BUMDes dan Koperasi Desa Didorong Jadi Urat Nadi Makan Bergizi Gratis di Jateng

Author: Cung Media

Program Makan Bergizi Gratis di Jawa Tengah kini didorong menjadi penggerak ekonomi desa, bukan sekadar kebijakan pemenuhan gizi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat posisi BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai tulang punggung rantai pasok pangan program tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan desa perlu mengambil peran lebih besar dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan untuk MBG. Skema itu mencakup penghimpunan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan, lalu menyalurkannya ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.

Ekosistem pangan desa didorong lebih mandiri

Luthfi menilai keterlibatan desa akan membuat nilai tambah program berputar lebih luas di tingkat lokal. Menurut dia, manfaat ekonomi harus langsung dirasakan masyarakat setempat dan tidak berhenti di tahap kerja sama administratif.

Pemprov Jateng juga mendorong BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih mengelola SPPG secara langsung. Dengan cara itu, rantai pasok MBG dari produksi hingga distribusi makanan bergizi diharapkan bisa dikelola oleh masyarakat desa sendiri.

Luthfi meminta kerja sama yang sudah dibangun tidak berhenti pada penandatanganan MoU. Ia menekankan perlunya cek, recheck, dan final check agar program benar-benar berjalan dan memberi manfaat nyata.

Pemerintah provinsi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan dan kendala pelaksanaan MBG. Pemanfaatan potensi dan produk unggulan lokal disebut harus menjadi prioritas agar program tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan warga desa.

Modal besar dari koperasi dan desa

Berdasarkan data Pemprov Jateng, Program MBG di provinsi itu akan melayani lebih dari sembilan juta penerima manfaat melalui 4.382 SPPG. Jawa Tengah juga memiliki lebih dari 8.500 Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai menjadi modal penting untuk membangun ekosistem pangan berbasis desa.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan seluruh SPPG harus memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di desa. Ia menyampaikan Koperasi Desa Merah Putih dibentuk untuk menjadi penggerak ekonomi desa.

Zulkifli juga menegaskan SPPG wajib membeli bahan pangan dari Koperasi Desa Merah Putih, BUMDes, koperasi desa, atau usaha desa lainnya. Menurut dia, pasokan dari luar tidak boleh dipilih jika potensi bahan pangan itu tersedia di desa.

Sinergi yang diharapkan menggerakkan ekonomi lokal

Ketua DPP Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia, Wargiyati, menilai sinergi antara Koperasi Desa, BUMDes, dan SPPG dapat memperkuat perekonomian desa. Ia melihat peningkatan permintaan terhadap hasil produksi masyarakat sebagai kunci agar roda ekonomi desa terus bergerak.

Wargiyati berharap Koperasi Desa dan BUMDes menjadi pemasok utama bahan pangan sesuai potensi masing-masing desa. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat di tingkat desa diharapkan ikut meningkat seiring kebutuhan program MBG.

Luthfi juga mengusulkan operasional dapur SPPG menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan seperti Compressed Natural Gas. Langkah itu disebut dapat membuat program lebih efisien sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penguatan ekosistem MBG itu ditandai dengan penandatanganan dukungan terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang diprakarsai DPP Papdesi di Semarang. Dalam kegiatan yang sama, Papdesi juga meneken nota kesepahaman dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk memperkuat kolaborasi BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, dan SPPG.

Source: timesindonesia.co.id
Terbaru