Industri asuransi syariah masih menghadapi tekanan di sisi kontribusi, tetapi prospeknya belum suram. Hingga akhir 2026, pelaku usaha melihat ruang pemulihan tetap terbuka selama daya beli terjaga dan aktivitas ekonomi terus bergerak.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan awal 2026 masih berat, namun ada perbaikan pada Mei ketika kontribusi tumbuh 18,10% year on year menjadi Rp9,15 triliun. Meski begitu, angka itu masih di bawah capaian Mei 2025 yang sebesar Rp11,17 triliun.
Tekanan belum benar-benar hilang
Sepanjang Januari hingga April 2026, pertumbuhan kontribusi industri masih berada di zona negatif. Penurunan terdalam terjadi pada Januari 2026 sebesar -44,77% year on year menjadi Rp2,08 triliun, lalu Februari 2026 minus 28,83% year on year menjadi Rp3,57 triliun.
Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia, Fauzi Arfan, menilai peluang pertumbuhan tetap ada jika ekosistem keuangan syariah makin berkembang. Dalam keterangannya kepada Bisnis pada Senin (13/7/2026), ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat sebagai fondasi utama industri.
| Periode | Pertumbuhan Kontribusi | Nilai Kontribusi |
|---|---|---|
| Januari 2026 | -44,77% YoY | Rp2,08 triliun |
| Februari 2026 | -28,83% YoY | Rp3,57 triliun |
| Mei 2026 | 18,10% YoY | Rp9,15 triliun |
Fauzi mengatakan perusahaan perlu memperbaiki kualitas layanan, tata kelola, literasi keuangan syariah, dan produk agar lebih bernilai tambah. Menurut dia, pertumbuhan yang sehat tidak cukup diukur dari besar kecilnya kontribusi yang dihimpun.
Industri bergeser ke kualitas bisnis
Kualitas portofolio bisnis, kesehatan dana tabarru’, dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kepada peserta disebut sama pentingnya dengan pertumbuhan kontribusi. Di sisi investasi, perusahaan juga diminta tetap berhati-hati karena pasar keuangan masih dipengaruhi dinamika ekonomi global dan domestik.
AASI mendorong diversifikasi portofolio, tata kelola investasi yang baik, serta pengelolaan aset dan liabilitas yang seimbang. Inovasi produk juga tetap dibutuhkan agar layanan asuransi syariah relevan dengan kebutuhan masyarakat tanpa keluar dari prinsip syariah.
Kenaikan kontribusi pada Mei 2026 dibaca AASI sebagai tanda aktivitas ekonomi dan bisnis mulai menguat di banyak lini usaha. Peningkatan pemasaran, distribusi, dan akuisisi bisnis baru ikut memberi dorongan pada perbaikan tersebut.
Perusahaan bersiap menjaga momentum
Di segmen jiwa syariah, anggota AASI bertahap memperkuat produk tradisional berbasis perlindungan sebagai pelengkap maupun alternatif unitlink. Sementara di asuransi umum syariah, produk properti dan kendaraan bermotor masih menjadi penopang utama pertumbuhan kontribusi.
PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk atau JMA Syariah juga melihat kontribusi masih berpeluang melanjutkan tren positif hingga akhir 2026. Direktur Utama Basuki Agus mengatakan perusahaan memperkuat kanal distribusi, mengembangkan produk yang relevan, dan memperluas edukasi serta literasi asuransi syariah.
Hingga Mei 2026, JMA Syariah mencatat tren kontribusi yang lebih baik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar perseroan masih berasal dari produk asuransi jiwa kumpulan yang dipasarkan lewat berbagai kemitraan strategis.
Di saat yang sama, perusahaan juga mendorong pertumbuhan bisnis individu agar portofolionya lebih seimbang dan berkelanjutan. Basuki menyebut tantangan utama industri masih datang dari kondisi ekonomi yang dinamis, persaingan yang ketat, serta literasi dan inklusi keuangan syariah yang belum tinggi.
PT Asuransi Jasindo Syariah menilai prospek semester II/2026 tetap baik. Sekretaris Perusahaan Wahyudi mengatakan aktivitas ekonomi domestik, penguatan ekosistem keuangan syariah, dan meningkatnya kebutuhan perlindungan menjadi modal positif bagi industri.
Jasindo Syariah menempatkan underwriting yang prudent, pengelolaan portofolio yang optimal, dan kolaborasi strategis sebagai fokus bisnis. Wahyudi menilai kebutuhan terhadap produk asuransi syariah masih cukup tahan karena aktivitas ekonomi tetap berjalan dan kebutuhan mitigasi risiko terus ada.
Pasar masih punya ruang, tapi tantangannya nyata
Praktisi asuransi syariah Erwin Noekman melihat pasar semakin menjanjikan karena volume bisnis bertambah. Ia juga menyoroti berkurangnya pelaku usaha akibat pemisahan Unit Usaha Syariah atau spin off yang diwajibkan paling lambat akhir 2026.
Erwin menambahkan bahwa produk yang mengarah ke ESG, SDGs, dan philanthropy sejalan dengan karakter asuransi syariah. Menurut dia, industri juga memerlukan SDM yang kompeten dan digitalisasi agar layanan lebih mudah dijangkau.
Dengan kombinasi tekanan kontribusi dan sejumlah sinyal perbaikan, arah industri asuransi syariah hingga akhir 2026 masih bergantung pada daya beli, aktivitas ekonomi, dan kemampuan perusahaan menjaga kualitas bisnis sekaligus memperluas pasar.
Source: finansial.bisnis.com






