Potensi hujan sedang hingga sangat lebat diprakirakan masih membayangi sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 19 Juli 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga di 15 provinsi meningkatkan kesiapsiagaan terhadap banjir, genangan, serta tanah longsor.
Ancaman cuaca tidak berhenti pada curah hujan tinggi. Angin kencang dan petir dapat memperbesar risiko pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, serta gangguan perjalanan ketika jarak pandang menurun.
Tiga Provinsi Berpotensi Diguyur Hujan Sangat Lebat
Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan masuk dalam kategori potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Warga di wilayah tersebut perlu memberi perhatian lebih pada kondisi lingkungan, terutama kawasan rendah, bantaran sungai, dan daerah dengan lereng perbukitan.
Sementara itu, 12 provinsi lain berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Sebarannya meliputi sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua Pegunungan.
| Potensi Hujan | Provinsi |
|---|---|
| Sedang hingga lebat | Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan |
| Lebat hingga sangat lebat | Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan |
Curah hujan tinggi dapat memicu genangan dan banjir di kawasan dengan sistem drainase terbatas. Risiko longsor juga perlu diantisipasi di daerah berbukit atau lokasi yang tanahnya mudah bergerak saat menerima hujan berkepanjangan.
Angin Kencang Berpotensi Muncul di 8 Provinsi
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi angin kencang di delapan provinsi. Wilayah tersebut adalah Banten, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Embuan angin kuat dapat meningkatkan bahaya bagi warga yang berada di sekitar pohon besar, papan reklame, atau bangunan dengan struktur yang tidak kokoh. Masyarakat disarankan mencari tempat perlindungan yang aman apabila cuaca mulai memburuk.
| Potensi Cuaca | Jumlah Provinsi | Wilayah yang Perlu Waspada |
|---|---|---|
| Hujan sedang hingga lebat | 12 | Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua Pegunungan |
| Hujan lebat hingga sangat lebat | 3 | Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan |
| Angin kencang | 8 | Banten, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara |
Fenomena Atmosfer Mendukung Pertumbuhan Awan Hujan
Peningkatan peluang hujan dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer yang masih aktif di Indonesia. Salah satunya ialah Madden-Julian Oscillation atau MJO yang diprediksi masih aktif secara spasial di beberapa daerah.
Aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial turut memengaruhi kondisi atmosfer. Potensi pembentukan belokan angin, daerah konvergensi, dan suhu muka laut yang relatif hangat juga dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG menyatakan, “Didukung dengan potensi pembentukan belokan angin dan konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat, potensi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia masih ada.” Kombinasi faktor tersebut membuat perubahan cuaca di sejumlah daerah perlu dipantau secara berkala.
Perjalanan dan Aktivitas Luar Ruangan Perlu Disesuaikan
Pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras karena jarak pandang dapat menurun secara cepat. Kondisi jalan yang basah juga dapat mengganggu mobilitas, terutama ketika hujan disertai angin kuat.
Petir dapat terjadi bersamaan dengan hujan lebat dan embusan angin kencang. Saat kondisi itu muncul, warga sebaiknya tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berpotensi roboh.
BMKG meminta masyarakat membatasi aktivitas di ruang terbuka ketika hujan lebat, angin kencang, dan petir terjadi. Rencana perjalanan juga perlu disesuaikan dengan perkembangan cuaca ekstrem di wilayah masing-masing.
Pemantauan prakiraan serta peringatan dini dari BMKG penting dilakukan agar langkah antisipasi dapat disiapkan lebih awal. Kewaspadaan menjadi semakin penting bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, kawasan rendah, dan lereng perbukitan.
Source: www.viva.co.id






