Ban Pirelli Jadi Sensor Jalanan, Bisa Kirim Peringatan Lubang Dan Es Ke Mobil Di Belakang

Author: Cung Media

Pirelli sedang mendorong ban keluar dari peran lamanya sebagai komponen pasif. Lewat Cyber Tire, perusahaan ini ingin menjadikan ban sebagai sensor jalan yang aktif membaca kondisi permukaan lalu mengirimkan datanya ke mobil dan ke cloud.

Teknologi itu dibawa ke SelectUSA Investment Summit sebagai bagian dari pameran Pirelli. Perusahaan Italia tersebut juga mengambil 30 persen saham perusahaan AI asal Swedia, Univrses, untuk memperkuat integrasi computer vision ke dalam sistem ini.

Ban yang mampu membaca jalan

Pirelli menyebut Cyber Tire sebagai sistem hardware dan software pertama di dunia yang dapat mengumpulkan data dari sensor di dalam ban. Data itu kemudian diproses dengan software dan algoritma milik Pirelli sebelum dikirim secara real time ke elektronik kendaraan.

Alur tersebut membuat ban punya fungsi yang lebih luas daripada sekadar menopang mobil. Pirelli menargetkan teknologi ini bukan hanya untuk meningkatkan pengalaman berkendara, tetapi juga untuk menaikkan keselamatan dan mendukung infrastruktur terhubung.

Piero Misani, chief technical officer sekaligus kepala bisnis Cyber Tire di Pirelli, mengatakan sensor akselerasi di dalam ban dapat mendeteksi gaya, kondisi jalan, kekasaran permukaan, ketidakteraturan, hingga lubang. Ia juga menyebut sistem ini mampu mengenali air, es, dan salju di jalan.

Data ban untuk kendaraan lain

Salah satu daya tarik utama Cyber Tire adalah kemampuan berbagi informasi ke kendaraan lain. Pirelli mengatakan data dari ban ini bahkan bisa dikirim ke mobil di belakang untuk memberi peringatan soal lubang, hujan, salju, dan es.

Informasi itu dapat membantu pengemudi menyesuaikan cara berkendara sebelum melewati titik berbahaya. Misani menjelaskan bahwa mobil akan makin terhubung satu sama lain, sehingga data dari ban tidak hanya berguna untuk steering dan braking control pada mobil itu sendiri.

Ia juga menempatkan Cyber Tire dalam kerangka V2X, atau vehicle to everything, yaitu ekosistem yang membuat mobil dapat saling berbicara dan berkomunikasi dengan infrastruktur di sekitarnya. Dalam konteks itu, ban berubah menjadi bagian dari jaringan data yang lebih luas.

Tantangan teknis yang tidak ringan

Pengembangan sistem ini membutuhkan waktu panjang. Misani mengatakan Pirelli sudah bekerja mengumpulkan data dari ban sejak 2000, atau lebih dari 25 tahun, untuk mencapai tingkat teknis yang dibutuhkan.

Sensor di dalam ban juga harus tahan menghadapi kondisi ekstrem. Pirelli menyebut akselerometer itu harus mampu menahan beban hingga 1000 g dan tetap bekerja saat ban berputar pada kecepatan 270 km/jam atau 168 mph.

Ada pula batasan bobot yang sangat ketat. Total sensor harus ringan, kurang dari 14 gram termasuk baterai, sementara baterainya sendiri harus bertahan sepanjang umur ban meski bekerja di lingkungan dengan g-force tinggi.

Arah produksi ke Amerika Serikat

Pirelli mengatakan Cyber Tire akan dibuat di pabriknya di Rome, Georgia, tetapi perusahaan belum memberi tanggal spesifik untuk memulai produksi. Meski demikian, penempatan produksi di Amerika Serikat menjadi tanda penting untuk strategi komersialisasi teknologi ini.

Claudio Zanardo, CEO Pirelli North America, menyebut dimulainya produksi Cyber Tire di Rome, Georgia, sebagai tonggak penting bagi Pirelli di negara itu. Ia menilai langkah tersebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk membawa teknologi canggih lebih dekat ke pasar.

Di atas kertas, Cyber Tire menunjukkan arah baru transportasi beroda yang makin terhubung. Ban tidak lagi hanya menjadi penopang kendaraan, tetapi juga sumber data yang membantu pengemudi, kendaraan lain, dan infrastruktur merespons kondisi jalan dengan lebih cepat.

Terbaru