Aston Villa mengambil langkah komersial besar dengan mengumumkan kerja sama sponsor utama baru bersama Visit Rwanda. Nilai kontrak ini mencapai £20 juta atau sekitar Rp411 miliar per tahun, dan logo Visit Rwanda akan tampil di bagian depan jersey tim putra, putri, serta akademi.
Kabar ini langsung memicu perdebatan karena sponsor tersebut datang dengan beban reputasi yang tidak ringan. Di tengah ambisi memperluas jangkauan global, Villa kini justru terseret ke diskusi yang melampaui urusan bisnis semata.
Pengganti Betano dan dorongan ekspansi
Kesepakatan multitahun ini hadir saat Aston Villa mencari pengganti Betano, sejalan dengan kebijakan klub menghapus sponsor judi dari bagian depan jersey pertandingan mulai akhir musim lalu. Bagi klub Liga Primer Inggris itu, kontrak baru ini diposisikan sebagai dorongan besar untuk ekspansi internasional.
Presiden Operasi Bisnis Aston Villa, Francesco Calvo, bahkan menyebut kerja sama tersebut sebagai “kemitraan paling penting dalam sejarah klub”. Namun, pernyataan itu segera diikuti kritik dari berbagai pihak yang menilai pilihan sponsor ini tidak bisa dipisahkan dari konteks politik Rwanda.
Isu sportswashing ikut menyeret nama Villa
Amnesty International memperingatkan bahwa Rwanda memanfaatkan kemitraan olahraga untuk melakukan sportswashing, yakni membangun citra positif sambil menutupi catatan hak asasi manusia di negara itu. Felix Jakens, Kepala Kampanye Amnesty International Inggris, mengatakan Aston Villa seharusnya memahami pola tersebut.
“Negara ini kerap melakukan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penindasan terhadap kebebasan berbicara,” ujar Jakens kepada BBC Sport. Kritik itu membuat kerja sama baru Villa tidak hanya dibaca sebagai kesepakatan bisnis, tetapi juga sebagai keputusan etis yang sensitif.
Jejak Visit Rwanda di sepak bola Eropa
Aston Villa bukan klub pertama yang memakai nama Visit Rwanda di jersey atau program kemitraan mereka. Sebelumnya, merek ini juga hadir di Arsenal, Paris Saint-Germain, dan Bayern Muenchen, sementara Atletico Madrid ikut menandatangani kontrak pada April 2025.
| Klub | Status Kemitraan |
|---|---|
| Arsenal | Akan berakhir pada musim 2025-26 setelah delapan tahun |
| Paris Saint-Germain | Diperpanjang pada April 2025 hingga 2028 |
| Bayern Muenchen | Beralih dari sponsor komersial ke fokus pengembangan akademi di Kigali |
| Atletico Madrid | Menandatangani kontrak tiga tahun pada April 2025 |
Kontroversi ini juga meluas ke ranah geopolitik karena Rwanda tengah menghadapi tekanan internasional terkait konflik di Republik Demokratik Kongo. Negara itu telah mengajukan kasus ke Mahkamah Internasional pada bulan lalu.
Dalam pengajuannya, Republik Demokratik Kongo menuduh Rwanda melanggar berbagai perjanjian internasional dengan mengirimkan pasukan dan mendukung kelompok bersenjata M23 untuk operasi militer ilegal di wilayah mereka. Di sisi lain, Dewan Pengembangan Rwanda membantah tuduhan itu dan menyebut inisiatif Visit Rwanda sebagai bukti komitmen terhadap perdamaian dan pertumbuhan inklusif.
Bagi Aston Villa, sponsor baru ini memang membawa keuntungan finansial yang jelas. Tetapi bersamaan dengan itu, klub juga harus menanggung risiko reputasi yang tidak kecil di tengah sorotan publik yang kian tajam.
Source: mediaindonesia.com






