
Pemerintah Amerika Serikat menyiapkan fasilitas karantina Ebola di Kenya untuk warga Amerika yang terpapar atau terinfeksi virus tersebut. Langkah darurat ini diambil saat wabah di Kongo kembali memicu kekhawatiran, sementara otoritas AS juga memperketat penyaringan di sejumlah bandara.
Fasilitas itu disusun agar warga AS di wilayah terdampak bisa mendapat perawatan lebih cepat tanpa harus langsung menempuh perjalanan panjang pulang ke Amerika Serikat. Seorang pejabat pemerintahan Trump menyebut opsi ini juga menghindarkan risiko perjalanan udara medevac yang dapat memakan waktu lebih dari 12 jam.
Koordinasi dengan pemerintah Kenya
Pejabat pemerintahan lain mengatakan fasilitas tersebut disiapkan untuk menampung individu tanpa gejala yang mungkin telah terpapar Ebola. Rencana ini dijalankan bersama pemerintah Kenya untuk memastikan proses karantina dan penanganan berjalan terkoordinasi.
CDC mengonfirmasi kepada CBS News bahwa warga negara Amerika tidak akan diizinkan kembali ke AS sebelum dinyatakan lolos dari karantina. Seorang mantan pejabat CDC yang pernah menangani respons Ebola menilai akan sangat tidak etis dan tidak bertanggung jawab jika warga AS dibiarkan terkatung-katung di Kenya.
Ia menyoroti bahwa Kenya tidak memiliki fasilitas penahanan Level 4 yang memadai atau banyak pengalaman menangani Ebola. Kondisi itu membuat kebutuhan akan fasilitas karantina dan observasi medis menjadi semakin penting bagi warga yang terpapar.
Wabah di Kongo dan pengawasan di bandara AS
Lebih dari 230 orang di Kongo diyakini telah meninggal akibat Ebola dalam wabah terbaru. Situasi ini mendorong respons tambahan dari pemerintah AS, terutama untuk mencegah kasus masuk lebih jauh ke wilayah Amerika.
Sejumlah bandara besar di AS mulai melakukan skrining tambahan bagi penumpang internasional yang baru berada di Kongo, Sudan Selatan, atau Uganda. Bandara yang menjalankan pemeriksaan itu antara lain Hartsfield-Jackson di Atlanta, Dulles di luar Washington, D.C., dan George Bush Intercontinental di Houston.
Bandara Internasional John F. Kennedy di New York juga diperkirakan mulai melakukan pemeriksaan terhadap penumpang internasional pada Jumat. Langkah ini menjadi bagian dari pengawasan pintu masuk saat kekhawatiran terhadap penyebaran Ebola meningkat.
Di Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan berbagai lembaga pemerintah bekerja keras untuk menahan wabah agar tetap berada di wilayah tempat wabah itu saat ini. Ia menegaskan, “Kami tidak bisa dan tidak akan membiarkan kasus Ebola masuk ke Amerika Serikat.”
Kapasitas perawatan dan pemindahan lanjutan
Pejabat pemerintahan Trump mengatakan fasilitas di Kenya akan membantu warga Amerika di kawasan tersebut yang tertular Ebola agar bisa menerima perawatan secepat mungkin. Fasilitas itu juga diperkirakan mampu menangani spektrum penuh penyakit, termasuk kebutuhan perawatan kritis.
Setiap kasus akan dievaluasi untuk kemungkinan pemindahan lanjutan ke fasilitas yang lebih maju bila diperlukan. Skema ini dimaksudkan untuk memaksimalkan hasil perawatan pasien sekaligus menjaga risiko penularan tetap terkendali.
Dengan penempatan fasilitas di Kenya, AS menempatkan negara itu sebagai titik transit medis dan karantina dalam upaya menahan penyebaran lebih jauh. Seorang dokter Amerika yang terinfeksi Ebola saat bekerja dengan organisasi misi medis di Republik Demokratik Kongo sebelumnya telah dievakuasi ke Jerman dan mengatakan kondisinya “cautiously optimistic” saat menjalani perawatan di rumah sakit.





