BLT DBHCHT Jateng Cair Rp 51 Miliar, 85 Ribu Buruh Rokok Masih Menunggu Giliran

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan BLT DBHCHT senilai Rp 51 miliar untuk 85.000 pekerja sektor pertembakauan. Program ini menjadi penopang daya beli buruh yang hidup dari industri hasil tembakau dan rantai usaha pendukungnya.

Namun, pencairannya belum selesai. Hingga Senin pagi, realisasi penyaluran baru mencapai Rp 28,9 miliar atau 56,84 persen, dengan 48.313 penerima manfaat sudah menerima bantuan melalui PT Pos Indonesia.

Disalurkan di 33 kabupaten/kota

Bantuan itu dibagikan di 33 kabupaten/kota, 136 kecamatan, dan 663 desa/kelurahan. Dari total penerima, Kota Tegal dan Kabupaten Pekalongan tidak mendapat alokasi dari provinsi karena kebutuhan penerima di dua wilayah itu sudah dipenuhi anggaran daerah masing-masing.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut total penerima di provinsi itu mencapai 85.000 orang. Ia menegaskan bantuan diprioritaskan untuk buruh pabrik rokok, buruh tani tembakau, dan buruh tani cengkeh.

Rp 600 ribu untuk dua bulan

Setiap penerima manfaat mendapat Rp 600 ribu untuk alokasi dua bulan. Menurut Ahmad Luthfi, dana itu diarahkan untuk membantu kebutuhan hidup masyarakat, termasuk belanja pangan dan kebutuhan sekolah anak.

Dalam penyerahan simbolis di Pabrik PT Djarum Brak Karangbener, Luthfi juga meninjau langsung proses distribusi. Ia menyebut BLT DBHCHT sebagai hak masyarakat pekerja industri hasil tembakau yang harus diberikan pemerintah.

Kudus menerima porsi besar

Kabupaten Kudus menjadi salah satu penerima terbesar dalam program ini. Wilayah itu tercatat mendapat 26.565 penerima dengan nilai bantuan Rp 15,9 miliar, dan sekitar 5.069 di antaranya merupakan pekerja PT Djarum.

WilayahPenerimaNilai Bantuan
Jawa Tengah85.000 orangRp 51 miliar
Kudus26.565 orangRp 15,9 miliar
Realisasi sementara48.313 penerimaRp 28,9 miliar

Sejumlah penerima mengaku bantuan tunai ini langsung membantu kebutuhan rumah tangga. Wiwin Winarni, pekerja asal Trengguli, Kabupaten Demak, menyebut dana tersebut bisa dipakai untuk menyambung kebutuhan dapur.

Siti Zulaikah, buruh pengemasan asal Gembong, Pati, juga merasakan hal serupa. Ia berencana menggunakan bantuan itu untuk keperluan sekolah anak-anaknya, termasuk perlengkapan seperti sepatu dan tas menjelang kenaikan kelas.

Terkait