Biaya perawatan gigi di Indonesia ternyata tidak kecil, bahkan masuk yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. Data WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dikutip Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan pengeluaran masyarakat untuk kesehatan gigi rata-rata mencapai US$1.160.
Angka itu menjadi pengingat bahwa perawatan gigi jauh lebih murah jika dilakukan sejak awal. Ketika masalah dibiarkan, perawatan medis yang dibutuhkan bisa semakin besar dan biaya pun ikut naik.
Gaya Hidup Harian Membentuk Kondisi Gigi
Praktisi kesehatan gigi drg. Zahrah Almira Cita Utami menilai banyak orang masih berharap pasta gigi bisa membuat gigi putih dengan cepat. Menurut dia, hasil semacam itu sulit terlihat jika kebiasaan pemicu noda masih terus dilakukan.
Ia menyebut merokok, minum kopi, dan mengonsumsi makanan berwarna pekat sebagai faktor yang membuat noda lebih mudah menempel pada gigi. Karena itu, pencegahan sederhana seperti berkumur dengan air putih setelah minum kopi, teh, atau minuman berwarna, serta memakai sedotan, dianggap bisa membantu mengurangi risiko perubahan warna.
Produk Perawatan Juga Perlu Dipilih Lebih Cermat
Selain kebiasaan harian, pemilihan pasta gigi juga ikut menentukan hasil perawatan. Zahrah menekankan agar konsumen tidak hanya terpaku pada busa yang banyak, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki uji laboratorium.
Ia juga mengingatkan bahwa produk yang terlalu mengandalkan bahan abrasif kasar bisa berisiko menggores enamel. Jika keluhan tidak membaik setelah perawatan mandiri, pemeriksaan ke dokter gigi menjadi langkah yang lebih aman.
| Faktor | Dampak pada Gigi | Saran |
|---|---|---|
| Merokok, kopi, makanan berwarna pekat | Noda lebih mudah menempel | Berkumur air putih, gunakan sedotan |
| Pasta gigi abrasif kasar | Berisiko menggores enamel | Pilih produk dengan uji laboratorium |
Formula Enzim Mulai Menjadi Pilihan
Di tengah tren skinification dalam perawatan gigi, konsumen kini disebut semakin memperhatikan kandungan aktif yang bekerja jangka panjang. Salah satu pendekatan yang disorot adalah pasta gigi berbasis enzim, bukan bahan abrasif berbahaya.
Beberapa kandungan seperti Papain, Dextranase, dan Lysozyme digunakan karena dinilai membantu mengangkat noda tanpa merusak lapisan pelindung gigi. Papain mengurai ikatan protein penyebab noda, Dextranase memecah plak yang menempel, dan Lysozyme membantu menjaga keseimbangan bakteri di rongga mulut.
Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, Michelle, mengatakan konsumen perlu lebih kritis agar tidak sekadar mengejar efek instan. Ia menilai pasta gigi berbahan abrasif kasar yang menjanjikan gigi putih cepat justru berisiko pada enamel dan pada akhirnya bisa memicu perawatan yang lebih mahal.
Michelle juga menyebut usmile Repair White memakai formula berbasis Enzyme Complex dengan kombinasi Papain, Dextranase, dan Lysozyme sebagai pendekatan yang lebih aman untuk membantu mengangkat noda sekaligus menjaga kekuatan alami gigi. Di tengah tingginya biaya perawatan gigi di Indonesia, kebiasaan menyikat gigi yang benar dan pemilihan produk yang tepat menjadi langkah pencegahan yang paling masuk akal.
