Bamako dan sejumlah wilayah di Mali kembali diguncang serangan mendadak yang memaksa pasukan junta bertempur di dua front sekaligus. Di sekitar ibu kota, suara tembakan terdengar di beberapa titik penting, sementara di utara kelompok Tuareg dalam koalisi Front Pembebasan Azawad atau FLA mengklaim telah menguasai Kidal.
Militer Mali menyebut serangan itu menyasar “titik-titik tertentu dan barak” di Bamako serta wilayah pedalaman. Tentara juga meminta warga tetap waspada karena pasukan pertahanan dan keamanan sedang berupaya “menghancurkan para penyerang”.
Baku tembak meluas ke titik strategis
Laporan saksi mata menggambarkan baku tembak yang intens di kota dekat Bamako dan terdengar pula di beberapa pusat penting lain, termasuk Gao, Kidal, dan Sevare. Suara senjata berat juga muncul di Kati, kawasan pinggiran Bamako yang menjadi lokasi kediaman pemimpin junta, Jenderal Assimi Goita.
Meski militer menyatakan situasi telah terkendali, tembakan sporadis masih terdengar dan helikopter terus berputar di atas ibu kota. Tentara kemudian mengatakan sejumlah penyerang telah “dinetralkan” dan peralatan mereka dihancurkan.
Seorang warga menyebut kelompok bersenjata sempat merebut kamp militer di lingkungan Samakebougou, Kati, dan pertempuran berlangsung sangat sengit. Hingga laporan ini disusun, keberadaan Goita belum diketahui.
Kekhawatiran menyasar pejabat tinggi
Ketegangan juga merembet ke lingkaran pejabat militer. Warga sempat menyebut ledakan besar merusak sebagian besar rumah Menteri Pertahanan Jenderal Sadio Camara di Kati, tetapi rombongannya menegaskan ia tidak berada di lokasi dan dalam keadaan aman.
Di sekitar bandara internasional, helikopter terlihat melintas dan pertempuran dilaporkan terjadi di dekat sebuah pangkalan militer. Jalan-jalan di Bamako tampak sepi karena warga memilih berlindung saat tembakan masih terdengar di beberapa titik.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mali kemudian mengeluarkan peringatan keamanan. Kedutaan meminta warga AS di dalam maupun sekitar Bamako untuk “berlindung di tempat” sampai situasi membaik.
Utara Mali kembali memanas
Di sisi lain, FLA menyatakan lewat Facebook bahwa “kota Kidal telah berada di bawah kendali pasukan kami.” Juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, mengatakan kepada AFP bahwa pasukannya menguasai Kidal dan sebagian besar wilayah kota itu.
Ramadane juga menyebut gubernur Kidal berlindung bersama pasukannya di bekas kamp MINUSMA, misi PBB yang sebelumnya bertugas di Mali. Ia bahkan mengunggah foto yang diklaim memperlihatkan kamp militer di Kidal yang ditempati “tentara bayaran Rusia” dan tentara Mali.
Junta Mali sendiri menganggap FLA sebagai kelompok “teroris”. Situasi ini membuat pemerintah militer harus menghadapi tekanan dari dua arah, yakni separatismenya kelompok Tuareg di utara dan serangan kelompok jihad yang terus berdenyut di wilayah lain.
Tekanan jihad mempersempit ruang gerak junta
Pengamat menilai kelompok Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM, yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, belakangan berupaya menjalin kerja sama dengan FLA. Sejak September, JNIM juga menyerang konvoi truk tangki bahan bakar yang menuju ibu kota.
Serangan atas jalur pasokan itu sempat melumpuhkan Bamako pada Oktober dan kembali memicu kelangkaan solar pada Maret, dengan pasokan diprioritaskan untuk sektor energi. Gangguan ini menunjukkan betapa rapuhnya Mali terhadap serangan yang menyasar logistik vital dan stabilitas ibu kota.
Negara yang kaya emas dan mineral lain itu sudah bergulat dengan kekerasan sejak 2012. Serangan kelompok jihad yang terkait Al-Qaeda dan Islamic State, ditambah kelompok kriminal berbasis komunitas dan separatis, terus menekan keamanan nasional.
Junta lalu menggunakan krisis itu sebagai alasan untuk mengambil alih kekuasaan. Sejak kudeta pada 2020 dan 2021, pemerintah militer memutus hubungan dengan bekas penguasa kolonial Prancis dan sejumlah negara Barat, lalu mendekat ke Rusia dalam bidang politik dan militer.
Rusia sebelumnya menempatkan Wagner Group untuk membantu pasukan Mali melawan jihadis sejak 2021. Namun, kelompok itu menghentikan keterlibatannya pada Juni 2025 dan kemudian bertransformasi menjadi Africa Corps di bawah kendali langsung kementerian pertahanan Rusia.
Junta sempat berjanji menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil pada Maret 2024, tetapi pada Juli 2025 Goita diberi masa jabatan presiden lima tahun yang dapat diperbarui “sebanyak yang diperlukan” tanpa pemilu. Di tengah pertempuran yang belum selesai, langkah itu memperkuat kendali militer saat Bamako dan utara Mali sama-sama berada dalam tekanan berat.







