
Persaingan retail premium di kota-kota besar Indonesia kini bergerak ke arah baru. Brand global tidak lagi hanya mengandalkan produk unggulan dan lokasi toko strategis, tetapi juga membangun pengalaman belanja yang terasa lebih personal, relevan, dan dekat dengan kehidupan konsumen urban.
Perubahan itu terlihat jelas di pusat-pusat perbelanjaan utama, tempat toko fisik mulai diposisikan sebagai ruang untuk mengenal cerita, nilai, dan identitas merek. Bagi konsumen perkotaan, pengalaman di toko kini sama pentingnya dengan fungsi produk yang dibawa pulang.
Toko fisik berubah jadi ruang interaksi
Victorinox menjadi salah satu contoh paling menonjol lewat pembukaan pop-up store kedua di Kota Kasablanka, Jakarta. Format ini dikembangkan sebagai “Experience Hub” yang memadukan storytelling, interaksi produk, dan instalasi bertema gaya hidup urban.
Sebelumnya, brand asal Swiss itu juga membuka pop-up store pertama di Plaza Indonesia. Kehadiran dua format pop-up ini menunjukkan keseriusan brand global dalam membangun kedekatan dengan konsumen Indonesia melalui pendekatan yang lebih personal.
Country Manager LUXASIA Indonesia, Lia Amelia, menegaskan bahwa konsumen saat ini tidak lagi cukup puas hanya dengan produk yang berfungsi. Mereka juga mencari produk yang bisa merepresentasikan identitas dan mendukung gaya hidup sehari-hari.
Karena itu, toko fisik kini dibuat lebih hidup. Pengunjung tidak hanya melihat barang, tetapi juga diajak memahami latar belakang brand dan alasan di balik setiap produk yang ditampilkan.
Jakarta jadi titik penting strategi brand
Jakarta dipilih karena memiliki karakter urban yang dinamis. General Manager Lifestyle LUXASIA Indonesia, Hendra Purjaka, menyebut energi kota yang aktif sangat sesuai dengan positioning Victorinox.
Ia mengatakan, “Dynamic urban energy” Jakarta menjadi setting yang tepat agar Victorinox bisa terhubung lebih dekat dengan ritme kehidupan masyarakat kota. Penempatan pop-up di pusat perbelanjaan juga membantu brand menjangkau konsumen muda perkotaan dengan lebih mudah.
Strategi ini tidak berjalan sendiri. Perusahaan juga menggandeng key opinion leaders, media, dan komunitas untuk memperluas interaksi dengan target pasar yang lebih muda dan aktif di ruang urban.
Menampilkan perjalanan brand di dalam toko
Di dalam pop-up, Victorinox menampilkan perjalanan brand yang telah berdiri lebih dari 140 tahun. Melalui brand wall dan interactive showcase, pengunjung dapat melihat transformasi Victorinox dari pembuat Original Swiss Army Knife menjadi brand lifestyle dan travel gear global.
Pengalaman itu diperkuat dengan demonstrasi produk interaktif yang memperlihatkan fungsi, material, dan desain koleksi yang dibawa ke Indonesia. Salah satu yang disorot adalah Swiss Army Knife seri Huntsman dengan 15 fungsi dalam desain ringkas.
Victorinox juga menampilkan koleksi luggage Spectra 3.0 yang dibuat menggunakan recycled polycarbonate dan dilengkapi sistem expandable storage. Untuk kebutuhan profesional urban, brand ini menghadirkan backpack Architecture Urban2 yang menyasar mobilitas masyarakat perkotaan.
Konsumen urban mencari makna, bukan sekadar fungsi
Perubahan strategi ini sejalan dengan tren global di industri premium dan luxury. Setelah perubahan perilaku konsumen pascapandemi, banyak brand mengubah toko fisik menjadi ruang interaksi dan pengalaman, bukan sekadar titik penjualan.
Managing Director Greater China, Southeast Asia & South Korea Victorinox, Donovan Kwek, mengatakan pop-up di Kota Kasablanka merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat koneksi dengan konsumen Indonesia. Ia menyebut pendekatan yang digunakan lebih immersive dan experience-led.
Di pasar Indonesia, pendekatan seperti ini dianggap penting karena konsumen urban makin menghargai kombinasi antara functionality, craftsmanship, dan pengalaman personal. Pilihan produk harian maupun perlengkapan perjalanan kini tidak hanya soal kegunaan, tetapi juga soal cerita dan karakter brand yang dirasakan langsung di toko.
Itulah sebabnya retail experience mulai menjadi senjata utama brand global untuk merebut perhatian konsumen kota besar. Di tengah persaingan premium yang semakin ketat, toko fisik kini tidak cukup hanya tampil rapi dan lengkap, tetapi juga harus mampu memberi pengalaman yang meninggalkan kesan.
Source: mediaindonesia.com




