Serangan rudal balistik dan drone Iran di Yordania menewaskan dua anggota militer Amerika Serikat saat pasukan AS dan sekutunya melakukan pertahanan. Insiden ini juga menyebabkan satu personel AS masih hilang dan empat lainnya dievakuasi untuk mendapat perawatan medis.
Korban di Yordania memperlihatkan risiko konflik yang kini menjalar ke negara-negara tempat aset dan pasukan AS berada. Ketegangan Washington dan Teheran pun meningkat setelah rangkaian serangan berlangsung di tengah ancaman perluasan operasi militer.
Korban dan Status Personel AS
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan terjadi pada Jumat, 17 Juli 2026, ketika pasukan AS bersama pasukan sekutu menghadapi serangan Iran. Pentagon menyampaikan informasi mengenai korban tersebut pada Sabtu, 18 Juli 2026, sebagaimana dilaporkan detik.com yang mengutip AFP.
| Status Personel AS | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Tewas | 2 orang | Gugur saat menghadapi serangan rudal balistik dan drone Iran |
| Hilang | 1 orang | Belum ada rincian mengenai pencarian |
| Dirawat | 4 orang | Dievakuasi ke rumah sakit di Yordania |
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengatakan, “Dua anggota militer AS tewas saat pasukan AS dan sekutu bertahan dari serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak Iran.” Lembaga itu belum memerinci identitas korban maupun unit militer tempat mereka bertugas.
Empat personel yang terluka telah dipindahkan ke rumah sakit di Yordania untuk menjalani perawatan. Kondisi mereka belum dijelaskan, sementara detail operasi pencarian bagi satu personel yang hilang juga belum diumumkan.
Ancaman Operasi Skala Penuh
Peristiwa ini terjadi ketika Iran menyatakan dapat meningkatkan skala operasinya apabila serangan AS terhadap negara tersebut terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, pejabat tinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Rezaei, yang juga disebut sebagai penasihat militer senior bagi pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyampaikan peringatan tersebut dalam wawancara dengan penyiar negara IRIB pada Jumat, 17 Juli. Ia menilai konflik bisa memasuki fase yang lebih luas jika eskalasi tidak berhenti.
“Jika serangan-serangan AS berlanjut selama dua atau tiga hari lagi, kami akan memasuki fase operasi serangan skala penuh,” kata Rezaei. Ia menegaskan Iran tidak akan lagi membatasi responsnya pada tindakan pembalasan atau respons yang sepadan.
Menurut Rezaei, tidak akan ada batas politik yang aman dari kekuatan serangan Iran jika eskalasi terus berlangsung. Ia juga memperingatkan respons Teheran dapat menjangkau wilayah di luar perbatasan Iran ketika situasi semakin memanas.
Dampak Konflik Menjalar ke Kawasan
Pejabat Iran juga menuntut Amerika Serikat membayar ganti rugi finansial atas serangan yang mereka sebut menyasar infrastruktur sipil. Washington membantah sengaja menargetkan fasilitas sipil di Teheran.
Dalam konteks yang sama, AS disebut telah menyerang target-target Iran selama tujuh malam berturut-turut. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan negara-negara Teluk yang menampung aset militer Washington.
Serangan Iran di Yordania menunjukkan dampak konflik tidak lagi hanya berpusat di wilayah Iran. Keberadaan korban tewas, personel hilang, dan personel terluka di pihak AS menempatkan Yordania sebagai salah satu lokasi yang terdampak langsung oleh eskalasi tersebut.
Source: news.detik.com






