Bioetanol E10 Dimulai 2027, Pemerintah Tak Mau Hemat Bensin Berujung Impor Etanol

Pemerintah menyiapkan pencampuran etanol sebesar 10% ke bensin atau Bioetanol E10 mulai 2027. Kebijakan ini diposisikan sebagai tahap awal sebelum kadar campuran dinaikkan menjadi E20 pada 2028-2029.

Penghematan impor bensin menjadi tujuan utama program tersebut, tetapi pemerintah menolak solusi yang memunculkan ketergantungan baru pada etanol impor. Karena itu, kesiapan industri dan bahan baku di dalam negeri menjadi syarat penting sebelum penerapan mandatori diperluas.

Penerapan Disiapkan Secara Bertahap

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih mematangkan perencanaan sebelum menaikkan kadar campuran etanol. Pola yang disiapkan mengikuti pengembangan mandatori biodiesel yang dijalankan bertahap dari B10, B20, B30 hingga B50.

“Bertahap, bertahap. Mungkin kita akan bertahap di E10 dulu ya. E10 mungkin 2027 dan langsung ke E20 ya,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026).

Tahap ProgramTarget WaktuArah Penerapan
Bioetanol E102027Penerapan awal secara bertahap
Bioetanol E202028-2029Mandatori penuh setelah persiapan industri

Rencana mandatori bioetanol sebenarnya telah diusulkan sejak 2025 dan hingga kini masih dikaji pemerintah. Tahap E10 akan menjadi masa transisi untuk menyiapkan kapasitas produksi serta rantai pasok bahan baku sebelum program E20 dijalankan lebih luas.

Industri Etanol Domestik Jadi Penentu

Pemerintah ingin pengurangan impor bahan bakar minyak, khususnya bensin, benar-benar memberi manfaat bagi perekonomian domestik. Jika kebutuhan etanol untuk campuran bensin justru dipenuhi dari luar negeri, efisiensi impor BBM dinilai tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut Bahlil, pemerintah tidak ingin menerapkan E20 tetapi etanolnya masih harus diimpor. Pernyataan itu disampaikan saat menjelaskan bahwa program pencampuran bioetanol harus berjalan seiring dengan pembangunan kapasitas produksi dalam negeri.

Dalam satu hingga dua tahun ke depan, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan industri etanol terlebih dahulu. Penerapan mandatori E20 secara penuh direncanakan setelah persiapan industri tersebut dinilai cukup.

Pasokan bahan baku yang disiapkan mencakup singkong, tebu, jagung, serta sejumlah komoditas lain. Ketersediaan bahan baku itu akan menentukan kemampuan produsen domestik memenuhi kebutuhan etanol untuk campuran bensin.

Model Tebu Fleksibel Dipelajari

Pemerintah juga menyiapkan desain perkebunan tebu yang terhubung dengan industri hilirisasi. Model pengelolaan tebu di Brasil menjadi salah satu contoh yang sedang dipelajari dalam penyusunan skema tersebut.

Dalam model yang dipertimbangkan, tebu dapat diolah menjadi gula ketika harga gula lebih tinggi di pasar. Saat harga etanol meningkat, bahan baku yang sama dapat dialihkan untuk menghasilkan etanol.

Fleksibilitas itu diharapkan memberi ruang bagi industri untuk menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar tanpa mengabaikan kebutuhan pangan dan energi. Pemerintah masih mematangkan rencana tersebut bersama sejumlah industri dan perusahaan yang akan mengembangkan skemanya.

Keberhasilan Bioetanol E10 pada 2027 akan bergantung pada kesiapan fasilitas produksi, rantai pasok, dan kecukupan bahan baku lokal. Tahap awal ini akan menjadi penanda penting sebelum pemerintah melanjutkan kebijakan menuju penerapan Bioetanol E20 pada 2028-2029.

Source: finance.detik.com
Terkait