Asinan keluarga yang lahir dari dapur rumahan pada 1970 kini melangkah jauh dari sekadar hidangan keluarga. Di tangan Inna Sri Sugiati, produk Niekting berubah menjadi asinan fermentasi yang bisa menembus pasar Kuala Lumpur, Malaysia.
Perjalanan itu tidak singkat. Resep yang dulu diracik Tien Hamsini sempat lama berhenti diproduksi sebelum Inna menghidupkannya kembali pada 2019 dengan pendekatan yang lebih terukur dan lebih siap bersaing.
Dari warisan rumah ke produk fermentasi
Asinan ini sempat punya masa kejayaan ketika produk keluarga itu dikenal tetangga, kerabat, ekspatriat, hingga pernah disajikan di kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Namun, usaha tersebut mati suri pada 1990 karena keterbatasan sumber daya manusia.
Inna tidak memilih jalan sekadar menyalin resep lama. Berbekal latar belakang keluarga dan pendidikannya di sekolah asisten apoteker, ia mengubah asinan itu menjadi produk berbasis fermentasi dengan formula yang lebih terukur.
Komposisinya terdiri dari bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin dengan bumbu kacang. Proses fermentasi berlangsung lewat perendaman bahan baku dan sayuran selama dua hingga tiga hari agar menghasilkan bakteri baik untuk pencernaan.
Tumbuh di tengah pandemi
Niekting resmi diluncurkan ke pasar pada Oktober 2020, tepat saat pandemi COVID-19 masih membatasi banyak usaha kuliner. Meski begitu, Inna mampu memproduksi sekitar 1.000 pcs per bulan untuk pasar Jabodetabek.
Untuk menjaga produksi tetap berjalan, ia melibatkan lima pekerja utama yang bekerja secara fleksibel sesuai kebutuhan. Pola kerja per batch dipakai agar usaha tetap efisien dan para pekerja yang punya tanggung jawab lain tetap bisa ikut terlibat.
Perubahan lain terlihat pada kemasan. Setelah sempat menggunakan styrofoam di awal usaha, Niekting kini memakai thin wall dan standing pouch yang bisa bertahan lebih dari dua bulan.
Dari ruang penyimpanan bersuhu 4-7 derajat celsius, produk ini disebut mampu bertahan selama perjalanan hingga tiga hari sampai diterima pelanggan. Ini menjadi lompatan besar dibanding masa usaha sang ibu yang masih mengandalkan rantang untuk pengiriman jarak dekat.
Didorong pendampingan dan ekosistem digital
Perkembangan Niekting ikut ditopang pembinaan Rumah BUMN BRI. Inna tertarik bergabung setelah melihat informasi pelatihan di media sosial dan mendatangi langsung Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat.
Di sana, ia mendapat pendampingan berjenjang yang mencakup perbaikan konten, pengaturan keuangan, fasilitasi foto produk, hingga penguatan manajemen usaha saat lonjakan permintaan. Baginya, perubahan terbesar justru ada pada cara pandang bisnis yang kini lebih seperti entrepreneur.
Pemasaran Niekting juga melebar lewat PaDi UMKM, platform B2B yang membuka peluang pemesanan langsung dari kantor perusahaan BUMN untuk kebutuhan korporat. Jejak produknya makin terlihat setelah ikut bazar di Sarinah Thamrin Jakarta dan KTT ASEAN 2023.
Berkat kurasi dan fasilitasi Rumah BUMN BRI, asinan fermentasi Niekting bahkan berhasil masuk pasar Kuala Lumpur, Malaysia. Capaian ini memperlihatkan bagaimana produk keluarga bisa naik kelas ketika dipadukan dengan pembinaan yang tepat.
Usaha yang memikirkan limbah
Pertumbuhan bisnis itu juga dibarengi perhatian pada limbah produksi. Niekting memisahkan sisa organik seperti kulit bengkoang, bonggol kol, dan minyak jelantah dari penggorengan bumbu kacang.
Sisa tersebut kemudian diolah bersama Arnetta Craft, komunitas pengolahan limbah asal Jakarta Timur yang dipimpin Chevie Mawarti. Hasilnya menjadi eco-enzyme, karbol, sabun lerak, hingga lilin yang juga punya nilai ekonomi.
Produk olahan limbah itu bahkan rutin diserap beberapa perusahaan BUMN dalam jumlah besar untuk goodie bag atau hampers korporat. Dengan begitu, rantai usaha Niekting berkembang melampaui bisnis asinan semata.
Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, menyebut pembinaan diberikan gratis untuk membantu UMKM dari awal sampai naik kelas. Peserta baru diarahkan mengisi penilaian di Link UMKM agar kekuatan dan kelemahan usaha bisa dipetakan sebelum masuk pelatihan lanjutan.
Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman menaungi sekitar 11.000 UMKM, dengan sekitar 6.000 di antaranya aktif mengikuti program pelatihan. Tahapan pengembangannya mencakup Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.







