Bitcoin Terseret Lonjakan Yield Dan Minyak, Kembali Ke Area $77K

Bitcoin kembali tertekan ke area $77.400 setelah imbal hasil obligasi AS naik dan harga minyak melonjak. Kombinasi dua faktor itu membuat sentimen aset berisiko memburuk, sementara pasar kembali menilai arah suku bunga dan risiko makro yang lebih luas.

Dalam perdagangan terbaru, Bitcoin turun dari $82.000 pada Kamis menjadi di bawah $77.000 pada Minggu. Di saat yang sama, imbal hasil Treasury AS 10 tahun sempat menyentuh 4,6%, sedangkan imbal hasil 30 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak Mei 2025.

Tekanan makro menekan aset kripto

Kenaikan yield biasanya membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Pelaku pasar juga mulai menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga pada 2026 menjadi 40%.

Pelemahan itu tidak berdiri sendiri. Minyak naik 1% ke $102, sementara Nasdaq futures turun 0,3% ketika yield AS 10 tahun melonjak di atas 4,6%.

Ethereum ikut terkena tekanan lebih dalam dengan penurunan hampir 10% dalam sepekan ke $2.110. Solana juga memangkas reli sebelumnya dan kembali ke sekitar $84 setelah sempat mendekati $100.

ETF Bitcoin belum mampu menahan arus jual

Arus dana dari ETF Bitcoin spot justru menambah beban pasar. Produk-produk itu mencatat hampir $1 miliar net outflow sepanjang pekan dan memutus enam pekan beruntun inflow.

Pada hari Jumat, ETF Bitcoin sempat membukukan $290 juta net inflow. Namun, total mingguan tetap berakhir merah dengan net outflow $995 juta, sementara ETF Ethereum mencatat arus keluar $66 juta.

Tekanan ini datang bersamaan dengan likuidasi besar di pasar kripto. Total likuidasi mencapai lebih dari $672 juta saat aksi jual obligasi menekan aset digital.

Aset besar melemah, Hyperliquid justru menonjol

Di tengah pelemahan pasar, Hyperliquid menjadi salah satu aset kripto besar yang paling kuat. Token itu naik 10% dalam sepekan ke $45 dan mendapat dorongan dari kemitraan baru dengan Coinbase serta meningkatnya minat pada perdagangan pre-IPO di HIP-3.

SpaceX juga baru melantai untuk perdagangan pre-IPO di Hyperliquid dan langsung mencatat volume $40 juta dalam 12 jam. Dalam pembaruan pasar terbaru, kontrak SpaceX dibuka di valuasi $2,1 triliun dengan volume yang sama.

Lonjakan aktivitas itu ikut menarik perhatian pelaku pasar tradisional. Bloomberg melaporkan CME Group dan Intercontinental Exchange secara privat melobi CFTC dan anggota Kongres untuk mengekang Hyperliquid, dengan alasan struktur desentralisasi dan perdagangan yang relatif anonim bisa membuka ruang manipulasi harga atau pelanggaran sanksi finansial.

Volume derivatif naik tajam, regulator ikut melirik

Kekhawatiran regulator muncul saat volume Hyperliquid di sektor minyak melonjak tajam. Volume kumulatif kontrak perpetual minyak naik dari $339 juta pada akhir Februari menjadi lebih dari $7,3 miliar pada 12 Maret.

Platform itu kini menguasai 34% hingga 44% pasar derivatif terdesentralisasi, dengan total volume perdagangan kuartal pertama 2026 mencapai $619 miliar. Menanggapi sorotan tersebut, Hyperliquid Policy Center menyebut kekhawatiran itu “unfounded” dan menegaskan bahwa semua transaksi tercatat penuh di onchain secara real time.

Sorotan korporasi dan aset lain tetap bergerak

Di tengah tekanan harga, Strategy mengumumkan akan membeli kembali principal senilai $1,5 miliar dari obligasi konversi 2029. Di sisi lain, Lombard Finance memindahkan lebih dari $1 miliar aset berbasis Bitcoin dari LayerZero ke Chainlink CCIP.

Pergerakan korporasi juga terlihat di pasar saham terkait kripto. Gemini naik lebih dari 25% di perdagangan premarket setelah Winklevoss bersaudara menyuntikkan $100 juta melalui Winklevoss Capital Fund dan membeli 7,14 juta saham di harga $14 per saham, dibayar sepenuhnya dengan Bitcoin.

Tekanan juga merembet ke spektrum yang lebih luas. Meme coin mayoritas berwarna merah, termasuk DOGE, SHIB, PEPE, PENGU, TRUMP, BONK, SPX, dan FARTCOIN yang semuanya turun. Di pasar NFT, kondisi relatif lebih stabil, dengan Punks naik 2% ke 33,25 ETH dan BAYC naik 1% ke 9,91 ETH.

Terkait