
Blades of Fire datang tanpa banyak gembar-gembor, tetapi justru itu yang membuatnya menarik perhatian. Game action-adventure ini menawarkan fantasi gelap dengan ide yang tidak biasa: pemain menjadi salah satu pandai besi terakhir dan harus menempa senjata sendiri untuk menjatuhkan ratu jahat.
Di tengah pasar game aksi yang padat, pendekatan seperti ini membuat Blades of Fire mudah menonjol. Walau penerimaan awal di Steam baru berada di level 82% positif, Eurogamer menilai game garapan MercurySteam, studio di balik Metroid Dread, ini jauh lebih kuat dari kesan pertamanya.
Dunia gelap dengan tujuan yang tegas
Blades of Fire dirilis di Steam pada 14 Mei 2026 dan membawa pemain ke dunia dark fantasy yang dikuasai ratu jahat. Hampir seluruh logam di negeri itu telah diubah menjadi batu, sehingga senjata bukan sekadar alat tempur, melainkan hasil kerja utama pemain.
Pemain memerankan Aran, tokoh yang memegang salah satu dari tujuh palu ilahi yang bisa mengembalikan batu menjadi baja. Perjalanannya membawa pemain melewati kastel megah, desa yang hancur, dan rawa berbau busuk sebelum berujung pada satu misi utama: menumbangkan sang ratu.
Combat cepat, tapi tetap menuntut taktik
Eurogamer menilai kekuatan terbesar game ini ada pada perpaduan pertarungan real time dan mekanik menempa yang terasa segar. Aksi tempurnya disebut sangat memuaskan, tetapi tetap menuntut taktik dan timing yang presisi.
Sistem pertarungannya jelas mengambil inspirasi dari Soulslike, namun tingkat hukumannya tidak sekejam Elden Ring. Itu membuat Blades of Fire terlihat lebih ramah bagi pemain yang ingin tantangan tanpa tekanan yang terlalu keras.
Forging jadi pusat pengalaman bermain
Elemen paling menonjol justru datang dari forging, karena game ini tidak mendorong pemain bertahan dengan satu senjata favorit. Sebaliknya, pemain diajak terus bereksperimen dengan pedang, kapak, war hammer, dan tombak.
Jenis baja yang dipakai juga memengaruhi statistik penting seperti damage, armor penetration, durability, weight, dan parry windows. Hasilnya, dua senjata dari kategori yang sama bisa terasa sangat berbeda, dari yang cepat dan ringan sampai yang lambat tetapi sangat menghancurkan.
Ada pujian, ada juga catatan
Meski banyak dipuji, respons di Steam belum sepenuhnya melonjak karena masih ada masalah kualitas hidup. Pemain sering melaporkan gangguan pada peta dan navigasi, sementara tidak ada cara mudah untuk membandingkan senjata hasil tempa secara sekilas.
Kritik lain datang dari variasi musuh yang terbatas dan dialog NPC yang terasa repetitif. Namun Eurogamer menilai pemain yang bisa menerima kekurangan itu tetap akan menemukan banyak hal menarik di dalamnya.
Harga, demo, dan dukungan perangkat
Di Steam, Blades of Fire biasanya dibanderol sekitar $40. Hingga 21 Mei, game ini mendapat diskon 25% sehingga harganya turun menjadi sekitar $30.
Demo juga tersedia bagi pemain yang ingin mencoba lebih dulu. Selain itu, status kompatibilitas Steam Deck tercatat sebagai “Playable”, sehingga game ini masih bisa dijalankan di perangkat tersebut dengan dukungan yang cukup baik.
Source: www.notebookcheck.net



