
Bitcoin akhirnya kehilangan seluruh kenaikan yang sempat lahir setelah kemenangan pemilihan ulang Donald Trump. Aset kripto terbesar itu terakhir berpindah tangan di $60,619, sekitar 12.6% di bawah harga penutupan hari pemungutan suara pada 5 November 2024 yang berada di sekitar $69,355.
Pergerakan ini menandai perubahan tajam dari euforia yang pernah mendorong harga Bitcoin ke level baru. Sehari sebelum pemilu, BTC ditutup di sekitar $67,793 menurut data CoinGecko, lalu melonjak ke rekor di atas $75,000 keesokan harinya dan terus naik hingga sekitar $109,000 pada Januari saat Trump dilantik untuk kedua kalinya.
Euforia yang sempat mengangkat pasar
Kenaikan awal Bitcoin banyak ditopang ekspektasi pasar terhadap pemerintahan yang lebih ramah kripto. Dorongan itu juga datang dari permintaan besar atas ETF Bitcoin, dengan aset kelolaan yang naik dari sekitar $37 miliar pada Januari 2025 menjadi lebih dari $62 miliar pada puncaknya di 2025.
Arus masuk dari perusahaan publik ikut memperkuat reli tersebut. Tren digital asset treasury yang dipopulerkan Michael Saylor lewat Strategy membuat sejumlah perusahaan berlomba menambah Bitcoin ke neraca, termasuk Trump Media and Technology Group milik Trump yang menambah $2 miliar dalam BTC dan sekuritas terkait Bitcoin pada Juli.
Dari puncak ke spiral penurunan
Momentum itu mulai berubah setelah Bitcoin menyentuh puncak sekitar $126,080 pada Oktober 2025. Beberapa hari kemudian, pasar kripto diguncang gelombang likuidasi rekor senilai $19 miliar yang memicu tekanan jual lebih dalam.
Dari atas $121,000, Bitcoin turun ke $106,000 dalam proses koreksi tersebut. Setelah sempat memantul tipis, harganya tetap lemah hingga akhir tahun dan turun lagi ke sekitar $88,000 saat kalender berganti.
Tekanan makin berat ketika investor institusional mulai menarik dana dari ETF Bitcoin pada Januari 2026. Data Farside menunjukkan penarikan bersih pada Januari saja mencapai lebih dari $1.5 miliar, setelah produk itu sempat tumbuh stabil sepanjang 2025.
Sentimen makro ikut menekan harga
Selain arus dana, pasar juga menghadapi lingkungan makro yang lebih sulit. Ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitik dari perang Iran mulai menumpuk pada Februari, sambil meningkatkan peluang kenaikan suku bunga, bukan pemotongan seperti yang sebelumnya diharapkan investor.
Perubahan ekspektasi itu memperburuk selera risiko di pasar kripto. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset yang bergerak sangat sensitif terhadap likuiditas dan sentimen.
Sinyal hati-hati dari kubu bullish
Persepsi pasar ikut berubah saat tokoh yang selama ini identik dengan tesis bullish Bitcoin mulai memberi sinyal lebih hati-hati. Pada akhir Mei, Michael Saylor melepas 32 BTC dari treasury perusahaannya senilai sekitar $2.5 juta, setelah sebelumnya sangat agresif mendukung Bitcoin.
Langkah itu sudah disampaikan lebih dulu oleh Saylor, tetapi tetap dipandang sebagai pukulan bagi sentimen pasar. Tak lama kemudian, Bitcoin jatuh di bawah $60,000 untuk pertama kalinya sejak 2024.
Saylor juga menyebut ada rotasi modal yang ia gambarkan sebagai “historical” dari kripto ke AI. Ia menempatkan lebih dari $4 miliar outflow ETF dalam waktu kurang dari sebulan sebagai salah satu alasan pelemahan Bitcoin.
Di tengah tekanan itu, Bitcoin tercatat hampir 52% di bawah rekor tertingginya. Pasar kini masih menilai apakah pengaruh Trump terhadap kripto benar-benar mulai memudar, meski ada sejumlah langkah kebijakan yang sempat memberi dukungan.
Trump sebelumnya menulis bahwa ia akan “never let crypto down,” dan GENIUS Act sudah ditandatangani menjadi undang-undang untuk memberi kejelasan regulasi bagi adopsi stablecoin. Namun rencana cadangan Bitcoin bergerak dengan pace yang disebut “deliberate,” sementara Clarity Act yang lebih luas masih jauh dari garis akhir meski sudah lolos suara komite pada Mei.





