Bryan Johnson kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena obsesinya pada awet muda, melainkan karena penyakit yang justru menyerang tubuhnya secara diam-diam. Sosok yang selama ini identik dengan gaya hidup ekstrem itu mengaku menghadapi gastritis autoimun yang memengaruhi lambungnya.
Kontras ini terasa mencolok karena Johnson selama bertahun-tahun dikenal sangat ketat menjaga tubuhnya. Namun, penyakit autoimun tetap bisa berkembang perlahan tanpa gejala yang mudah dikenali, bahkan pada seseorang yang sangat disiplin soal kesehatan.
Perubahan besar dari eksperimen awet muda ke masalah kesehatan serius
Nama Johnson sempat ramai dibicarakan pada 2023 setelah ia melakukan pertukaran darah dengan putranya yang berusia 17 tahun demi mengejar tujuan awet muda. Prosedur transfusi darah tiga generasi itu dilakukan di sebuah klinik di Dallas, Texas, bersama ayah dan anaknya.
Dalam prosedur tersebut, masing-masing mendonorkan satu liter darah yang kemudian dipisahkan menjadi plasma, trombosit, serta sel darah merah dan putih. Darah itu lalu dimasukkan kembali ke tubuh Johnson dengan harapan memperbaiki kerusakan sel akibat penuaan.
| Detail | Keterangan |
|---|---|
| Usia Johnson saat itu | 45 tahun |
| Hasil yang diklaim | Jantung 37 tahun, kulit 28 tahun, kapasitas paru-paru dan kebugaran seperti anak 18 tahun |
| Pola makan | 1.997 kalori per hari |
| Persentase lemak tubuh | 5-6 persen |
Selain eksperimen itu, Johnson juga menjalani pola hidup yang sangat ketat. Ia mengonsumsi 1.997 kalori per hari dan menjaga persentase lemak tubuhnya di kisaran 5-6 persen.
Gastritis autoimun yang berkembang tanpa disadari
Melalui unggahan di X, Johnson mengatakan bahwa sistem kekebalan tubuhnya menyerang lambung. Ia menggambarkan kondisinya dengan kalimat, “Perutku sedang memakan dirinya sendiri.”
Menurut Times of India, pria berusia 48 tahun itu menyebut gastritis autoimun atau AIG tersebut telah berkembang diam-diam selama bertahun-tahun. Satu-satunya petunjuk yang ia sadari hanyalah kadar zat besi yang rendah secara terus-menerus.
Johnson juga mengaitkan kondisi itu dengan masa kecil dan masa dewasa mudanya. Ia bercerita pernah banyak mengonsumsi sereal manis, minuman soda manis, dan makanan cepat saji, lalu kesehatannya menurun ketika menjadi ayah muda dari tiga anak dan membangun bisnis.
Setelah berat badannya naik 40 pon atau sekitar 18 kg, ia mengalami depresi kronis. Menurut penuturannya, dari situ tubuhnya mulai mengembangkan proses autoimun yang memengaruhi tiroid lalu berlanjut ke lapisan perut.
Apa yang terjadi pada AIG
Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Reviews Disease Primers menjelaskan bahwa pada gastritis autoimun, sel imun menargetkan sel parietal lambung dan menghancurkannya. Sel ini berfungsi menghasilkan asam lambung dan faktor intrinsik yang dibutuhkan untuk penyerapan vitamin B12.
Berbeda dari gastritis biasa yang umumnya terkait infeksi atau iritasi makanan, AIG dipicu serangan imun terhadap pompa proton lambung atau H+/K+ ATPase. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen, kekurangan nutrisi, anemia, dan peningkatan risiko kanker dalam jangka panjang.
Johnson mengatakan dirinya baru mengetahui kondisi itu pada bulan Mei lalu dan tidak yakin sudah berapa lama mengidapnya. Ia juga menilai perawatan medis standar sering kali lebih fokus pada pengelolaan kondisi daripada penyembuhan ketika AIG ditemukan terlambat.
Pada usia 21 tahun, Johnson ternyata juga pernah didiagnosis hipotiroidisme yang terkait kekebalan tubuh. Ia mengonsumsi obat setiap hari dan menjalani terapi agar tubuhnya berfungsi dengan baik, tetapi penyakit lain disebut berkembang tanpa gejala.
Saat ini, Johnson mencoba berbagai cara untuk mengatasinya, termasuk diagnostik baru, kecerdasan buatan, dan eksperimen. Kisahnya kini bergerak dari figur yang identik dengan upaya menolak tua menjadi pasien yang harus menghadapi penyakit autoimun yang tidak mudah dikenali.
