Bebek Mandarin sering membuat orang terkejut karena justru jantannya tampil paling menonjol. Warna bulunya yang cerah dan bentuk tubuhnya yang khas membuat spesies ini tampak jauh berbeda dari bayangan umum tentang bebek.
Di balik tampilan yang mencuri perhatian, ada fakta reproduksi dan perilaku hidup yang tidak kalah unik. Bebek ini punya pola kawin, pengeraman, hingga perlindungan anak yang membedakannya dari banyak jenis bebek lain.
Jantan tampil paling mencolok
Bebek Mandarin jantan memiliki wajah merah dan putih yang mencolok, paruh merah kecil, serta kombinasi bulu beragam. Ciri paling khasnya adalah bulu oranye terang seperti layar di punggung, ditambah dada ungu dengan dua garis putih tebal.
Betinanya justru terlihat lebih sederhana dengan bulu abu-abu dan cokelat yang membantu mereka berbaur dengan lingkungan. Saat di luar musim kawin, jantan juga berubah menjadi lebih kalem untuk mengurangi risiko terlihat predator.
Pola kawin dan pengeraman yang tidak biasa
Spesies ini berkembang biak di daerah berhutan lebat dekat danau dangkal, rawa, atau kolam. Mereka bersarang di rongga pohon dekat air, lalu betina bertelur di sana setelah kawin pada musim semi.
Satu sarang biasanya berisi sembilan hingga 12 telur yang disimpan pada bulan April atau Mei. Jantan tidak ikut mengerami telur dan akan pergi sementara sampai anak bebek menetas.
Setelah menetas, induk betina membawa anak-anaknya turun dari sarang di pohon. Anak bebek lalu mengikuti induknya ke air terdekat, tempat sang jantan biasanya sudah menunggu untuk bergabung kembali dan ikut melindungi keluarga kecil itu.
Habitat menyusut, populasinya ikut tertekan
Menurut Thai National Parks, bebek Mandarin dulu tersebar luas di Asia Timur. Namun ekspor skala besar dan rusaknya habitat hutan membuat populasinya turun tajam di Rusia Timur dan China hingga di bawah 1.000 pasang di masing-masing negara.
Jepang masih diperkirakan memiliki sekitar 5.000 pasang, sementara populasi di Asia juga bermigrasi dengan musim dingin di dataran rendah Cina timur dan Jepang selatan. Habitat favoritnya adalah tepian sungai dan danau yang berhutan lebat dan bersemak.
Spesies ini bisa ditemukan di dataran rendah dan juga mampu berkembang biak di lembah hingga ketinggian 1.500 meter. Ancaman terbesarnya datang dari penebangan kayu dan perburuan ilegal.
Banyak bebek Mandarin tertembak karena pemburu tidak mengenalinya saat terbang, padahal buruan ini bukan untuk dimakan melainkan karena keindahannya.
Betina bisa berubah menjadi jantan
Salah satu fakta paling langka dari bebek Mandarin adalah kemampuan betina berubah menjadi jantan jika ovarium fungsionalnya gagal. Meski demikian, jantan baru itu tetap mandul.
Spesies ini juga tidak bisa kawin silang dengan bebek lain karena perbedaan jumlah kromosom. Bebek Mandarin mencari makan dengan mencelupkan kaki ke air atau berjalan di darat.
Menu utamanya terdiri dari tumbuhan, biji-bijian, biji pohon beech, serta tambahan siput, serangga, dan ikan kecil. Pola makannya berubah sesuai musim, dengan biji ek dan biji-bijian lebih banyak dimakan pada musim gugur dan musim dingin.
Pada musim semi dan panas, menu mereka bergeser ke serangga, ikan, tumbuhan air, cacing tanah, katak, moluska, hingga ular kecil.
Dipandang sebagai simbol kesetiaan
Dalam budaya Tionghoa, bebek Mandarin disebut yuanyang dan dipandang sebagai lambang pasangan seumur hidup. Karena itu, spesies ini sering dikaitkan dengan kasih sayang, kebahagiaan, dan kesetiaan suami istri.
Simbolnya juga muncul dalam seni dan pernikahan Tiongkok. Dalam tradisi itu, bebek Mandarin kerap dipakai sebagai metafora pasangan yang saling mencintai, termasuk lewat peribahasa “Dua bebek Mandarin bermain di air”.
Di alam liar, usia bebek Mandarin umumnya tiga hingga enam tahun. Di penangkaran, mereka dapat bertahan hidup hingga 10 tahun.
Source: www.idntimes.com






