Atto 1 unggul di biaya pemakaian harian
BYD Atto 1 datang sebagai mobil listrik modern dengan motor 75 dk dan torsi 135 Nm. Pabrikan menyediakan dua pilihan baterai dengan jarak tempuh sekitar 300 kilometer hingga 380 kilometer saat penuh.
Dari simulasi pengujian, konsumsi energinya berada di kisaran 8,5 kilometer per kWh. Dengan pemakaian rutin 100 hingga 120 kilometer per hari, jarak tempuh bulanan bisa mencapai 3.000 sampai 3.600 kilometer.
Jika pola itu diterapkan, kebutuhan listrik bulanan berada di kisaran 353 sampai 424 kWh. Dengan tarif listrik rumah sekitar Rp1.444 per kWh, biaya pengisian hanya sekitar Rp509 ribu sampai Rp612 ribu per bulan.
Kalau pengisian lebih sering dilakukan di SPKLU dengan tarif sekitar Rp2.500 per kWh, biaya bulanannya masih berada di kisaran Rp847 ribu hingga Rp1,06 juta. Di luar itu, servis mobil listrik juga dinilai lebih ringan karena komponen mesinnya lebih sederhana.
Honda Brio tetap kuat lewat kepraktisan
Honda Brio masih menjadi salah satu city car paling populer di Indonesia. Mobil ini dikenal hemat bahan bakar, lincah untuk jalan padat, dan didukung jaringan servis yang luas.
Brio memakai mesin 1.200 cc dengan tenaga sekitar 90 dk dan torsi 110 Nm. Hasil pengujian efisiensi menunjukkan konsumsi bahan bakar di kisaran 16 kilometer per liter hingga 20 kilometer per liter.
Untuk jarak 3.000 sampai 3.600 kilometer per bulan, kebutuhan bensin Brio diperkirakan mencapai 150 sampai 225 liter. Jika menggunakan Pertamax seharga Rp12.300 per liter, biaya bulanan yang perlu disiapkan berkisar Rp1,84 juta hingga Rp2,77 juta.
Selisih itu membuat BYD Atto 1 terlihat jauh lebih ringan dari sisi biaya operasional. Namun Brio masih punya keunggulan pada pengisian yang hanya butuh beberapa menit dan infrastruktur SPBU yang hampir tersedia di seluruh wilayah Indonesia.
Yang kini dihitung bukan lagi harga awal
Perbandingan BYD Atto 1 dan Honda Brio menunjukkan perubahan cara konsumen memilih mobil murah. Faktor penentu tidak lagi berhenti pada harga beli, tetapi bergeser ke total biaya pemakaian selama mobil digunakan.
BYD Atto 1 menawarkan efisiensi yang menarik bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, terutama karena biaya listrik dan servis bisa lebih rendah. Sebaliknya, Honda Brio tetap relevan bagi mereka yang mengutamakan kepraktisan, jaringan bengkel luas, dan nilai jual kembali yang selama ini dikenal stabil.
Karena itu, duel keduanya bukan hanya soal mobil mana yang lebih terjangkau di awal. Persaingan ini memperlihatkan bahwa pasar otomotif Indonesia mulai menilai mobil murah dari biaya hidupnya, bukan sekadar dari label harga di kaca showroom.







