Keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Juli 2026 berpotensi kembali menjadi penentu arah pasar. Mayoritas ekonom dan analis memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin menjadi 6%, dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebagai pertimbangan terbesar.
Prediksi tersebut belum sepenuhnya bulat karena selisih pandangan responden relatif tipis. Skenario mempertahankan BI Rate di level 5,75% masih mendapat dukungan kuat, sehingga hasil Rapat Dewan Gubernur atau RDG Juli tetap dinanti pelaku pasar.
Mayoritas Tipis Mengarah ke Kenaikan
Survei BIG Consensus Insights yang dihimpun DataIndonesia, bagian dari Bisnis Indonesia Group, melibatkan 18 ekonom dan analis. Sebanyak 10 responden memperkirakan suku bunga acuan naik, sedangkan delapan responden menilai level saat ini masih akan dipertahankan.
Nilai tengah seluruh proyeksi berada pada level 6%, atau naik 25 basis poin dari BI Rate 5,75%. Apabila terealisasi, level itu akan sama dengan posisi suku bunga acuan pada Desember 2024.
| Proyeksi RDG Juli 2026 | Jumlah Responden | Persentase |
|---|---|---|
| BI Rate naik menjadi 6% | 10 | 55,56% |
| BI Rate bertahan di 5,75% | 8 | 44,44% |
Komposisi proyeksi itu memperlihatkan pasar belum melihat keputusan Juli sebagai langkah yang sepenuhnya pasti. Bank Indonesia masih dihadapkan pada beberapa risiko makroekonomi yang bergerak bersamaan, mulai dari kurs hingga aliran dana asing.
Rupiah Menjadi Faktor Paling Dominan
Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor dengan bobot tertinggi dalam pertimbangan responden, yakni 32,61%. Angka tersebut lebih besar dibandingkan arus modal asing, inflasi domestik, arah suku bunga The Fed, maupun risiko geopolitik.
Arus modal asing berada di posisi kedua dengan bobot 19,57%. Kondisi ini menunjukkan pergerakan dana investor dan ketahanan rupiah dipandang saling berkaitan dalam menentukan ruang kebijakan moneter.
| Faktor Pertimbangan | Bobot |
|---|---|
| Stabilitas nilai tukar rupiah | 32,61% |
| Arus modal asing | 19,57% |
| Inflasi domestik | 15,22% |
| Kebijakan suku bunga The Fed | 15,22% |
| Risiko geopolitik | 8,7% |
Inflasi domestik dan kebijakan suku bunga The Fed masing-masing memperoleh bobot 15,22%. Risiko geopolitik juga tetap diperhitungkan dengan bobot 8,7%, meski berada di bawah faktor nilai tukar dan arus modal.
Selain lima faktor utama tersebut, responden turut mencermati pertumbuhan ekonomi domestik, harga komoditas, dan likuiditas perbankan. Dengan begitu, keputusan suku bunga tidak hanya bergantung pada perkembangan inflasi.
Sinyal Hawkish Masih Kuat
Sebanyak 77,78% responden menilai arah kebijakan moneter BI ke depan masih cenderung hawkish. Pandangan ini mengarah pada kemungkinan suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama hingga tekanan terhadap stabilitas makroekonomi mereda.
Kelompok yang mendukung kenaikan ke 6% melihat langkah itu dapat memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi. Sementara itu, pihak yang memproyeksikan suku bunga tetap menilai BI masih memiliki ruang untuk menahan level 5,75%.
Sepanjang semester I-2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi sebelum keputusan kebijakan berikutnya ditetapkan.
RDG Juli dijadwalkan mengumumkan keputusan pada 22 Juli 2026. Hasilnya akan menjadi sinyal penting bagi pasar dalam menilai respons Bank Indonesia terhadap rupiah, arus modal, dan inflasi yang masih menjadi perhatian utama.
